Roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta pukul 05.31, dan Kanata sudah menekan tombol daya ponselnya sebelum lampu tanda sabuk pengaman padam.
Layar menyala. Getar pertama datang sebelum ia sempat menarik napas, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ponsel itu bergetar tanpa jeda di telapak tangannya, seperti binatang kecil yang panik. Empat puluh dua pesan. Delapan belas panggilan tak terjawab. Ia membuka yang paling atas, dari Aya, pukul 05.12.
Aya: Pembukaan tujuh. Dia nyebut nama lo tiga kali. Cepetan, tapi jangan nyetir sendiri.
Kanata berdiri sebelum pramugari selesai mengumumkan. Di sampingnya, Santa, yang sepanjang penerbangan tidak tidur karena menolak mengambil risiko, sudah menyodorkan koper kabin kecil seperti pelayan yang menyodorkan baki.
“Kau baca?” tanya Santa.
“Tujuh.”
“Itu bagus. Anak pertama biasanya sembilan sampai sepuluh jam, aku membaca di buku nomor tiga.” Ia menarik napas. “Aku sudah menelepon sopir kita. Ia menunggu di pintu kedatangan, mobilnya dipanaskan sejak lima.”
“Santa.”
“Ya?”
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih. Lari.”
Mereka berlari. Di konter imigrasi, petugas berseragam menatap paspor Kanata, lalu wajahnya yang kusut, lalu dasinya yang miring, dan bertanya dengan nada rutin, “Keperluan di Indonesia, Pak?”
“Istri saya sedang melahirkan,” kata Kanata.
Petugas itu mengerjap sekali, mengetuk stempel, dan berkata, “Silakan, Pak. Cepat.” Antrean di belakang mereka bergeser tanpa protes. Seorang ibu menggenggam tangan di dada.
Di dalam mobil, Santa memegang pegangan atas pintu dengan dua tangan, sementara sopir muda itu, yang kini jauh dari takut, melaju seperti pembalap yang membawa organ transplantasi. Matahari belum terbit penuh. Langit di ufuk timur berwarna kuning pucat, dan Kanata memandangnya tanpa melihat apa pun. Ia hanya terus menggenggam omamori di pergelangan tangannya, tali merah yang sedikit miring, simpul orang yang tidak pernah belajar menjahit.
Pukul enam lewat empat puluh, ia berlari melewati lobi RSU Bunda.
***
Miyu tidak mendengar pintu ruang bersalin terbuka. Ia sedang menatap langit-langit di antara dua kontraksi, dengan keringat dingin di pelipis dan rambut pirangnya menempel di leher. Dokter Devan baru saja pamit karena jaganya berakhir, tetapi sebelum pergi ia menepuk bahu Miyu dan berkata, “Anda baik-baik saja. Lanjutkan.” Dokter Raina duduk di kursi pojok dengan secangkir teh yang tak diminum.
Lalu ia mendengar suara itu.
Bukan satu kalimat. Hanya beberapa kata dalam bahasa Jepang, diteriakkan dengan napas habis dan nada yang pecah di tengah. Miyu menoleh. Di ambang pintu berdiri Kanata, jasnya kusut, dasinya miring, rambutnya acak-acakan oleh udara pesawat dan lari, persis seperti di mimpinya. Bedanya, kali ini ia bisa mendengar seluruh kata-katanya.
Aku pulang. Aku sudah pulang.
“Kamu telat,” kata Miyu, dan suaranya pecah menjadi tawa yang berubah menjadi isak.
“Aku tepat waktu.”
“Aku bilang pulang Rabu malam.”
“Pesawatnya tertunda dua jam.”
“Alasan.” Ia mengulurkan tangan, dan lelaki itu menyeberangi ruangan dalam dua langkah. “Kamu bau pesawat.”
“Boleh?” tanya Kanata, dengan tangan melayang di atas tangannya.
“Kamu masih tanya?”
“Setiap kali.”
“Boleh. Pegang yang kencang.”
Kanata menggenggamnya dengan dua tangan. Di belakangnya, Aya berdiri dengan mata merah dan senyum lebar yang tidak mampu ia sembunyikan, sementara Nana menyandarkan punggung ke dinding, melipat tangan, dan menatap langit-langit dengan ekspresi pengacara yang menolak menangis di depan saksi. “Gue di luar,” katanya. “Jagain pintu. Kalau Santa masuk, gue usir.”
Ia dan Aya keluar. Pintu menutup.
Berjam-jam setelahnya menjadi satu kesatuan yang lebur: kontraksi, hitungan, kain basah di dahi, tangan yang berpindah-pindah, suara Dokter Raina yang tenang dan tegas. Pembukaan delapan, lalu sembilan. Kanata duduk di sisi tempat tidur, menuangkan air dengan sedotan, mengelap keringat, menghitung bersama Miyu tarik empat, hembus enam, dan kali ini napasnya tidak lebih keras daripada napas Miyu. Ia belajar dari kelas boneka, dan Miyu bahkan sempat berpikir bahwa lelaki itu pantas mendapat bintang kedua.
“Kamu hebat,” kata Kanata, entah ke berapa kalinya.
“Jangan bicara. Hitung.”
“Empat.”
“Pelan-pelan.”
“Lima... enam.”
Di sela dua kontraksi, ketika napasnya sempat kembali, Miyu menatap wajah Kanata yang pucat oleh kurang tidur. “Ceritakan.”
“Apa?”
“Buku itu. Tokyo. Apa yang kamu tulis?”
“Namamu. Lalu kata istri.” Kanata mencelupkan kain ke baskom dan memerasnya. “Lalu putri. Dan aku menyisakan ruang kosong di sebelahnya.”
“Ruang kosong?”
“Untuk namanya. Aku bilang pada mereka, ibunya sedang menunggu wajahnya.”
Miyu terdiam. “Kamu bilang begitu di depan dua tetua yang takut sama kamu?”
“Mereka tidak takut sama aku. Mereka takut sama Hosho.”
“Dan Hosho?”
“Mengetuk tongkat. Lalu menyuruhku pulang, memakai kata bodoh.”
Tawa Miyu terpotong oleh kontraksi, dan ia menggenggam tangan Kanata sampai lelaki itu meringis tanpa suara. Ketika semuanya reda, ia berbisik, “Kakek memang baik. Dengan caranya.”
“Dengan caranya,” ulang Kanata, dan mengelap keringat dari pelipisnya.
Dokter Raina, yang sejak tadi pura-pura membaca catatan, berdeham. “Pak Kanata, sedikit informasi. Dokter Devan mengatakan semalam Bu Agatha menyebut nama Bapak sembilan kali, bukan tiga.”
“Tiga,” sanggah Miyu, lemah.
“Sembilan. Saya menghitung.”
“Dokter...”
“Saya juga menghitung dengan stopwatch Nona Kinara.”
Dari balik pintu terdengar suara Nana, tanpa malu sedikit pun: “Gue dengar semuanya, ya!”
Pukul sebelas lebih, Dokter Raina berdiri dan mengenakan sarung tangan baru, dan perawat mulai bergerak lebih cepat. “Bu Agatha. Sekarang kita mulai mengejan.”
Miyu menatap Kanata dengan mata yang basah dan liar. “Aku takut.”
“Aku di sini.”
“Kamu janji.”
“Aku janji.” Ia melepaskan tangan kirinya hanya cukup lama untuk mengangkat pergelangan tangan, tempat omamori terikat. “Pegang ini. Pegang aku. Satu per satu.”
Ia memegang keduanya. Kontraksi datang, dan ia mengejan sambil memanggil sesuatu yang tidak ia sadari. Nama ibunya. Lalu nama kakeknya. Lalu nama Kanata, tiga kali, persis seperti yang dilaporkan Aya.
Tiga kali. Empat kali. Dan kelima kalinya Dokter Raina berkata, “Kepalanya kelihatan.”
Lalu satu dorongan terakhir, yang memeras seluruh tenaga yang tersisa.
Tangisan itu pecah.
Nyaring, marah, dan sangat hidup. Miyu terjatuh ke bantal dengan napas terengah, dan dalam pandangan buram oleh air matanya ia melihat seorang bayi kecil kemerahan diangkat Dokter Raina, tangan dan kakinya menendang-nendang udara seolah memprotes keharusan keluar.
“Bayi perempuan,” kata Dokter Raina, tersenyum. “Sehat. Lengkap. Pukul dua belas lewat tujuh menit.”
Mereka meletakkannya di dada Miyu, hangat dan basah dan lebih ringan daripada yang pernah ia bayangkan. Rambutnya hitam tipis. Jari-jarinya meremas udara. Miyu menyentuh kulit pipinya dengan satu ujung jari, dan seluruh dunia, lorong, pintu, malam-malam tanpa tidur, berhenti memiliki arti selain ini.
“Pak Kanata,” kata Dokter Raina lembut. “Mau memotong tali pusatnya?”
Kanata, yang sedari tadi tak bergerak, menerima gunting yang disodorkan perawat dengan tangan yang akhirnya gemetar. Ia memotong sekali, bersih, dan menaruh gunting itu di baki seolah benda itu bisa pecah.
Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan dan tidak sanggup menutupi apa yang tumpah di sana.
“Boleh?” bisiknya, mencondongkan tubuh ke dahi Miyu.
“Kamu tidak perlu tanya sekarang.”
“Boleh?”
“Boleh, Kanata.”
Ia mencium dahi itu, lama, matanya terpejam. Lalu ia membuka mata dan menatap Miyu dengan wajah yang tidak menyimpan perhitungan apa pun.
“Koishiteru,” katanya, serak, dalam bahasa Jepang. “Untuk ketiga kalinya, dan aku tidak akan berhenti.”
Miyu tidak sanggup menjawab. Ia hanya menggenggam tangannya, dan di antara mereka, bayi kecil itu menangis lagi.