Bertahan dari Garda membuktikan satu hal: akar Stok Pintar kuat di tanah yang sudah mereka kenal. Tapi tanah itu hanya sepetak Jawa. Di luar sana, ada pulau-pulau yang bahkan tim mereka belum pernah injak, dengan pedagang yang masalahnya sama tapi dunianya berbeda.
Bu Linda, perwakilan investor sosial yang kini menjadi penasihat dewan, yang mendorong mereka. "Kalian terlalu nyaman di Jawa," katanya dalam rapat bulanan, ramah tapi tegas seperti biasa. "Misi kalian bantu warung kecil. Warung kecil paling banyak rugi justru di tempat yang paling jauh dari kota. Kalau kalian serius, harus berani ke timur."
Maka mereka memilih satu kota di sebuah pulau di timur sebagai pijakan pertama. Reza menyiapkan versi aplikasi yang lebih tahan terhadap sinyal buruk. Sinta menyiapkan materi dalam bahasa yang lebih sederhana. Arman dan Nadia, seperti dulu, memutuskan tidak mengirim tim, melainkan datang sendiri. Karena mereka tahu, lapangan tidak bisa dipahami dari ruko.
Kenyataan di lapangan menampar mereka dengan cara yang tak terduga.
Di hari pertama di sebuah pasar, Nadia—yang biasanya paling lancar bicara dengan pedagang—mendapati dirinya kesulitan. Bukan karena pedagang di sana tidak ramah. Justru sangat ramah. Tapi cara mereka berdagang, cara mereka menghitung untung, bahkan cara mereka memandang "aplikasi", semuanya berbeda. Di sini banyak pedagang berjualan dengan sistem utang-piutang kepercayaan yang rumit, catatan di kepala, bukan di buku. Prediksi stok ala Stok Pintar, yang di Jawa langsung dimengerti, di sini terasa asing.
"Untuk apa saya pakai itu, Nak?" tanya seorang ibu penjual rempah, ramah tapi bingung. "Saya sudah tiga puluh tahun jualan. Saya tahu kapan lada laku tanpa hape."
Kalimat itu, untuk sesaat, mengguncang Arman. Selama ini ia begitu yakin Stok Pintar adalah jawaban universal. Tapi di hadapan ibu ini, keyakinan itu retak. Mungkin ada tempat di mana yang mereka tawarkan tidak dibutuhkan. Mungkin ada kerendahan hati yang harus mereka pelajari.
Malam itu, di penginapan sederhana, Arman dan Nadia berdebat—tapi debat yang sehat, debat yang dulu mereka rindukan ketika mereka berselisih soal Garda.
"Kita nggak bisa maksain produk Jawa ke sini," kata Nadia. "Kita harus dengerin dulu. Mungkin masalah mereka beda. Mungkin yang mereka butuh bukan prediksi, tapi sesuatu yang lain."
"Tapi prinsipnya pasti sama," balas Arman. "Pedagang manapun nggak mau rugi. Mungkin bentuk ruginya beda."
Mereka habiskan dua minggu bukan menjual, melainkan mendengarkan. Dan pelan-pelan, gambaran muncul. Ibu penjual rempah itu memang tahu kapan lada laku. Tapi ia sering rugi karena pemasok jauh dan harga naik turun tak terduga; ia menumpuk stok saat murah lalu busuk, atau kehabisan saat mahal. Masalahnya bukan prediksi penjualan harian seperti di Jawa. Masalahnya prediksi harga dan jarak pasokan. Berbeda bentuk, sama akarnya: orang kecil rugi karena tidak punya alat untuk menebak masa depan.
"Reza," telepon Arman malam itu, mata kembali menyala seperti di kos 3x4 dulu, "kita perlu modul baru. Bukan prediksi penjualan. Prediksi harga pasokan. Aku kirim datanya."
Mengubah produk untuk satu wilayah baru bukan pekerjaan semalam. Itu berminggu-minggu lagi, kompromi lagi, kerja keras lagi. Tapi untuk pertama kalinya, Arman menyadari sesuatu yang membuatnya rendah hati: misi mereka lebih besar dari produk mereka. Stok Pintar bukan satu aplikasi yang sempurna untuk semua. Stok Pintar adalah janji—membantu yang kecil jangan rugi—dan janji itu harus berbentuk berbeda di tanah yang berbeda.
Di hari mereka pulang ke Jawa, ibu penjual rempah itu mengantar mereka ke pelabuhan kecil, membawakan sekantong rempah sebagai oleh-oleh. "Datang lagi, Nak," katanya. "Kalau alatnya jadi, ajari saya. Saya tua, tapi saya mau belajar kalau itu bikin saya nggak rugi."
Arman menerima kantong rempah itu, dan di tangannya, ia merasa kantong itu lebih berat daripada angka mana pun yang pernah Garda atau Pak Wira tawarkan.