Pukul 06.42.
Alga berdiri di trotoar depan pintu kaca IGD RS Bumi Sentosa. Udara pagi dingin, kabut tipis menggantung di atas tempat parkir. Lampu IGD menyala kuning hangat di balik kaca, dan dari dalam terdengar samar denting monitor, langkah perawat, kehidupan yang tak pernah berhenti.
Setahun yang lalu, di jam yang sama persis, di trotoar yang sama, ia berdiri di sini dengan lutut lemas dan telapak basah. Setahun yang lalu ia hampir berbalik pulang. Hampir menyerah sebelum mulai. Seorang anak dengan jas terlalu bersih, takut tak cukup, takut pada darah, takut pada kematian, takut pada gemetar tangannya sendiri.
Banyak yang terjadi di antara dua pagi itu.
Ia memikirkannya sekarang, dalam diam, sebelum melangkah masuk. Stempel ungu "BS" di sudut status. Bu Sulastri, STEMI inferior yang dicoret jadi "maag". Penjemputan di gang dengan Renjana, dihadang Wirya. Kartu akses dari tangan keriput Pak Gunawan. Ruang B2 dan ribuan map ungu. Buku catatan kulit. Tiga nama bertinta baru. Alarm kebakaran. Gunawan yang tertinggal, yang koma, yang akhirnya mati sebagai saksi—bukan korban yang dibuang. Sekar yang memihak. dr. Hartono yang menebus dosa. AKP Bayu yang tak bisa dibeli. Ratna dan tajuknya, "Dipulangkan untuk Mati". Wirya yang menyeberang. Damar yang jatuh. Bu Halimah dan Yayasan yang akhirnya tumbang. Sidang. Vonis. Surat dari Larasati.
Dan luka-lukanya. Wajah-wajah di belakang matanya. Pasien yang tak sempat ia selamatkan. Gunawan di pemakaman. Larasati yang tak pernah ia temui tapi yang pundaknya kini ia pijaki.
Pintu kaca itu memantulkan bayangannya. Dan ia melihat seorang dokter—bukan anak yang ketakutan lagi. Seseorang yang pernah gagal, pernah kehilangan, pernah hancur. Tapi tak pernah, sekali pun, memilih diam.
Renjana datang dari arah parkir, melangkah ke sampingnya. Jas putih, papan nama yang sama, wajah yang dulu datar karena terlalu sering melihat kematian—kini masih lelah, tapi tak lagi mati. Ia berhenti di sebelah Alga, menatap pintu kaca yang sama.
"Kamu di sini lagi," kata Renjana. "Pagi-pagi. Melamun di pintu seperti hari pertamamu."
"Lagi kebiasaan," kata Alga. "Tapi alasannya beda sekarang."
Renjana mengikuti pandangannya ke dalam IGD. Di nurse station, Sekar sudah memulai operan jaga. Di salah satu bilik, Raka—internsip baru—membaca EKG dengan kening berkerut, tangannya tak lagi gemetar. Map-map status berwarna putih, jujur, tak satu pun dicoret. Tak ada stempel ungu. Tak ada B2 yang menanti di bawah tanah. Hanya rumah sakit yang menyembuhkan, sebagaimana seharusnya, sebagaimana yang Larasati impikan dan mati untuknya.
Sebuah ambulans menderu masuk dari kejauhan, sirenenya menajam. Pasien datang. Hari dimulai.
Renjana menarik napas, menatap sirene yang mendekat, lalu berkata dengan nada yang Alga kenal—nada konsulen yang dulu menyambutnya di hari pertama dengan kalimat dingin yang sama.
"Pagi ini akan panjang."
Alga teringat. Setahun lalu, kalimat itu membuatnya gemetar. Kalimat itu terdengar seperti ancaman, seperti beban yang terlalu berat untuk pundak yang belum siap.
Pagi ini, ia tersenyum.
Ia mengencangkan stetoskop di lehernya, menarik napas pagi yang dingin, dan menatap pintu kaca yang setahun lalu hampir ia munduri. Tangannya tak basah. Lututnya tak lemas. Di belakangnya, kebenaran sudah menang—lewat bukti, lewat hukum, lewat keberanian orang-orang biasa, bukan lewat kebohongan. Di depannya, sebuah pintu, sebuah gerbang, dan nyawa yang menunggu untuk dijaga.
"Saya siap," kata Alga.
Lalu pintu kaca itu membuka, dan dokter Alga Mahendra melangkah masuk—bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk menyelamatkan; bukan dengan ragu, tapi dengan sumpah yang sudah teruji dan ditepati. Di belakangnya, Renjana mengikuti. Ambulans berhenti. Brankar didorong turun. Dan di gerbang antara hidup dan mati, dua dokter berdiri menjaganya—kali ini, dan selamanya, dengan tangan yang mantap.
Pukul 06.42. Hari pertama, lagi. Hari pertama, selamanya.