Tiga hari berlalu, dan ruko kecil itu berubah jadi tempat yang asing.
Bukan karena ada yang berteriak. Justru sebaliknya. Arman dan Nadia masih datang tiap pagi, masih menyapa Reza dan Sinta, masih membahas tiket keluhan pengguna dan jadwal rilis. Tapi di antara mereka berdua, kalimat menyusut jadi seperlunya. "Tolong cek angka retensi minggu ini." "Sudah, ada di folder." "Oke." Tidak ada lagi obrolan ngalor-ngidul soal mie instan favorit, tidak ada lagi Nadia menyandarkan kepala ke bahu Arman karena terlalu lelah.
Sinta yang pertama menyadari betapa beratnya suasana itu. "Mas, Mbak Nadia kenapa, sih?" tanyanya suatu siang, sambil pura-pura menata stiker promosi. "Kayak ada tembok."
"Lagi mikirin keputusan besar," kata Arman, mencoba ringan.
"Mikirin keputusan besar nggak bikin orang nggak ketawa tiga hari, Mas."
Arman tidak menjawab. Sinta benar, dan ia tahu. Yang membuatnya tidak enak bukan perbedaan pendapat soal Garda. Mereka pernah berbeda pendapat ratusan kali. Yang membuatnya tidak enak adalah cara perbedaan itu merembes ke tempat yang tidak seharusnya. Ke jeda canggung saat tangan mereka tak sengaja meraih cangkir yang sama. Ke kalimat-kalimat yang sengaja dibuat netral agar tidak menyentuh apa pun.
Karena selama ini, di balik kerja sama mereka, selalu ada sesuatu yang lain yang tidak pernah berani diberi nama. Sejak malam di trotoar bertahun-tahun lalu. Sejak kepala Nadia bersandar ke bahunya. Sejak undangan raksasa memotong kalimat yang hampir Arman ucapkan. Selama bertahun-tahun, hal yang belum terucap itu tumbuh diam-diam, dan justru karena belum diberi nama, ia rapuh. Dan sekarang, perselisihan soal bisnis seperti angin yang menggoyangkan sesuatu yang belum sempat berakar.
Malam itu, ketika Reza dan Sinta sudah pulang, Arman menemukan Nadia masih di mejanya, menatap layar yang sebenarnya sudah lama tidak ia sentuh.
"Nad," katanya. Ia menarik kursi, duduk berhadapan. "Kita nggak bisa gini terus. Bukan soal Garda. Soal kita."
Nadia menutup laptopnya pelan. "Aku tahu."
"Kalau kamu nggak setuju soal Garda, kita nggak ambil. Selesai. Aku nggak mau—" Arman berhenti, mencari kata. "Aku nggak mau uang ngerusak ini lagi. Kita udah pernah nolak satu miliar bareng. Masa kita berantem gara-gara tawaran yang belum tentu bagus."
"Bukan soal Garda, Man." Nadia menatapnya, dan ada sesuatu yang rapuh di matanya yang jarang ia tunjukkan. "Tiga hari ini aku takut. Bukan takut sama Garda. Takut sama betapa gampangnya kita bisa renggang. Kita udah lewatin Bayu, StokJaya, Pak Wira—semuanya. Dan ternyata yang hampir misahin kita cuma satu surel. Itu yang bikin aku takut."
Arman terdiam. Ia paham. Karena ia merasakan ketakutan yang sama.
"Kita ini partner," lanjut Nadia, suaranya pelan. "Dan partner harus bisa beda pendapat tanpa harus jadi musuh. Tapi entah kenapa, sama kamu, tiap kali kita beda, rasanya kayak ada yang lebih besar dari sekadar bisnis yang ikut retak. Dan aku nggak tahu harus gimana sama itu."
Untuk sesaat, kalimat yang tertunda sejak malam di trotoar itu kembali naik ke tenggorokan Arman. Aku—. Tapi ia menelannya lagi, untuk yang kesekian kali, karena ia takut. Takut bahwa kalau ia ucapkan sekarang, di tengah keretakan ini, ia akan kehilangan dua hal sekaligus: kekasih yang belum pernah resmi jadi kekasih, dan partner yang membuat semuanya mungkin.
"Aku juga nggak tahu," katanya akhirnya, jujur. "Tapi aku tahu satu hal. Apa pun yang kita putuskan soal Garda, aku nggak mau mutusin tanpa kamu. Bahkan kalau aku salah, aku mau salah bareng kamu. Bukan bener sendirian."
Nadia menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sudut bibirnya naik sedikit. Bukan senyum penuh. Tapi cukup untuk meruntuhkan sebagian tembok.
"Kalau gitu," katanya, "kita tanya orang yang lebih penting dari kita berdua."
"Siapa?"
"Pedagang." Nadia membuka kembali laptopnya. "Ini perusahaan mereka juga, kan? Kita selalu bilang gitu. Milik pedagang selamanya. Kita ambil keputusan ini diam-diam di ruko, padahal yang kena dampaknya mereka. Ayo tanya mereka."
Arman menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, dadanya terasa ringan. Diam yang menyakitkan itu, sedikit demi sedikit, mulai cair.