Pagi itu seharusnya pagi biasa. Reza baru saja menambal bug yang ia temukan minggu lalu, Sinta sedang menelepon tiga pedagang baru di Klaten, dan kopi sachet di gelas Arman masih mengepul di atas meja ruko kecil yang kini mereka sebut kantor. Lalu seseorang mengetuk pintu, mengantar amplop cokelat besar bersegel resmi, dan meminta Arman menandatangani tanda terima.
Arman membuka amplop itu sambil berdiri. Ia membaca baris pertama, lalu duduk pelan-pelan, seolah lantai tiba-tiba miring. Di kepala surat itu tertera nama pengadilan negeri, dan di bawahnya, kata yang membuat dadanya dingin: gugatan. Penggugat: perusahaan yang menaungi StokJaya. Tergugat: Stok Pintar. Pokok perkara: pelanggaran hak cipta atas perangkat lunak prediksi stok.
"Man, kenapa?" Nadia mendekat, melihat wajahnya. Ia mengambil lembaran itu dari tangan Arman dan membacanya cepat. Wajahnya memucat lalu memerah. "Mereka... mereka nuduh kita nyolong kode mereka?"
Arman tertawa, tapi tawa itu pahit dan nyaris seperti tangis. "Baca lagi, Nad. Mereka bilang StokJaya yang lebih dulu punya mesin prediksi ini. Mereka bilang kita meniru produk mereka." Ia mengusap wajah. "Mereka muterbalik semuanya. Bayu nyolong kode aku, dijual ke Pak Wira, dipakai bikin StokJaya—dan sekarang mereka yang nuduh aku maling."
Ruangan kecil itu hening. Reza berhenti mengetik. Sinta menutup teleponnya pelan-pelan. Mereka berdua baru beberapa bulan bekerja di sini, dan keduanya tahu cerita lama tentang Bayu hanya samar-samar—sepotong di sana-sini, cukup untuk paham bahwa ada luka yang tidak boleh diungkit sembarangan.
"Tapi kita bisa buktiin, kan?" tanya Reza akhirnya, hati-hati. "Kodenya jelas punya Mas Arman duluan. Ada riwayatnya."
Arman tidak langsung menjawab. Ia menatap surat itu, dan pikirannya melayang ke malam-malam dua tahun lalu, ketika ia menulis mesin pertama di kos tiga kali empat meter. Ada catatan, ada riwayat penyimpanan, ada log. Tapi semua itu tersebar—di laptop lama, di server kecil yang sebagian sudah ia matikan saat keuangan habis, di akun penyimpanan yang ia lupa kata sandinya. Ia tidak pernah membayangkan suatu hari harus membuktikan bahwa karyanya sendiri adalah miliknya.
"Bisa," kata Arman pelan. "Mungkin. Tapi nggak gampang."
Nadia meletakkan surat itu di meja, dan tangannya gemetar samar. "Man, ini bukan soal gampang atau nggak. Ini soal uang lagi." Suaranya turun, agar Reza dan Sinta tidak terlalu jelas mendengar. "Lawan gugatan itu butuh pengacara. Pengacara itu mahal. Dan kita baru aja keluar dari masa-masa di mana tabungan kita nol. Sekarang kita punya dana investor, tapi dana itu buat tumbuh, buat gaji tim, buat server—bukan buat perang di pengadilan."
Arman tahu Nadia benar. Ini adalah gema dari mimpi buruk yang dulu—saat Bayu pergi membawa kode inti, dan mereka tidak bisa menuntut karena hukum, betapapun di pihak mereka, butuh uang yang tidak mereka punya. Pak Wira tahu itu. Ia selalu tahu. Dan kali ini ia tidak menyerang lewat pintu depan dengan tawaran madu, melainkan dari sudut yang tak terduga—lewat meja hijau, lewat kertas bermaterai, lewat sistem yang justru seharusnya melindungi orang seperti Arman.
"Dia pintar," gumam Arman, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia nggak nyerang kita pakai uang langsung. Dia nyerang pakai hukum. Dan dia tahu kita bakal habis cuma buat bertahan, bahkan sebelum kita kalah atau menang."
Sinta, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara dengan suara kecil. "Mas, Mbak, kemarin Pak Haji nanya kapan fitur baru keluar. Banyak pedagang nungguin. Kalau kita sibuk ngurus ini terus..."
Kalimat itu menggantung, tapi semua orang di ruangan mengerti maksudnya. Gugatan ini bukan cuma soal kalah-menang di pengadilan. Selama mereka terjebak membela diri, energi, uang, dan perhatian akan tersedot habis, dan di luar sana ada ribuan pedagang yang bergantung pada produk yang harus terus berjalan. Pak Wira mungkin tidak butuh menang di pengadilan. Ia hanya butuh membuat mereka kelelahan sampai roboh.
Arman berdiri, berjalan ke jendela ruko yang menghadap gang kecil. Di luar, seorang ibu mendorong gerobak sayur melewati genangan air sisa hujan semalam. Pemandangan yang sederhana, persis pemandangan yang dulu membuatnya menulis "bantu warung kecil jangan rugi" di buku catatan lusuhnya. Ia menarik napas panjang.
"Nad," katanya tanpa berbalik, "kita nggak bisa diam. Kalau kita diam, mereka anggap kita mengaku. Kalau kita lawan, kita bisa bangkrut sebelum sidang selesai." Ia berbalik, dan ada sesuatu yang keras di matanya, sesuatu yang dulu padam saat Bayu pergi tapi kini menyala lagi. "Tapi kali ini beda. Dulu kita sendirian. Sekarang kita punya tim. Punya investor. Punya pedagang yang percaya. Dan kita punya satu hal yang Pak Wira nggak punya—kita beneran yang nulis kode ini duluan."
Nadia menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. Ketakutan masih ada di wajahnya, tapi di sampingnya tumbuh sesuatu yang lebih kuat: keteguhan.
"Oke," kata Nadia. "Kita lawan. Tapi kita harus cari cara bertahan tanpa bangkrut. Dan kita butuh pengacara, Man. Cepat."
Arman mengangguk, melipat surat pengadilan itu dan menyimpannya di laci. Di luar, langit mulai mendung lagi, dan ia tahu, badai yang ia kira sudah lewat baru saja berputar kembali—kali ini dengan wajah yang lebih licin dan lebih sulit dilawan daripada sebelumnya.