Pukul dua dini hari, kos Arman hanya seluas tiga kali empat meter. Kasur tipis menempel di dinding yang catnya mengelupas, dan satu-satunya jendela menghadap tembok rumah tetangga, jadi siang dan malam terasa sama gelapnya. Tapi malam ini Arman tidak peduli pada gelap. Layar laptopnya menyala terang, memantul di kacamatanya yang setengah miring, dan jari-jarinya bergerak di atas keyboard seperti orang yang sedang mempertaruhkan hidupnya.
Sudah lima jam ia tidak beranjak. Gelas kopi sachet ketiga sudah dingin di sampingnya, kulitnya berkerut di permukaan. Di pojok meja, ada mie instan setengah jadi yang sengaja ia tinggalkan karena takut kehilangan momentum. Karena malam ini, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, kodenya jalan.
Arman menahan napas. Di terminal, baris demi baris log bergulir, lalu berhenti. Satu kata muncul: success. Algoritma yang ia tulis—sebuah sistem yang bisa memprediksi kebutuhan stok untuk warung dan toko kecil sebelum barang itu habis—berhasil membaca pola dari data penjualan sederhana. Bukan sekadar laporan. Tapi prediksi. Besok pagi, kira-kira berapa galon air yang akan laku. Minggu depan, kapan harus menambah stok beras. Hal-hal yang selama ini dikira-kira pemilik warung pakai feeling, sekarang bisa dihitung.
Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. Dadanya naik turun cepat. Bukan karena gugup, tapi karena ia tahu—ia benar-benar tahu—bahwa apa yang baru saja muncul di layarnya bisa mengubah hidup ratusan ribu pedagang kecil di negeri ini. Orang-orang seperti ibunya dulu, yang menjaga warung kelontong sampai larut, yang sering rugi karena salah menebak, yang modalnya menipis pelan-pelan tanpa pernah tahu di mana letak bocornya.
"Bu," gumamnya pelan ke layar, seolah ibunya bisa mendengar dari kampung, "ini buat warung-warung kayak punya Ibu dulu."
Arman bukan anak orang kaya. Ia kuliah dengan beasiswa, lulus dengan IPK tinggi, lalu menolak tawaran kerja di perusahaan besar yang gajinya bisa membuat ibunya menangis bahagia. Ia memilih pulang ke kamar kos ini, hidup dari sisa tabungan dan kerja lepas sesekali, demi satu hal yang ia sebut "kode yang berarti." Teman-temannya bilang ia gila. Mungkin benar. Tapi malam ini, kegilaan itu membuahkan sesuatu.
Ia menyimpan file dengan nama yang sudah ia siapkan sejak lama: stokpintar_core. Lalu ia menyandarkan punggung ke dinding dingin dan memejamkan mata. Di kepalanya, bukan baris kode yang berputar, melainkan wajah-wajah. Pak Haji pemilik warung di ujung gang yang tiap subuh mengeluh barangnya kosong. Bu Sari penjual sayur yang sering membuang dagangan busuk karena salah kulak. Mereka tidak butuh aplikasi keren. Mereka butuh tahu kapan harus beli, berapa harus beli.
Tapi di balik euforia, ada suara kecil yang mengganggu. Kode ini hebat, tapi ia hanya satu orang. Ia bisa menulis algoritma, ia bisa membangun mesin di belakang layar—tapi ia tahu betul dirinya buta soal tampilan. Aplikasi yang ia buat selalu jelek, kaku, susah dipakai orang awam. Dan ia sama sekali tidak mengerti bagaimana cara meyakinkan orang untuk memakainya, apalagi membayarnya.
Hujan mulai turun di luar, suara tetesannya jatuh ke seng tetangga membentuk irama tak beraturan. Arman membuka mata, menatap langit-langit yang bernoda rembesan air. Sebuah ide yang lebih besar dari sekadar kode mulai tumbuh di kepalanya—ide yang menakutkan sekaligus memikat.
Ini bukan cuma proyek iseng. Ini bisa jadi perusahaan. Sebuah startup.
Ia tertawa kecil, hampir menertawakan dirinya sendiri. Programmer kos-kosan, modal nol, mau bikin startup? Tapi tawa itu tidak bertahan lama, karena di lubuk hatinya ia serius. Sangat serius. Ia meraih buku catatan lusuh di bawah laptop, menyobek halaman kosong, dan menulis di atasnya dengan pulpen yang tintanya hampir habis: "Stok Pintar. Bantu warung kecil jangan rugi. Mulai dari nol."
Ia menggarisbawahi kata terakhir dua kali. Mulai dari nol. Karena memang itu yang ia punya. Nol rupiah, nol tim, nol pengalaman bisnis. Yang ia punya hanya satu file kode di laptop tua dan keyakinan yang menyala lebih terang daripada layar di depannya.
Subuh hampir tiba ketika Arman akhirnya tertidur, masih dalam posisi duduk, laptop di pangkuan, dan buku catatan terbuka di sebelahnya. Di luar, hujan reda. Dan tanpa ia sadari, malam itu adalah malam terakhir hidupnya berjalan tenang dan sederhana. Karena keesokan harinya, ia akan mulai melangkah ke dunia yang sama sekali tidak ia pahami—dunia di mana ide bagus saja tidak pernah cukup.