Perempuan itu masuk ke Anomali Senin sore tanpa terburu-buru, dan seluruh kafe, tanpa alasan yang bisa dijelaskan, menoleh pada saat yang sama sebelum bel pintu selesai berdenting.
Ia tinggi, semampai, dan berjalan seperti orang yang tidak pernah sekali pun memikirkan lantai di bawah kakinya. Rambut cokelat kemerahan bergelombang jatuh sampai punggung. Ia memakai gaun krem sederhana dengan potongan yang jelas tidak dibuat untuk dijual di toko mana pun, dan di belakangnya, selangkah, berjalan seorang perempuan muda berkemeja putih yang memeluk map tebal.
“Cewek sosialita,” bisik Ira dari balik mesin kasir, menyikut Reno. “Lihat tasnya. Gue sampai pegang dada.”
“Diam,” balas Reno tanpa menggerakkan bibir. Matanya sudah menyapu dua pintu keluar.
Miyu, yang sedang membereskan meja empat, mengangkat kepala. Ia tidak perlu tahu namanya untuk tahu siapa perempuan itu. Bukan karena rambutnya, bukan karena gaunnya. Karena cara perempuan itu memandang seisi kafe, pelan dan cermat, seperti orang yang mencari sesuatu di antara perabot yang tidak ia kenal, dan akhirnya menemukannya.
Ia berhenti tepat di depan meja Miyu.
“Maaf mengganggu,” ujarnya dalam bahasa Inggris, sopan dan jernih. “Apakah ini Anomali Menteng? Saya diberi tahu teh di sini cukup baik.”
“Benar, Nona.” Miyu menjawab dalam bahasa yang sama, tanpa ragu. “Silakan duduk di mana pun yang Anda suka. Meja enam dekat jendela sedang kosong.”
Perempuan itu tersenyum, dan senyum itu tidak palsu, sialnya. “Terima kasih. Dan Anda?”
“Saya Agatha. Saya akan melayani Anda.”
“Nona Agatha.” Ia mengulang pelan, seperti mencicipi sesuatu. “Nama yang indah. Saya Christine. Hanakomachi Christine. Saya teman lama Kanata.”
Di belakang kasir, Ira menahan napas begitu keras sampai Reno menyentuh pergelangan tangannya.
***
Meja enam, hari itu, tidak terasa seperti meja kafe. Asisten Christine berdiri di sampingnya dengan map terbuka, mencatat sesuatu setiap kali majikannya berbicara, dan Christine sendiri duduk tegak dengan tangan terlipat di atas taplak. Miyu meletakkan teko dan cangkir, lalu menuang sedikit. Uap tipis naik di antara mereka.
“Anda hamil,” ujar Christine, lembut, hampir seperti memuji cuaca. Pandangannya turun ke perut Miyu yang sudah sedikit membulat di balik celemek, lalu naik lagi ke wajahnya. “Selamat. Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya terlalu terkesan untuk berpura-pura tidak melihat.”
Miyu menaruh teko. “Terima kasih, Nona Christine.”
“Berapa pekan?”
“Enam belas.”
“Dan Anda masih bekerja delapan jam berdiri.” Christine menggeleng kecil. “Itu mengagumkan. Ibu saya selalu berkata, perempuan yang lelah akan menurunkan lelahnya kepada anaknya.”
“Itu teori yang menarik.”
“Tidak ilmiah, saya kira. Tetapi menenangkan.” Christine menyesap tehnya, dan wajahnya sedikit berubah. Bukan jijik, bukan kagum, hanya mengenali sesuatu. “Ini bukan teh yang ia sukai.”
“Siapa?”
“Kanata. Dulu ia selalu minta yang pahit. Di sekolah ia membawa termos kecil dan meminumnya sambil membaca. Kami mengejeknya sebagai kakek berumur tujuh belas tahun.” Ia tersenyum pada masa lalu yang tidak diundang. “Mungkin ia mengubah seleranya. Orang bisa berubah.”
Miyu mengambil serbet di nampan dan melipatnya, dua kali, sebelum menjawab. “Beliau memesan carbonara dan teh seduh biasa hampir setiap hari, Nona. Mungkin seleranya tidak berubah. Mungkin ia sudah mulai belajar menerima yang lain.”
Sesaat Christine memandangnya. Ada sesuatu yang terlipat di balik matanya, dan Miyu tidak bisa membacanya. Lalu perempuan itu tertawa pelan.
“Bahasa Inggris Anda sangat baik,” ucap Christine, mengalihkan topik dengan mulus. “Aksennya seperti orang yang pernah bekerja dengan kata-kata.”
“Saya dulu penerjemah dan editor, Nona. Sebelum kafe.”
“Kanata tidak pernah menyebutnya.”
“Mungkin beliau tidak merasa perlu.”
“Atau mungkin ia menyimpannya.” Christine meletakkan cangkir. “Anda punya telinga yang bagus untuk detail, Nona Agatha. Saya mengerti sekarang.”
“Mengerti apa?”
“Mengapa orang-orang yang saya temui di Tokyo berkata bahwa Kanata berubah.” Ia merapikan serbetnya. “Saya tidak akan mengganggu lebih lama. Anda sedang bekerja.”
Ia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah kartu putih tebal. Tidak ada logo mewah, hanya nama, dua nomor telepon, dan sebuah alamat hotel yang sama dengan hotel tempat Hosho menginap. Ia meletakkannya di atas taplak, sejajar dengan tepi meja, persis seperti Hosho meletakkan tongkatnya.
“Untuk jaga-jaga,” katanya. “Saya akan menetap di Jakarta beberapa pekan. Jika Anda membutuhkan sesuatu, atau sekadar ingin berbicara dengan seseorang yang bukan staf kafe dan bukan sahabat.” Ia berdiri, dan asistennya menutup map tanpa suara. “Minum teh denganku kapan-kapan.”
Ia membayar tehnya dengan uang tunai dan menaruh tip di nampan. Ira, yang menerimanya, menatap jumlahnya dengan rahang jatuh dan harus menyingkir sebentar.
Begitu pintu kembali berdenting dan dua perempuan itu menghilang ke dalam mobil yang menunggu di tepi jalan, seluruh kafe menarik napas bersamaan. Ira berlari ke bar dan nyaris menabrak Reno.
“Dia ramah banget! Dia sopan banget! Dia cantik banget! Gue nggak percaya gue nggak bisa benci dia!”
“Gue bisa,” gumam Reno, mengelap meja yang sudah bersih. “Dia nggak jahat. Itu yang bikin gue curiga.”
“No, jangan ngomong kayak film.”
“Orang yang jahat kelihatan jahat, Ra. Orang yang rapi begitu datang bukan untuk minum teh.” Reno menoleh pada Miyu yang sedang menyimpan nampan. “Tha. Lo baik-baik aja?”
“Gue baik.” Miyu tersenyum, tipis. “Tehnya yang kurang manis, katanya.”
“Nggak ada yang bilang gitu.”
“Dia nggak bilang. Gue yang dengar.”
***
Pukul sembilan malam, Miyu duduk di teras rumah kontrakannya dengan ponsel di telinga dan kartu putih itu tergeletak di meja kecil di sampingnya. Di dalam, suara Nana dan Aya bercakap-cakap terdengar jauh, di sela bunyi pelan piring dicuci.
“Dia datang ke kafe,” kata Miyu. “Tadi siang. Sendirian, kecuali asistennya.”
Di ujung telepon, Kanata terdiam lama. “Saya tidak tahu dia akan melakukan itu.”
“Saya tidak menyalahkan kamu.”
“Apakah kamu ingin saya datang malam ini?”
“Tidak. Besok datang saja seperti biasa. Kalau kamu tiba-tiba tidak datang, Ira akan menyimpulkan yang aneh-aneh.”
“Saya tetap menyesal. Apa yang ia katakan?”
“Banyak hal sopan.” Miyu memandang kartu itu. “Dia ramah. Terlalu ramah, mungkin. Dia bilang kamu dulu minum teh pahit.”
“Itu benar.”
“Dan dia temanmu di SMA.”
“Ia teman satu angkatan.” Kanata menarik napas. Miyu bisa mendengar suaranya bergeser, seolah ia berpindah posisi duduk. “Ada hal yang sebaiknya saya katakan sebelum orang lain. Christine menyukai saya sejak SMA. Saya menolaknya, berkali-kali.”
“Kamu menolaknya?”
“Berkali-kali.”
Miyu menahan senyum yang tiba-tiba muncul, tidak jelas dari mana. “Berapa kali?”
“Saya tidak menghitung. Santa bilang lebih dari lima belas. Ia selalu menyatakannya dengan lebih halus setiap kali, dan setiap kali saya menolak dengan lebih halus juga, sampai saya sendiri tidak yakin penolakan saya masih terdengar seperti penolakan.” Kanata diam sejenak. “Itu kesalahan saya. Saya tahu sekarang.”
“Dia tidak jahat, Kanata.”
“Saya tahu. Itu sebabnya sulit.”
Setelah telepon ditutup, Miyu duduk lama di teras, mendengarkan jangkrik. Kartu putih di meja itu tampak sangat bersih di bawah lampu teras, seperti sesuatu yang tidak pernah disentuh debu. Ia mengambilnya, membalik, dan di sisi belakang, dengan tinta biru tua dan tulisan tangan yang indah, terdapat satu kalimat pendek.
Minum teh denganku kapan-kapan.