“Itu bukan jebakan, Mi,” bisik Nana. “Pintunya terbuka dan gue di sini. Lo bisa lari kapan pun.”
Miyu berdiri di ambang apartemen Kanata di lantai dua puluh dua, dan sudah hampir semenit kakinya menolak maju. Daun pintu diganjal sepasang sepatu kets.
“Gue tahu.”
“Lo masih berdiri kayak patung.”
“Gue lagi mengumpulkan keberanian.”
“Ambil dari tas gue. Gue punya cadangan.” Nana menepuk bahu Miyu, lalu masuk lebih dulu sambil menyapu seisi ruangan dengan mata seorang pengacara yang menilai tempat kejadian perkara. Ruang tamu luas, hampir kosong, dengan sofa abu-abu panjang, satu rak buku yang kebanyakan berisi dokumen, dan jendela setinggi langit-langit yang menjual seluruh Jakarta.
“Miyu! Nona Nana!” Santa muncul dari dapur dengan celemek bermotif beruang, membawa nampan penuh kue kering. Wajahnya sangat berusaha terlihat biasa, dan itu membuatnya terlihat paling tidak biasa. “Selamat datang. Jangan ragu. Anggap rumah sendiri, tetapi jangan terlalu rumah sendiri, karena ini rumah Kanata. Maksud saya, silakan.”
“Santa,” kata Nana, “tarik napas.”
“Saya sedang menariknya.”
“Pakai hidung.”
Miyu tertawa pelan, dan dengan tawa itu ketegangan di dadanya mengendur. Ia melangkah masuk. Dari balik jendela, langit Minggu itu pucat dan berawan, dan ia berdiri sebentar menatap gedung-gedung yang tampak seperti mainan.
“Kamu datang.”
Kanata muncul dari lorong dalam, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, tanpa dasi, rambut sedikit basah. Ia berhenti dua langkah di depan Miyu, tangan di sisi tubuh, tidak mendekat.
“Pintunya terbuka,” ujarnya. “Saya sengaja. Kalau kamu ingin pergi, kapan pun, tidak perlu memberi tahu saya alasan.”
“Saya tahu.” Miyu menatap rumahnya. Rumah pria ini, bersih, rapi, dan sedikit kesepian. “Terima kasih sudah membukanya.”
“Mikan menelepon pukul sebelas lewat lima belas. Ia memaksa melihat wajah kamu.” Kanata menggeleng pelan. “Saya sudah berkata tidak. Tiga kali. Tetapi ia terus menelepon, dan Santa…”
“Saya tidak bocor!” protes Santa dari dapur.
“Santa ikut menyebut bahwa ada seorang perempuan. Itu cukup bagi Mikan.” Kanata menurunkan suaranya. “Kamu tidak harus melakukan ini. Saya bisa mengatakan kamu sedang istirahat.”
“Tidak.” Miyu mengangkat dagu. “Lebih baik ia melihat saya sekarang, di sini, dengan kalian semua, daripada ia membayangkan yang bukan-bukan dari jauh. Orang yang tidak pernah kita temui lebih mudah dijadikan hantu.”
Sesuatu bergerak di wajah Kanata, hampir seperti hormat. “Baik. Saya duduk di sampingmu.”
“Tuan Saionji,” ralat Nana dari sofa, “duduk di antara saya dan Miyu. Santa di sisi satunya.”
“Itu formasi apa?”
“Formasi pengacara.”
***
Laptop diletakkan di meja kopi, disangga dua buku tebal. Layar menyala dengan gambar yang bergoyang, lalu wajah seorang perempuan berusia lewat tiga puluh dengan rambut hitam dipotong sebahu dan mata tajam memenuhi layar, begitu dekat sampai Miyu refleks mundur.
“Sepupu Kecil!” seru Mikan dalam bahasa Jepang. “Akhirnya! Kau bersembunyi dariku seperti anak tikus. Mana dia? Mana wanita itu?”
“Namanya Miyu,” sahut Kanata, juga dalam bahasa Jepang, dengan nada orang yang sudah terbiasa disentak. “Dan jaga mulutmu.”
“Aku menjaganya. Aku bahkan sudah memakai blus yang bagus.” Mikan mencondongkan badan, menyipitkan mata ke arah layar. “Ah. Itu dia. Halo, Miyu. Mendekatlah, aku tidak menggigit.”
Miyu menelan ludah, menegakkan punggung, dan duduk sedikit lebih ke depan. Di sampingnya Nana menahan napas, menunggu.
“Selamat siang, Nona Mikan,” ucap Miyu dalam bahasa Indonesia, dengan suara yang ia usahakan tenang.
“Hmm.” Mikan menyapu wajahnya dengan pandangan yang berakhir di perutnya, lalu naik lagi. Ia lalu berbicara cepat dalam bahasa Jepang, dengan aksen Tokyo yang tegas: “Berapa lama sudah? Kau makan teratur? Dokter siapa yang menanganimu? Kau tinggal bersama siapa? Dan jangan menjawab hanya “baik”, aku sudah mendengar jawaban itu dari sepupuku berminggu-minggu.”
Ruang tamu hening. Nana menoleh kepada Miyu dengan alis terangkat tinggi. Santa menahan napas. Kanata menatap lurus ke depan seperti sedang menunggu bom meledak dengan sopan.
Miyu mengangkat kepala. Ia menarik napas, dan menjawab dengan bahasa yang diajarkan kakeknya di sore-sore panjang.
“Sudah lebih dari tiga bulan, Nona Mikan. Saya makan tiga kali sehari, kadang empat kalau tidak mual. Dokter saya bernama Raina, seorang dokter kandungan yang baik. Saya tinggal di rumah kontrakan kecil dan kedua sahabat saya, yang duduk di sebelah saya ini, hampir setiap hari menginap bergantian.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dalam bahasa yang sama, lebih lembut: “Terima kasih sudah bertanya. Sudah lama tidak ada orang di luar sahabat saya yang bertanya sedetail itu.”
Layar membeku sebentar. Mungkin sambungan internet. Mungkin tidak.
“Apa yang barusan kalian bicarakan?” bisik Nana tanpa menggerakkan bibir.
“Dia tanya gue makan teratur atau enggak.”
“Dan lo jawab sepanjang itu?”
“Gue juga bilang makasih.”
“Gue menyesal tidak ikut kursus waktu itu,” gumam Nana, sementara di dapur Santa nyaris menjatuhkan nampan kue ke lantai.
“Kanata.”
“Ya.”
“Kau tidak bilang dia bisa berbahasa Jepang?!”
“Aku baru tahu pekan lalu.” Kanata tidak berkedip. “Kami semua baru tahu.”
“Seminggu! Kau menyimpan ini selama seminggu?” Mikan menepuk meja di seberang sana dengan telapak tangan, dan di belakangnya terdengar benda jatuh. “Dan aksennya! Bagus sekali! Kakekmu siapa, Nak? Siapa yang mengajarimu? Ah, tunggu, jangan jawab dulu, Mizuki! Mizuki, kemari, lihat ini!”
Seorang perempuan yang lebih muda masuk ke bingkai layar dengan canggung, bahu merapat, rambut diikat kuncir sederhana. Ia mengenakan kacamata berbingkai tipis dan sebuah map kosong di tangan, seperti orang yang diseret dari kantornya di hari Minggu.
“Halo,” ujar Mizuki, hampir berbisik. Ia membungkuk kaku ke layar. “Saya Mizuki. Maaf mengganggu. Kakak saya… bersemangat.”
“Selamat siang, Nona Mizuki.” Miyu membungkuk kecil dari kursinya, dan perempuan di layar itu terlihat sedikit lega.
“Bersemangat!” protes Mikan. “Aku cuma peduli!”
“Mikan,” sela Kanata, nada suaranya turun satu tingkat, “kalau kau menelepon hanya untuk ini, cukup. Miyu tidak perlu diinterogasi.”
“Aku tidak menginterogasi. Aku memeriksa.” Mikan menyandarkan punggung, dan wajahnya yang tadi riang mendadak berubah, lebih serius, lebih letih. “Baik. Aku puas. Dia tampak sehat dan tegar. Kau beruntung, Bocah.”
“Terima kasih.”
“Dan kau, Miyu,” tambah Mikan, kali ini dalam bahasa Jepang yang lebih pelan, “kalau sepupuku keterlaluan, telepon aku. Nomorku ada pada Santa. Aku bisa menjewer telinganya dari sini.”
“Saya akan ingat, Nona Mikan.”
“Sekarang dengar. Ada hal yang sebenarnya jadi alasan aku menelepon.” Mikan menatap kamera lurus. “Hosho tahu kau memperpanjang dinas. Dia menyuruh asistennya memperpanjang paspornya kemarin. Tiket yang kuceritakan tempo hari tinggal dicetak, dan sekarang paspornya pun beres. Dia akan datang, Kanata. Itu sudah pasti.”
“Aku tahu. Soal tiket itu kau sudah bilang.”
“Satu lagi.” Mikan ragu sepersekian detik, hal yang jarang terjadi. “Dia juga sudah bicara dengan keluarga Hanakomachi. Christine akan diundang ke peluncuran toko pop-up itu. Sebagai tamu kehormatan, Hosho bilang.”
Ruang tamu mendadak terasa lebih dingin.
Kanata berdiri. Ia tidak sadar melakukannya sampai ia melihat cangkir teh di meja kopi bergetar akibat sikunya. Tangannya mengepal, dan untuk sesaat topeng tenang yang biasa ia kenakan retak jelas, memperlihatkan seseorang yang jauh lebih marah dan lebih takut daripada yang pernah Miyu lihat.
Miyu memperhatikannya dalam diam. Setiap kata tadi ia mengerti, termasuk satu nama yang diucapkan lebih pelan dari yang lain.
“Duduk, Bocah,” kata Mikan dari layar, tanpa jenaka sedikit pun. “Aku belum selesai.”