“Aku sudah menggosok kotaknya tiga kali,” kata Santa, dan menyodorkan kotak beludru kecil itu kepada Kanata untuk keempat kalinya malam itu.
Lima hari sesudah makan malam bersama Mikan, apartemen Kanata di lantai dua puluh dua dipenuhi bau pasta gigi dan setrika uap. Kanata berdiri di depan cermin besar di lorong, sedang mengikat dasi untuk ketiga kalinya, dan Santa mondar-mandir di belakangnya dengan langkah yang kalau dicatat bisa menghasilkan jalur lari yang cukup panjang.
“Kotaknya tidak butuh dosis keempat.”
“Tapi cincinnya.”
“Cincinnya sudah bersih sejak kemarin.” Kanata menarik simpul dasi, mengurainya, dan mengulang. “Santa. Berhenti bergerak.”
“Aku tidak bisa. Ramalan Capricorn pagi ini...”
“Jangan.”
“...bilang “Keputusan penting hari ini akan dijawab dengan satu kata.”” Santa menarik napas dramatis. “Hanya satu kata, Kanata! Kau paham? Ya atau tidak! Satu kata!”
Kanata menutup mata sebentar. Ketika membukanya, wajahnya tidak terlihat seperti orang yang akan melamar. Ia terlihat seperti orang yang akan menyeberang jembatan tali di atas jurang, dan itu lebih jujur daripada semua jas yang ia miliki. “Jangan menangis di sana, Santa.”
“Itu tergantung hasilnya.”
***
Anomali tutup pukul sepuluh. Tirai diturunkan separuh, lampu utama dimatikan, dan hanya lampu gantung di atas meja enam yang menyala, memberi lingkaran cahaya kuning di tengah ruang yang kosong. Pak Rudi sudah mengizinkan, dengan syarat meja dibersihkan sendiri sesudahnya. Ira, yang mengunci pintu dapur, menempelkan telunjuk di bibir ke arah Kanata dan Santa seperti penjaga rahasia negara.
Aya dan Nana tiba lebih dulu, sesuai permintaan Kanata lewat pesan yang ditulis dalam bahasa terformal yang pernah Nana lihat. Mereka duduk berseberangan dengan Kanata di meja enam. Nana, bersedekap dan menatap tajam. Aya, dengan tangan mencengkeram lengan jaketnya sendiri.
“Saya akan langsung ke inti,” kata Kanata. Ia berdiri, bukan duduk. “Saya ingin melamar Miyu malam ini. Dan saya ingin memohon restu Nona Aya dan Nona Nana terlebih dahulu. Bukan karena Miyu memerlukan izin untuk memilih sendiri. Tapi karena Anda berdua adalah keluarganya, dan keluarga berhak didengar.”
Hening. Aya membuka mulut, menutupnya, membuka lagi.
“Boleh kami mengajukan syarat?” tanya Nana.
“Silakan.”
Nana menegakkan badan. Dari tasnya ia mengeluarkan selembar kertas lipat, yang sudah ia revisi empat kali sejak pagi, dan ia membacanya dengan suara yang digunakannya di ruang sidang. “Pasal satu. Anda tidak akan pernah menjadikan apa pun yang Anda berikan kepadanya sebagai dasar untuk meminta sesuatu darinya.”
“Setuju.”
“Pasal dua. Dia boleh bekerja, menolak, dan membuat keputusan tanpa meminta izin. Dia boleh salah tanpa dihakimi.”
“Setuju.”
“Pasal tiga. Kalau dia ketakutan, Anda tidak menjawab dengan logika. Anda tinggal.”
Kanata menatap Nana. “Setuju. Dan saya tidak akan menyebutnya ketakutan. Saya akan menyebutnya perlu ditemani.”
Nana berkedip. Kertas di tangannya gemetar sedikit. “Pasal empat. Kalau Anda melakukan kesalahan, Anda mengakuinya sebelum dia perlu menemukannya sendiri.”
“Setuju.”
“Pasal lima...” Suara Nana turun, lalu pecah di tengah. Ia mengangkat kertas itu lebih tinggi untuk menutupi wajahnya. “Pasal lima. Dia anak yatim yang sudah terlalu lama menunggu seseorang pulang. Kalau Anda berjanji pulang, pulanglah. Selalu.”
“Selalu,” kata Kanata, tanpa jeda.
Nana melempar kertas ke meja dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang. “Jangan lihat gue,” katanya teredam. “Gue pengacara. Gue nggak nangis.”
Aya, yang sudah menangis sejak pasal tiga, menjulurkan tangan dan menarik Nana ke bahunya tanpa berkata apa pun. Mereka duduk begitu beberapa saat, dua perempuan yang selama sembilan tahun telah memasang punggung mereka di depan Miyu, dan kini menyerahkan sebagian beban itu dengan tangan gemetar.
“Anda punya restu kami,” ujar Aya akhirnya, terisak. “Dari kami berdua.”
“Dan mulai sekarang,” tambah Nana, menurunkan tangan, hidung merah dan mata basah, “panggil kami Aya dan Nana. Lo juga boleh bilang lo-gue kalau mau. Kanata.”
Kanata menunduk dalam. “Terima kasih. Aya. Nana.”
***
Miyu tiba pukul sepuluh lewat tiga puluh, diantar taksi. Pintu depan Anomali terkunci, tapi dari dalam Pak Rudi memutar kunci tepat ketika ia mengangkat tangan untuk mengetuk. Ia melangkah masuk, dan lonceng pintu berdenting di ruang yang sepi.
Meja enam berdiri di tengah lingkaran cahaya kuning, dan Kanata berdiri di sampingnya, sendirian. Jas hitam, dasi yang akhirnya terikat benar, dan tangan yang mengepal di sisi tubuh.
Dari balik konter dessert terdengar isakan tertahan, dan Ira menepuk-nepuk punggung seseorang sambil berbisik “Sstt, Tuan Santa, sstt,” seperti menenangkan bayi. Di sudut gelap dekat mesin kopi, Reno berdiri dengan tangan di dada, menatap lurus ke depan, tampak seperti patung penjaga yang kebetulan sedang berusaha keras tidak tersenyum. Aya dan Nana sudah menyelinap ke ruang kerja Pak Rudi. Miyu tahu karena celah pintu terbuka dua senti, dan dari sana tampak dua pasang mata menempel seperti kucing di jendela. Ia menahan senyum.
“Kamu terlambat tiga puluh menit,” kata Kanata.
“Taksinya salah belok. Dan aku lapar.”
“Ada puding Pak Edo di meja.”
“Aku lihat.” Miyu berjalan mendekat. “Kamu pucat.”
“Aku belum makan.”
“Kanata.”
“Aku akan makan sesudahnya.” Ia menarik napas, lalu berlutut dengan satu lutut. Gerakannya canggung dan terlalu cepat, dan lututnya menghantam lantai dengan bunyi yang cukup keras sampai dari ruang kerja terdengar seseorang menahan tawa. Kanata mengabaikannya. Dari saku jas ia mengeluarkan kotak beludru itu, membukanya.
Cincin emas putih tipis dengan batu bening kecil. Persis yang pernah ia tawarkan di balkon dan ditolak. Miyu mengenalinya seketika.
“Ini cincin yang sama,” kata Kanata, suaranya rendah. “Aku sengaja. Aku membelinya waktu itu bukan untuk membayar apa pun, bukan untuk menutup apa pun. Dan aku ingin kamu tahu aku tidak mengganti isinya. Hanya caraku bertanya.”
Mata Miyu sudah panas.
“Dua kali aku melamar karena alasan yang salah. Supaya selesai. Supaya aman. Supaya Hosho diam.” Kanata mengangkat wajah, dan sorot ambernya bersih dari semua perhitungan. “Aku melamarmu bukan supaya selesai. Aku ingin bangun pagi di sampingmu dan mendengar kamu mengomel soal vitamin. Aku ingin menjadi orang yang kamu teriaki karena lupa makan. Aku ingin menunggu bersamamu dan menggendong anak kita dan menjadi bodoh bersama dalam bahasa mana pun yang kamu mau.” Ia menelan. “Miyu. Maukah kamu menikah denganku?”
Dunia di sekitar meja enam menyempit menjadi lingkaran cahaya dan lelaki yang berlutut di tengahnya. Miyu mendengar detak jantungnya sendiri, dan di bawahnya, kecil sekali, kibasan lain dari dalam. Seolah anak itu menahan napas juga.
“Ya,” kata Miyu.
Kanata mengerjap. “Ya?”
“Ya.” Ia tertawa dalam tangis, menjulurkan tangan kiri yang gemetar. “Ya, Kanata. Aku mau. Dan sesudah ini kamu makan puding itu sampai habis, tanpa membantah.”
“Aku akan makan dua.”
“Satu cukup. Yang kedua untukku.”
Cincin itu meluncur ke jari manisnya, pas, seolah ukurannya sudah ditakar sejak awal. Kanata menunduk dan mencium punggung tangan Miyu dengan dahi menempel di sana sedikit lebih lama dari yang sopan. Dari ruang kerja pecah suara teriakan tertahan, lalu bunyi sesuatu jatuh, lalu suara Nana berseru, “Gue bilang jangan dorong pintunya!”
Miyu tertawa lebih keras. Kanata, yang masih berlutut, ikut tertawa, tapi dengan bahu yang bergetar dan mata yang basah.
“Aku harus memberi tahu Hosho,” katanya akhirnya, tersengal. “Minggu. Boleh?”
“Boleh,” kata Miyu. “Kita telepon bersama.”