Pak Gunawan tidak meminta bayaran besar. Ia hanya meminta satu hal: jujur total, dan kerja keras dari pihak Arman untuk mengumpulkan bukti. "Saya bisa bicara di pengadilan," katanya, "tapi saya tidak bisa menciptakan bukti dari udara. Kalian yang harus menggali. Saya yang menyusunnya jadi senjata."
Maka dimulailah pekerjaan yang aneh dan menyakitkan: membongkar masa lalu sendiri. Arman duduk berhari-hari di ruko bersama Reza, mengeluarkan laptop tua yang sudah lama tidak ia sentuh, hard disk lama yang berdebu, dan catatan kata sandi yang berserakan di buku-buku lama. Tujuannya satu: menemukan bukti tak terbantahkan bahwa stokpintar_core lahir dari tangannya, jauh sebelum StokJaya ada.
"Setiap kali Mas Arman simpan versi kode, sistemnya nyatat waktu," jelas Reza, jari-jarinya menari di keyboard. "Ada riwayat penyimpanan—kapan dibuat, kapan diubah, baris mana yang ditambah. Kalau riwayat itu masih ada, itu kayak cap waktu. Bukti bahwa kode ini hidup di tangan Mas Arman sebelum StokJaya lahir."
Masalahnya, Arman dulu bukan programmer rapi yang berpikir tentang sengketa hukum. Ia anak kos yang menulis kode tengah malam, sering lupa menyimpan dengan benar, kadang memindahkan file dari satu tempat ke tempat lain tanpa jejak. Sebagian riwayat ada di laptop lama, sebagian di akun penyimpanan daring yang ia buat dengan email yang sudah ia lupakan, sebagian di server kecil yang ia matikan saat keuangan habis dulu—dan ia tidak yakin server itu masih ada.
"Aku nggak pernah mikir bakal butuh ini," kata Arman, menatap layar penuh frustrasi. "Dulu yang penting kodenya jalan. Siapa yang mikirin nyatat-nyatat buat pengadilan?"
"Justru karena Mas Arman nggak nyatat sengaja, malah bagus," kata Reza. "Kalau ada yang sengaja bikin bukti, itu malah kelihatan palsu. Yang asli itu yang berantakan, yang nyebar, yang nggak rapi—karena itu artinya beneran muncul dari kerja sehari-hari, bukan dikarang."
Hari demi hari, mereka menemukan potongan-potongan. Di laptop tua, ada folder berisi versi-versi awal kode dengan tanggal yang jelas—lebih dari dua tahun lalu. Di buku catatan lusuh Arman, yang sama dengan tempat ia menulis "mulai dari nol", ada coretan algoritma tulisan tangan, lengkap dengan tanggal di pojok halaman. Nadia bahkan menemukan pesan-pesan lama antara dirinya dan Arman dari masa awal mereka bekerja, di mana Arman mengirimkan tangkapan layar mesin yang sedang berjalan—bertanggal jauh sebelum StokJaya muncul.
"Ini bagus," kata Pak Gunawan ketika mereka menunjukkan temuan itu. "Tapi belum cukup. Pihak StokJaya akan bilang tanggal di laptop bisa dimanipulasi, catatan tangan bisa ditulis kapan saja. Kita butuh sesuatu yang lebih sulit dibantah. Sesuatu yang tercatat di tempat yang tidak bisa kalian ubah belakangan."
"Server lama," gumam Arman. "Server kecil yang aku sewa dulu. Sistem di sana nyatat semua aktivitas, dan aku nggak bisa ngubah catatannya. Tapi aku matiin servernya pas keuangan habis. Aku nggak tahu datanya masih ada atau udah dihapus."
Reza langsung tegak. "Kapan persisnya Mas matiin? Kadang penyedia server nyimpen cadangan beberapa bulan sebelum bener-bener dihapus. Kalau kita beruntung..."
Arman tidak menyelesaikan kalimat Reza. Ia hanya membuka laci, mencari kuitansi lama, alamat email penyedia server, apa pun yang bisa jadi jalan masuk ke masa lalu yang sengaja ia tinggalkan karena terlalu menyakitkan.
Malam itu, sebelum pulang, Pak Gunawan menatap mereka berdua dengan serius. "Ada satu hal lagi yang harus kalian siapkan. Dan ini yang paling berat." Ia berhenti. "Cap waktu, catatan, riwayat—itu semua bukti benda mati. Pengadilan suka bukti benda mati, tapi mereka lebih percaya pada manusia yang bersedia bersumpah. Kalian butuh saksi. Seseorang yang melihat langsung bahwa Arman yang menulis kode ini lebih dulu, lalu kode itu dicuri."
Ruangan itu hening. Arman tahu ke mana arah pembicaraan ini. Hanya ada satu orang di dunia yang melihat langsung pencurian itu, yang tahu persis dari mana kode itu berasal dan ke mana ia dibawa. Satu orang yang namanya bahkan tidak ingin ia sebut.
Nadia menggenggam lengannya pelan, seolah membaca pikirannya. "Man," bisiknya. "Jangan dulu mikir ke sana."
Tapi Arman tahu, cepat atau lambat, jalan ini akan membawanya ke pintu yang paling ia hindari. Ke rumah orang yang pernah mengkhianatinya. Ke Bayu.