Burung di pohon mangga belakang rumah Aya memang ribut sekali di pagi hari, dan Miyu, sesuai ramalan, sudah melewati tahap membencinya dan sampai di tahap menantikannya. Sebelas hari ia tinggal di kamar belakang itu. Sebelas hari ia bangun pukul enam tanpa alarm, menyeduh teh sendiri di dapur Aya yang berantakan penuh naskah, dan duduk di teras memandang halaman kecil sambil mengusap perutnya.
Sabtu sore, Nana datang membawa martabak manis dan wajah seorang jaksa yang akan membacakan dakwaan.
“Taruh ponsel lo,” katanya dari ambang pintu teras.
Miyu, yang sedang menatap layar dengan ibu jari menggantung, tersentak. “Gue cuma ngecek jam.”
“Layar ponsel itu tidak punya jam di bagian yang lo pencet. Itu aplikasi pesan.” Nana mengempaskan diri ke kursi rotan, menaruh kotak martabak di meja, dan menyilangkan lengan. “Tiga puluh dua kali pagi ini. Gue hitung dari lantai atas.”
“Lo nggak ada di sini pagi ini.”
“Aya melapor.”
Aya, yang duduk bersila di lantai teras dengan laptop di pangkuan dan wajah pura-pura sibuk, mengangkat tangan tanpa mengangkat mata. “Tiga puluh satu. Gue bohong satu supaya kelihatan adil.”
Miyu menjatuhkan ponsel ke pangkuan. “Kalian ini.”
“Mi.” Suara Nana turun, dan itu pertanda ia tidak lagi berniat berkelakar. “Sebelas hari. Sebelas hari lo cerita ke kami soal rumah teh, soal lounge, soal kata “berutang”, soal cincin di balkon, soal surat. Gue dengerin semuanya. Gue nggak nyela. Sekarang giliran gue.”
“Silakan.”
“Ini bukan soal balas budi.”
Miyu membuka mulut.
“Biarin gue selesai.” Nana mencondongkan badan, siku di lutut. “Lo ngomong “berutang” itu berat, dan itu benar. Christine dan Hosho memukul tempat yang tepat, dan itu juga benar. Tapi lo sendiri bilang Kanata nggak pernah nagih satu rupiah pun. Dia nggak minta lo bayar. Dia bahkan melamar dua kali dan mundur dua kali tanpa marah. Orang yang menagih nggak begitu.” Ia menarik napas. “Lo nggak takut dia nagih, Mi. Lo takut dia nggak nagih. Lo takut lo mulai bergantung, mulai percaya, mulai sayang, lalu dia pergi, dan lo sendirian lagi kayak waktu umur sepuluh.”
Sunyi. Burung mangga berhenti berkicau seolah ikut menyimak.
“Ini bukan soal balas budi,” ulang Nana lebih pelan. “Ini soal lo takut dicintai, lalu ditinggal lagi.”
Miyu tidak menjawab. Matanya sudah panas tanpa ia sadari. Kata-kata itu tidak datang dengan keras, tetapi ia tepat, dan tepat kadang lebih sulit diterima daripada keras.
“Na,” bisik Aya.
“Gue belum selesai.”
“Udah.” Aya menutup laptop dan merangkak ke dekat kursi Miyu, lalu bersandar di lututnya seperti kucing besar. “Lo udah selesai. Mi, takut itu bukan dosa. Nana bukan nyuruh lo berhenti takut. Dia cuma nggak mau lo salah nama.”
“Salah nama?”
“Lo kasih nama “utang” ke hal yang sebenarnya namanya lain.” Aya memiringkan kepala. “Gue ngomong sebagai orang yang nulis sembilan naskah dan paling sering salah di bagian itu.”
Miyu tertawa pendek, bercampur isak, dan mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Kalian ngeselin.”
“Itu fungsi kami.” Nana menyodorkan martabak. “Makan. Gue bawa yang kacang cokelat.”
Miyu menggigit sepotong kecil. Manisnya terlalu pas untuk sore yang seberat ini. Ia mengunyah pelan, menelan, lalu bertanya tanpa menatap siapa pun, “Dia gimana?”
“Siapa?” Nana pura-pura bodoh.
“Na.”
“Kanata?” Nana mengambil sepotong martabak untuk dirinya sendiri. “Dia nggak datang ke sini. Nggak telepon Aya, nggak kirim apa pun. Sabtu kemarin dia duduk di kantor gue, nanya apakah lo sehat, dan setelah gue jawab, dia nggak minta apa-apa lagi.” Ia mengunyah. “Sebelumnya, Reno bilang dia sempat mau nyetir ke sini, terus naruh kunci mobilnya di meja kafe. Di depan semua orang.”
Miyu membeku dengan martabak di tangan. “Dia... apa?”
“Nggak jadi nyetir.” Nana mengangkat bahu. “Hosho pulang ke Tokyo Rabu lalu. Christine nggak muncul-muncul lagi. Lo nggak perlu gue ceritain detailnya, dan gue nggak akan.”
“Kenapa lo nggak bilang dari kemarin?”
“Karena kemarin lo belum nanya.”
Miyu menunduk. Di pangkuannya, ponsel bergetar sekali, hanya notifikasi dari toko daring yang tidak penting, tetapi ia tetap menatapnya terlalu lama.
Malamnya mereka makan mi instan bertiga di dapur Aya yang berantakan, karena menurut Nana, perempuan yang baru menangis tidak boleh dibiarkan memasak, dan menurut Aya, mi instan adalah obat segala patah hati yang belum jelas. Miyu menghabiskan semangkuk penuh dan setengah mangkuk Nana. Tak seorang pun menyinggung nama Kanata lagi sampai lampu dapur dimatikan, tetapi Miyu tahu bahwa nama itu sudah ikut duduk di meja, di kursi kosong keempat, tanpa mengambil porsi.
***
Pukul dua pagi, Miyu terbangun tanpa tahu kenapa.
Kamar belakang itu gelap, kecuali garis tipis lampu jalan yang menyelinap lewat celah tirai. Napas Aya terdengar dari kamar sebelah, teratur dan sedikit mendengkur. Miyu berbaring miring, satu tangan di bawah pipi, satu lagi di atas perutnya yang sudah membulat jelas di balik piyama longgar.
Lalu ia merasakannya.
Sebuah kibasan. Sangat halus, sangat singkat, di sisi kiri bawah, seperti ada kupu-kupu kecil yang menyentuhkan sayapnya dari dalam. Miyu membeku. Ia menahan napas, menekan telapak tangan lebih rapat, dan menunggu.
Satu lagi. Lebih jelas kali ini.
Napasnya tersangkut di dada. Ia bangkit setengah duduk, tangan masih di perut, dan air mata sudah menggenang sebelum ia sempat memutuskan apakah ia ingin menangis atau tertawa. Ia melakukan keduanya sekaligus, tanpa suara, tersedu-sedu dalam gelap dengan mulut yang tersenyum.
“Hai,” bisiknya. “Hai, kamu.”
Kibasan ketiga. Seolah menjawab.
Pintu kamar berderit. Aya berdiri di ambang dengan rambut kusut dan mata setengah terbuka, mengenakan kaus kebesaran bergambar bebek. “Mi? Lo nangis? Perut lo sakit? Gue panggil Nana?”
“Dia gerak, Aya.” Miyu tertawa dengan wajah basah. “Dia gerak. Dua, tiga kali. Kayak kupu-kupu.”
Aya membeku sedetik. Lalu ia menutup mulut dengan kedua tangan, melompat kecil, dan menjerit tanpa suara. Ia duduk di tepi ranjang, ikut menangis, dan memegang bahu Miyu.
“Gue ambilin teh,” bisiknya parau. “Teh jahe. Jangan ke mana-mana.”
Aya pergi. Miyu duduk sendirian di kamar yang kini hangat oleh sesuatu yang bukan lampu.
Dan di tengah semua itu, sebuah pikiran muncul tanpa diundang, terang dan tak bisa diusir: Kanata tidak merasakan ini.
Bukan utang yang membuatnya berpikir begitu. Bukan tanggung jawab, bukan rasa sungkan, bukan juga takut. Kanata berhak. Hanya itu. Dia ayahnya. Dia lelaki yang membaca satu setengah dari tujuh buku kehamilan hanya agar tahu kapan harus membawa biskuit asin. Dia berhak merasakan kibasan kecil ini, bukan karena ruang Perdana dan bukan karena kartu nama, tetapi karena ini miliknya juga.
Ponselnya tergeletak di bantal. Miyu meraihnya. Layar menyala terang di tengah gelap dan memperlihatkan percakapan yang terakhir ia buka sebelas hari lalu. Di bagian paling bawah masih ada pesan terakhir Kanata, yang sengaja tidak ia balas: Kalau kamu butuh apa pun, saya ada. Setelah itu tak ada lagi satu pun. Kanata menepati permintaannya sampai ke huruf terakhir.
Ia mengetik: Kanata, dia bergerak.
Ia menatap kalimat itu. Terlalu singkat, terlalu seperti pengumuman. Ia menghapusnya.
Ia mengetik: Saya ingin kamu tahu bahwa
Ia menghapusnya.
Ia mengetik: Maaf. Saya
Layar bergetar kecil karena jarinya gemetar. Ia menekan tombol hapus sampai kolom itu kosong.
“Teh jahenya,” bisik Aya dari pintu, membawa cangkir dengan dua tangan seperti membawa lilin. Ia melirik layar ponsel yang masih menyala, kolom pesan yang kosong, dan menaruh cangkir di nakas tanpa berkomentar. “Gue nggak nanya.”
“Makasih.”
“Gue juga nggak bakal nanya kapan lo kirim.” Aya duduk di tepi ranjang. “Tapi dia gerak lagi nggak?”
Miyu meraih pergelangan tangan Aya dan menaruh telapaknya di sisi kiri perutnya. Mereka menunggu, berdua, tanpa bernapas, sampai sesuatu menyentuh dari dalam. Satu kibasan sangat kecil.
“Astaga,” Aya berbisik. “Dia nyapa gue.”