Tidak ada perayaan malam itu. Mereka kembali ke ruko, dan satu per satu tubuh menjatuhkan diri ke kursi seperti karung yang isinya sudah habis. Sinta membeli gorengan di gang depan, tapi tidak ada yang benar-benar lapar. Bahkan rasa menang terasa seperti baju yang tidak pas—terlalu longgar di bagian yang seharusnya kencang.
Arman membuka catatan keuangan di laptopnya dan menatap angka di kolom paling bawah. Biaya pengadilan, walau Pak Gunawan menawarkan tarif jauh di bawah pasaran, tetap menggerus dana yang seharusnya untuk pengembangan produk. Tiga bulan terakhir, hampir seluruh energi tim tersedot ke gugatan. Fitur baru tertunda. Reza yang seharusnya memperbaiki sistem malah berhari-hari menggali arsip server tua. Sinta yang harusnya mendampingi pedagang baru malah ikut sibuk mencari saksi.
"Kita menang," kata Nadia, duduk di sebelahnya, tapi nadanya datar. "Tapi kenapa rasanya kayak kalah, ya."
Arman tidak menjawab langsung. Ia menatap layar, lalu ke wajah-wajah lelah di sekitarnya. Reza yang matanya merah karena kurang tidur. Sinta yang biasanya ceria kini diam menatap ponselnya. Dan dirinya sendiri—ia tahu betul, ia tidak punya tenaga untuk bersorak.
"Karena yang kita lawan sebenernya nggak kena apa-apa," kata Arman akhirnya. "StokJaya kalah. Tapi StokJaya itu cuma sarung tangan. Tangan di dalamnya tetap utuh." Ia menutup laptop pelan. "Aku dulu mikir, kalau kita benar, kebenaran itu cukup. Ternyata nggak. Kebenaran masih harus dibayar. Mahal."
Reza mengangkat kepalanya. "Tapi setidaknya orang-orang tahu sekarang, Mas. Sidang itu terbuka. Wartawan ada. Cerita Bayu di bawah sumpah itu nggak bisa dihapus."
"Itu betul," kata Nadia, mencoba menemukan terang. "Citra ada di ruang sidang tadi. Aku lihat dia nyatet. Mungkin ini bukan akhir buat Pak Wira. Mungkin ini awal."
Arman ingin percaya itu. Tapi malam itu, yang lebih ia rasakan adalah kelelahan yang berbeda dari kelelahan kerja keras. Ini kelelahan orang yang menang tapi tahu kemenangannya tidak utuh. Mereka membela diri, dan bertahan. Tapi mereka tidak mengubah apa-apa di puncak. Pak Wira masih punya uang, koneksi, dan kesabaran seekor pemangsa.
Ia teringat sesuatu yang Pak Haji pernah katakan, di hari-hari awal, saat warungnya hampir tutup. "Le, menang itu kadang cuma berarti besok kita masih boleh dagang. Itu aja udah cukup buat orang kecil." Saat itu Arman pikir kalimat itu terlalu pasrah. Sekarang ia mulai mengerti maknanya. Kadang menang bukan berarti utuh. Menang berarti masih ada hari esok untuk bertarung.
Sinta tiba-tiba bersuara, pelan. "Mas, Mbak, boleh saya cerita?" Mereka menoleh. "Tadi sore, sebelum sidang, ada pedagang yang nelepon saya. Bu Wati, yang di pasar Kebon. Dia denger Stok Pintar lagi digugat. Dia nanya, 'Mbak, kalian baik-baik aja kan? Soalnya aplikasinya nolong banget. Anak saya bisa sekolah lagi dari untung warung.'" Sinta tersenyum kecil, matanya berkaca. "Saya cuma mau bilang, walaupun kita lelah, di luar sana ada orang yang hidupnya berubah karena kita. Itu nggak ada di kolom keuangan, tapi itu nyata."
Ruangan itu hening sejenak. Lalu Arman menarik napas, dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya naik sedikit. Bukan kemenangan penuh. Tapi mungkin, pikirnya, tidak semua kemenangan harus penuh untuk pantas diperjuangkan.
"Pulang, semuanya," katanya. "Tidur. Besok kita benerin yang tertunda. Pelan-pelan. Kita masih boleh dagang besok. Itu udah cukup."