Ruko itu sebenarnya sempit, pengap, dan catnya mengelupas di beberapa sudut—tidak jauh berbeda dari kos Arman dulu, hanya lebih lebar dan ada toilet sendiri. Tapi bagi Arman dan Nadia, hari mereka memasang papan kecil bertuliskan "Stok Pintar" di depan pintu terasa seperti menancapkan bendera di puncak gunung yang mereka daki dengan kuku berdarah.
"Miring dikit ke kiri," komando Nadia dari bawah, sambil menyipitkan mata. Arman, berdiri di kursi plastik yang berdecit, menggeser papan itu sedikit. "Naaah. Pas."
Reza memotret momen itu dengan ponselnya, dan Sinta bertepuk tangan kecil sambil membawa nasi tumpeng sederhana yang ia beli dari warung seberang—"Biar berkah, Mas," katanya. Empat orang, satu ruko, satu papan miring yang akhirnya lurus. Itulah seluruh kerajaan Stok Pintar.
Arman turun dari kursi, menepuk debu dari celananya, dan menatap papan itu. Dua tahun lalu, ia menulis "mulai dari nol" di buku catatan lusuh, di kamar tiga kali empat, sendirian, dengan kopi sachet dingin sebagai satu-satunya teman. Sekarang ia berdiri di depan kantor—kantor sungguhan, dengan nama perusahaan di pintu—dikelilingi orang-orang yang memilih bekerja bersamanya. Dadanya penuh oleh sesuatu yang sulit ia beri nama. Bukan sekadar bangga. Lebih seperti tak percaya.
"Kamu mikirin apa?" tanya Nadia, berdiri di sampingnya.
"Mikirin ibu," jawab Arman jujur. "Beliau nggak pernah lihat warungnya jadi gede. Tutup pelan-pelan, rugi terus. Dan aku di sini, punya kantor buat aplikasi yang... ya, buat warung kayak punya Ibu." Ia menelan sesuatu di tenggorokannya. "Kayak aku lagi balas dendam ke nasib, tapi caranya benerin warung orang lain."
Nadia tidak menjawab dengan kata. Ia hanya berdiri lebih dekat, bahu mereka hampir bersentuhan, dan untuk sesaat mereka berdua menatap papan miring-lurus itu seperti menatap masa lalu dan masa depan sekaligus.
Tapi euforia tidak membayar sewa.
Malamnya, setelah Reza dan Sinta pulang, Arman dan Nadia duduk di lantai—kebiasaan yang tak pernah hilang—mengelilingi laptop yang menampilkan satu hal yang jauh kurang puitis daripada papan nama: anggaran. Angka-angka berderet, dan sebagian besar dengan tanda minus.
"Sewa ruko, listrik, internet," Nadia membaca. "Gaji Reza, gaji Sinta. Gaji kita berdua—yang mana kita masih bayar diri sendiri kecil banget. Server. Belum kursi tambahan, belum meja yang nggak goyang." Ia menghela napas. "Man, dulu pas cuma kita berdua, biaya kita itu nasi kucing sama kopi sachet. Sekarang... ada empat mulut yang gajinya tergantung sama kita tiap tanggal lima. Itu beda banget rasanya."
Arman mengangguk berat. Itu kenyataan yang tidak diceritakan dalam kisah-kisah inspiratif tentang startup. Bahwa setiap orang yang kau rekrut adalah keluarga yang menggantungkan periuk nasinya padamu. Reza punya cicilan. Sinta mengirim sebagian gajinya untuk orang tuanya yang masih menjaga warung. Kalau Stok Pintar gagal bayar gaji satu bulan saja, itu bukan angka di laporan—itu anak yang tidak jadi beli buku, itu utang yang menumpuk.
"Dana dari Bu Linda cukup buat berapa bulan?" tanya Arman.
Nadia mengetuk kalkulator di ponselnya. "Kalau pemasukan dari langganan tetap segini, dan pengeluaran segini... sekitar sepuluh bulan. Sebelas kalau kita ngirit."
Sepuluh bulan. Itu yang dalam bahasa startup disebut runway—landasan pacu sebelum pesawat harus sudah terbang atau jatuh. Sepuluh bulan untuk membuat pemasukan tumbuh cukup besar agar mereka tidak bergantung pada dana investor. Sepuluh bulan untuk membuktikan bahwa model "murah dan jujur" bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
"Kita harus tambah pengguna yang bayar, bukan cuma yang coba gratis," kata Arman. "Tapi nggak boleh nyekik. Janji kita murah."
"Murah bukan berarti gratis terus, Man," kata Nadia. "Pak Haji sama temen-temennya mau bayar, kok, asal masuk akal dan jujur. Yang mereka benci itu bukan bayar—mereka benci dijebak. Kita jual harga yang masuk akal, transparan, dan pedagangnya ngerti dia bayar buat apa. Itu beda jauh sama StokJaya yang gratis terus dicekik."
Arman menatap angka minus di layar, lalu menatap papan nama yang remang-remang terlihat dari dalam ruko lewat pintu kaca. Tanggung jawab itu terasa seperti batu di dada—berat, tapi juga membumikan. Dulu, kalau mimpi ini gagal, hanya ia yang jatuh. Sekarang, ada Reza, Sinta, dua ratus pedagang, dan kepercayaan Bu Linda. Ia tidak boleh jatuh sembarangan lagi.
"Nad," katanya pelan, menutup laptop, "kantor ini bikin aku bangga setengah mati. Tapi juga bikin aku takut setengah mati."
Nadia tersenyum lelah, menyandarkan kepala ke dinding ruko. "Itu artinya kita beneran udah punya sesuatu buat dijaga, Man. Dulu kita nggak punya apa-apa, jadi kita nggak takut kehilangan apa-apa. Sekarang kita punya. Takut itu harganya punya sesuatu."
Di luar, papan kecil bertuliskan "Stok Pintar" tergantung diam di bawah lampu gang, lurus akhirnya, menandai sebuah perusahaan yang baru belajar berjalan—dan baru belajar betapa beratnya setiap langkah ketika ada orang lain yang berjalan di belakangmu.