Mereka bertemu lagi di warung mie yang sama, tapi kali ini Arman datang sendiri. Tidak ada Pak Gunawan, tidak ada perekam, tidak ada Nadia. Hanya ia dan Bayu, dua orang yang dulu begadang di lab kampus, kini duduk berhadapan dengan dua mangkuk mie yang mengepul.
Bayu tampak lebih kuyu dari sebelumnya. Mencari kerja dengan nama yang muncul di berkas pengadilan bukan hal mudah. Beberapa perusahaan menolaknya begitu tahu kasusnya. "Mereka bilang aku berisiko," kata Bayu, menyeruput kuah. "Lucu ya. Aku jujur di pengadilan, malah dianggap berbahaya. Kalau aku terus bohong, mungkin aku masih punya kerja."
"Dunia emang nggak adil," kata Arman. "Tapi kamu tahu itu dari dulu."
Bayu tersenyum getir. "Iya."
Arman mengaduk mienya pelan, menyusun kata-kata yang sudah ia pikirkan berhari-hari. "Bay, aku nggak ke sini buat bilang semua udah baik-baik aja di antara kita. Belum. Mungkin nggak akan pernah persis kayak dulu lagi." Ia menatap mantan sahabatnya. "Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang nutup semua pintu buat kamu. Karena kalau aku gitu, aku nggak ada bedanya sama Pak Wira—yang ngehancurin orang terus ninggalin mereka di got."
Bayu mengangkat wajahnya.
"Aku nggak bisa nawarin kamu balik ke tim inti," kata Arman jujur. "Bukan karena aku nggak mau ngasih kesempatan. Tapi karena tim ini—Reza, Sinta, Nadia—mereka percaya satu sama lain. Itu fondasinya. Kalau aku paksa kamu masuk, fondasi itu retak, dan itu nggak adil buat mereka. Kamu ngerti?"
Bayu mengangguk pelan. "Aku ngerti banget, Man. Aku nggak akan pernah minta itu."
"Tapi aku punya kenalan," lanjut Arman. "Bu Linda, investor kami, punya jaringan ke banyak startup kecil yang lagi cari engineer. Aku udah cerita ke dia—nggak nutupin apa-apa, termasuk kasus kamu. Dan ada satu founder yang bilang dia percaya orang berhak punya kesempatan kedua, asal jujur dari awal." Arman mengeluarkan secarik kertas dari saku, menaruhnya di meja. "Ini kontaknya. Bukan jaminan. Cuma pintu. Mau kamu buka atau nggak, itu urusan kamu."
Bayu menatap kertas itu seperti menatap sesuatu yang terlalu berharga untuk disentuh. Tangannya gemetar saat mengambilnya. "Kenapa, Man?" suaranya pecah. "Setelah semua yang aku lakuin. Kenapa kamu masih mau bantu aku?"
Arman terdiam sejenak, menatap uap yang naik dari mangkuknya. "Karena ibuku dulu pernah ngasih makan orang yang nyolong di warungnya," katanya pelan. "Aku tanya kenapa, dia bilang, 'Orang nyolong itu lagi kelaparan, nak. Kalau aku biarin dia tetep lapar, dia bakal nyolong lagi. Tapi kalau aku kasih makan, mungkin dia berubah.'" Arman menatap Bayu. "Aku nggak bisa janji kamu bakal berubah. Tapi aku nggak mau jadi alasan kamu nggak punya kesempatan buat coba."
Bayu menunduk, dan air matanya jatuh ke kuah mie yang sudah dingin. Untuk beberapa saat ia tidak bisa bicara. Lalu ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan dan berkata, serak, "Aku nggak akan ngecewain founder itu, Man. Sumpah. Aku nggak akan ngulangin yang aku lakuin ke kamu. Nggak akan pernah."
"Jangan janji ke aku," kata Arman, berdiri dan merogoh dompet untuk membayar. "Janji ke anak kamu. Biar pas dia gede, dia bangga sama ayahnya."
Ia meletakkan uang di meja, lalu menepuk bahu Bayu—pelan, singkat, bukan pelukan, bukan pengampunan penuh, tapi sesuatu. Sesuatu yang menutup satu benang lama dengan simpul yang pahit sekaligus manis. Lalu Arman melangkah keluar dari warung itu, ke gang yang mulai gelap, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tidak menoleh ke belakang.