Pesan itu masuk pukul sebelas malam, dari nomor yang tidak tersimpan di ponsel Arman. Tapi Arman tahu siapa pengirimnya bahkan sebelum membaca nama di akhir kalimat. Ada cara tertentu Bayu menulis—pendek, tanpa tanda baca rapi, kata "aku" yang selalu kecil seolah malu pada dirinya sendiri.
"man aku tau aku nggak pantas ngirim ini. tapi aku perlu ngomong. soal yang lagi kamu hadapin. soal pak wira. kalau kamu masih mau dengerin aku."
Arman menatap layar lama sekali. Di ruko kecil yang mereka sewa sebagai kantor, lampu sudah dimatikan semua kecuali satu di meja kerjanya. Reza sudah pulang. Sinta sudah pulang. Hanya tinggal ia dan suara kipas server yang berputar pelan di pojok ruangan. Di luar jendela, gang sepi, hanya ada penjual nasi goreng yang mendorong gerobaknya melewati genangan.
Berbulan-bulan lalu, gugatan hak cipta dari kuasa hukum yang mengaku mewakili StokJaya mendarat di meja mereka, dan sejak itu sidang demi sidang ditunda. Isinya memutarbalik kenyataan: mereka menuduh Stok Pintar mencuri mesin inti yang—katanya—lebih dulu dimiliki StokJaya. Padahal Arman tahu persis siapa yang mencuri, kapan, dan dari akun siapa. Ia masih ingat malam di kafe ketika ia melihat log itu, file `stokpintar_core` terunduh dini hari dari akun Bayu. Dan sekarang orang yang sama mengetuk pintunya, menawarkan diri.
Ia ingin marah. Ia berhak marah. Tapi yang muncul justru kelelahan yang aneh, seperti orang yang sudah terlalu lama membenci sampai bencinya sendiri kehabisan tenaga.
Arman membalas singkat. "Kenapa baru sekarang?"
Balasan datang cepat, seolah Bayu menunggu dengan ponsel di tangan. "karena anakku udah bisa manggil aku ayah. dan tiap dia manggil aku, aku malu. aku nggak mau dia gede tau ayahnya orang yang ngejual temennya."
Arman menutup mata. Ia teringat malam-malam di lab kampus dulu, Bayu yang menyodorkan kopi sachet saat ia mengantuk, Bayu yang tertawa keras saat kode mereka akhirnya jalan jam empat pagi. Ada masa ketika ia akan menukar apa saja untuk persahabatan itu. Lalu ada satu pesan—anakku butuh susu sekarang, bukan tahun depan—yang menghancurkan semuanya.
"Kamu ngerti taruhannya?" Arman mengetik. "Kalau kamu ngomong jujur, kamu yang kena. Pak Wira nggak akan diam."
"aku tau," balas Bayu. "aku mungkin kehilangan kerjaan. mungkin dikejar. tapi aku udah kehilangan diri aku sendiri dua tahun ini, man. itu lebih berat."
Arman meletakkan ponsel di meja, menggosok wajahnya. Di kepalanya, suara Nadia berbisik dari banyak percakapan—jangan terlalu cepat percaya, kita udah pernah ketipu. Tapi ada juga suara lain, suara yang lebih tua, suara ibunya: nak, orang yang ngaku salah itu lebih jarang daripada orang yang nyalahin orang lain.
Ia mengangkat ponsel lagi. "Aku nggak janji apa-apa. Aku nggak bisa percaya kamu cuma karena kamu nulis pesan manis. Tapi aku mau dengerin. Besok. Bukan di kantorku. Tempat netral."
"warung mie depan kampus lama? yang biasa kita makan dulu."
Arman menarik napas panjang. Tempat itu. Tentu saja. "Jam tujuh malam. Aku nggak datang sendiri."
"bawa siapa aja yang kamu mau. aku nggak punya apa-apa lagi buat disembunyiin."
Arman meletakkan ponsel dan bersandar di kursinya. Di layar laptop yang menyala, dokumen gugatan masih terbuka, baris-baris bahasa hukum yang dingin dan memutarbalik. Ia tahu hal pertama yang harus ia lakukan bukan menjawab Bayu, melainkan menelepon Nadia. Karena ini bukan keputusannya sendiri—tidak pernah, sejak hari pertama mereka berjabat tangan di Kafe Tanduk. Keputusan dibagi dua. Termasuk keputusan untuk membuka pintu kepada orang yang dulu menikamnya dari dalam.
Ia mengetuk nama Nadia. Diangkat di dering kedua, suara Nadia serak karena baru bangun. "Man? Jam segini?"
"Nad," kata Arman pelan, menatap genangan air di luar jendela yang memantulkan cahaya lampu jalan, "Bayu menghubungi aku. Dia mau bicara. Soal Pak Wira."
Hening di ujung sana. Lalu Nadia, dengan suara yang tiba-tiba terjaga penuh, "Aku ikut. Apa pun yang kamu putuskan, aku ikut."