Mual hari Selasa datang tanpa aba-aba, tepat ketika Miyu sedang menuang sirup karamel ke gelas ketiga.
Baunya naik seperti tamparan. Manis yang terlalu manis, bercampur uap susu dan sisa kopi di bak cuci, dan perut Miyu langsung mengerut. Ia meletakkan botol sirup dengan hati-hati, menyentuh tepi konter, lalu menarik napas lewat mulut sambil menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga.
“Tha.” Ira muncul di sampingnya, berbisik. “Lo hijau.”
“Gue baik-baik aja.”
“Lo hijau, Tha. Kayak kiwi.”
“Gue—” Miyu menutup mulut dengan telapak tangan, lalu berlari kecil ke kamar mandi karyawan.
Lima menit kemudian ia keluar dengan wajah basah dan mata merah. Ira menunggu di depan pintu dengan segelas air hangat dan tatapan prihatin. Reno berdiri di belakangnya, tidak berkata apa pun, hanya mendorong sepotong roti tawar ke tangan Miyu dengan gerak yang menegaskan bahwa roti itu bukan opsi.
“Makan.”
“Gue nggak bisa—”
“Makan.”
Miyu makan.
Pukul dua belas siang, ketika mualnya baru mereda dan ia sedang menyusun serbet di meja dekat jendela, lonceng pintu berdenting. Kanata masuk seperti biasa, dengan setelan abu-abu gelap dan langkah tenang, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di tangan kirinya ada kantong kertas cokelat yang ia genggam lebih hati-hati daripada tas kerjanya sendiri.
“Selamat siang, Nona Agatha.”
“Selamat siang, Tuan Saionji.” Miyu mencoba tersenyum. “Seperti biasa?”
“Seperti biasa.” Kanata mengangkat kantong itu sedikit. “Dan ini.”
Ia meletakkannya di meja, membuka lipatan atasnya, dan memperlihatkan isinya satu per satu dengan ketelitian seorang kurator museum: sebungkus biskuit asin, setoples kecil jahe manisan, dan sebotol air mineral dingin. Miyu menatap semuanya, lalu menatap Kanata.
“Ini…”
“Saya membaca.” Kanata berdeham. “Maksud saya, Santa membelikan saya beberapa buku tentang kehamilan. Tujuh. Saya tidak memintanya, tetapi ia bersikeras. Bab kedua menyebutkan bahwa mual pagi kadang bisa diringankan dengan biskuit asin sebelum bangun, dan jahe.”
“Anda… membaca tujuh buku?”
“Satu setengah. Sisanya saya simpan sebagai referensi.”
Sudut bibir Miyu berkedut. Ia menutup mulut dengan punggung tangan supaya tidak terlihat. “Tuan Saionji. Itu… terlalu serius.”
“Saya tidak tahu cara melakukan ini dengan kurang serius.” Kanata menjawab sangat jujur sampai Miyu tidak sanggup meledeknya. “Kalau tidak berguna, buang saja.”
“Berguna,” jawab Miyu cepat. “Terima kasih. Sungguh.”
Ia membuka bungkus biskuit dan menggigit satu. Asin, kering, dan anehnya tepat. Perutnya yang sejak pagi bergolak perlahan tenang, dan Miyu menutup mata sebentar sambil mengunyah pelan.
“Bagaimana?” tanya Kanata.
“Lebih baik.”
“Maka buku nomor dua boleh tetap hidup.”
“Buku nomor dua pantas dapat penghargaan.” Miyu menelan, lalu melirik Kanata dari sudut mata. Ada kata “Sabtu” yang menggantung di antara mereka sejak ziarah itu, tetapi pria itu tidak menyebutnya sedikit pun, dan Miyu bersyukur sekaligus gelisah karenanya.
Pada saat itulah suara hangat seorang ibu terdengar dari meja sebelah.
“Aduh, suaminya perhatian sekali ya, Mbak.”
Miyu menoleh. Seorang perempuan paruh baya dengan kerudung biru muda dan kantong belanja besar sedang tersenyum lebar ke arah mereka, sendok es krimnya melayang di udara. Di depannya, cucu kecilnya menatap Kanata dengan mata bulat.
“Istri hamil, suami bawain biskuit. Jarang lho, Mbak, yang kayak gini sekarang. Dulu bapaknya anak-anak saya cuma bilang jangan manja. Pak, jangan lupa istrinya banyak minum, ya, apalagi lagi hamil muda.”
Mulut Miyu terbuka tanpa suara. Wajahnya memanas sampai ke telinga. Ia sudah siap menyerah pada reaksi paling bodoh yang bisa ia lakukan, tetapi sebelum itu terjadi, ia menggeleng dan menangkupkan kedua tangan di dada.
“Bukan, Bu. Kami teman.”
“Oh.” Ibu itu mengerjap. “Maaf, Mbak, maaf. Habisnya serasi sekali.”
“Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih.”
Miyu menunduk, berpura-pura merapikan serbet. Di depannya, Kanata terdiam. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup lama bagi Miyu untuk menyadari bahwa pria itu tidak mengatakan apa pun, tidak menyela, dan tidak menambahkan “Benar, kami hanya teman”.
***
Satu kata itu masih berputar di kepala Kanata saat ia duduk di meja dekat jendela, memandang uap yang naik dari cangkir tehnya.
Teman.
Ia sudah memakai kata itu berkali-kali sejak di rumah sakit. Kita teman, bukan? Ia yang mengucapkannya, dengan tenang dan lancar, sebagai batas yang rapi di antara dirinya dan seorang wanita yang ia kira milik orang lain. Sekarang wanita itu tidak bersuami, dan kata yang dulu terasa seperti tembok tipis mulai terasa seperti sepatu yang kekecilan.
Sepersekian detik tadi, ketika ibu itu menyebut kata suami, sesuatu di dadanya tidak menolak. Itu yang membuat Kanata nyaris tersedak teh.
Kau menyukainya, bukan? Begitu bisikan Santa lima hari lalu, dan Kanata menjawabnya dengan satu kata dan satu pandangan ke arah lain. Itu pelarian, bukan jawaban. Ia tahu itu sekarang, ketika teh di cangkirnya mendingin tanpa disentuh dan matanya terus mengikuti seorang wanita berambut pirang yang menahan mual sambil tetap tersenyum kepada pelanggan.
Aku tidak ingin disebut teman, batinnya. Pikiran itu muncul begitu jernih, seperti pecahan kaca di meja kerja, dan ia tidak punya alat untuk menyingkirkannya.
Ponselnya bergetar di saku jas. Ia merogohnya, melihat nama di layar, dan menahan helaan napas.
“Revindo.”
“Selamat siang, Pak.” Suara CEO cabang Indonesia itu terdengar bersemangat dan sedikit tegang. “Maaf mengganggu makan siang Bapak. Soal toko pop-up Seiko Sai di Jakarta. Tim sudah mendapat jadwal pasti untuk soft-launch. Sekitar enam pekan lagi dari sekarang.”
“Enam pekan.”
“Betul, Pak. Pak Dali dan Pak Indra sudah mengonfirmasi lokasinya. Kami hanya menunggu persetujuan akhir Bapak untuk desain bagian depan.”
“Kirim gambarnya ke surel saya.” Kanata menurunkan suara tanpa sadar, memperhatikan Miyu yang sedang membawa nampan ke meja lain. “Saya akan melihatnya malam ini.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Sambungan terputus. Kanata menatap ponselnya sebentar, lalu menyimpannya, dan kembali menatap Miyu yang kini mengangkat nampan dengan kedua tangan, hati-hati sekali, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah.
Enam pekan. Itu lebih lama dari sisa dinasnya.
***
Pukul tiga sore, Miyu mengambil tas di loker karyawan dan melihat layar ponselnya menyala.
Nana: Lo siap Sabtu? Atau mau gue datang Kamis buat latihan?
Miyu: Belum siap
Miyu: Tapi gue nggak mau nunggu sampai siap, nanti nggak jadi-jadi
Nana: Itu baru Miyu yang gue kenal
Miyu menyimpan ponsel ke dalam tas dan berdiri sebentar menatap pintu logam yang dingin. Di luar, tawa Ira terdengar dari kejauhan, bercampur denting gelas dan dengung mesin espresso. Dunia terus berjalan. Ia menyelipkan sekotak biskuit asin ke dasar tas supaya tidak terlihat oleh Ira, lalu mengunci loker.
Ponselnya bergetar sekali lagi, sebelum ia sempat melangkah.
Nana: Tinggal 15 hari sebelum dia pulang