Malam itu langit cerah, jarang untuk kota yang biasanya berdebu dan tergesa. Arman dan Nadia berjalan kaki tanpa tujuan setelah seharian menutup pembukuan kuartal, dan kaki mereka, seperti selalu, membawa mereka ke tempat yang sama. Trotoar depan Kafe Tanduk.
Kafe itu sudah berubah—catnya baru, ada papan nama LED yang berkedip, dan harga kopinya naik dua kali lipat sejak terakhir mereka mampu masuk. Tapi trotoar di depannya masih sama. Lampu jalan kuning yang sama. Pinggiran beton yang sama, tempat dua musuh dulu duduk bersisihan di pukul empat pagi, kehilangan segalanya, dan justru karena itu menemukan keberanian untuk mulai dari nol.
Mereka membeli dua bungkus nasi kucing dan dua es teh dari warung dua puluh empat jam yang masih bertahan di ujung gang. Lalu mereka duduk di trotoar itu, seperti dulu, tapi kali ini tidak ada keputusasaan, tidak ada mimpi yang baru saja ditikam. Hanya dua orang yang sudah melewati badai bersama dan masih di sini.
"Inget pertama kali kita ketemu di sini?" tanya Nadia, mengulang kalimat yang sama persis dengan bertahun-tahun lalu, dan keduanya tahu itu disengaja.
Arman tertawa. "Inget. Kamu kasih aku sepuluh menit. Kamu benci aku setengah mati."
"Aku salah soal kamu," kata Nadia, juga mengulang. Tapi kali ini ia tidak menatap es tehnya. Ia menatap Arman. "Aku udah pernah bilang itu, bertahun-tahun lalu, di tempat yang sama. Terus ponsel kamu bunyi, undangan dari raksasa, dan semuanya tertunda."
Arman terdiam. Ia ingat malam itu. Kalimat yang menggantung di udara, tidak pernah selesai, tertelan oleh ujian terbesar yang baru saja mereka lewati.
"Banyak banget yang terjadi sejak malam itu, Nad," katanya pelan. "Garda. Pak Wira balik lagi. Gugatan. Bayu. Sidang. Hampir bangkrut lagi entah berapa kali. Kamu hampir burnout. Aku hampir nyerah. Kita berantem, kita baikan, kita berantem lagi."
"Dan kita masih di sini," kata Nadia.
"Kita masih di sini," ulang Arman.
Hening sejenak. Lampu jalan berdengung pelan di atas mereka. Di kejauhan, suara kota bergerak—motor lewat, pedagang malam mendorong gerobak, anak muda tertawa keluar dari kafe. Hidup berjalan terus, tidak peduli bahwa di trotoar ini, sebuah kalimat yang tergantung bertahun-tahun akhirnya akan menemukan ujungnya.
"Nad," kata Arman, dan jantungnya berdebar lebih keras daripada pitch mana pun, lebih keras daripada saat menghadapi Pak Wira di forum, lebih keras daripada apa pun. "Aku nggak akan biarin ada telepon yang motong aku kali ini." Ia mengeluarkan ponselnya, mematikannya, dan meletakkannya di trotoar. Nadia tertawa, lalu melakukan hal yang sama dengan ponselnya.
"Aku mau nyelesain kalimat yang aku gantung dulu," lanjut Arman. Suaranya bergetar, tapi ia membiarkannya bergetar. "Setelah semua ini—pengkhianatan, kekalahan, kemenangan yang mahal—satu-satunya hal yang nggak pernah goyah buat aku adalah kamu. Bukan perusahaan. Bukan idealisme. Kamu. Aku jatuh cinta sama kamu, Nad. Udah lama banget. Mungkin sejak malam kamu nyenderin kepala kamu ke bahu aku dan pura-pura sibuk sama ponsel."
Nadia tidak langsung menjawab. Matanya berkaca, dan ada senyum yang merekah pelan, senyum yang tidak pernah Arman lihat di hari-hari pertama mereka, ketika wajahnya masih seperti tembok.
"Kamu tahu kenapa aku nolak posisi yang ditawarin ke aku waktu itu?" tanya Nadia. "Posisi besar, gaji gede, yang bakal misahin aku dari kamu? Semua orang bilang aku gila. Bu Linda bahkan sempet nyaranin aku ambil."
"Kenapa?"
"Karena aku sadar misiku dan kamu udah nggak bisa dipisahin," kata Nadia. "Stok Pintar tanpa kamu cuma aplikasi. Dan aku tanpa kamu cuma... desainer yang marah-marah sama dunia. Aku milih tetap. Aku milih kamu. Aku udah milih kamu dari dulu, Man. Aku cuma nungguin kamu berani bilang duluan." Ia tertawa, air matanya jatuh. "Dasar lambat."
Arman tertawa di tengah haru, dan tanpa banyak kata lagi, ia meraih tangan Nadia—tangan yang sama yang ia genggam di lift bertahun-tahun lalu saat mereka menolak satu miliar, tangan yang ikut menjual laptop, yang ikut keliling pasar subuh, yang ikut menahan beban yang nyaris mematahkannya. Kali ini ia menggenggamnya bukan sebagai rekan seperjuangan. Tapi sebagai sesuatu yang lebih.
Di trotoar yang sama tempat mereka dulu bertemu sebagai musuh, di bawah lampu jalan kuning yang sama, cinta yang ditempa oleh badai bertahun-tahun akhirnya berlabuh. Tidak ada kembang api. Tidak ada drama. Hanya dua bungkus nasi kucing yang dingin, dua es teh yang mengembun, dan dua orang yang akhirnya berhenti menunda.
"Gila bareng?" tanya Nadia pelan, mengulang kata mereka.
"Gila bareng," jawab Arman. "Selamanya, kalau kamu mau."
"Aku mau."