Tiga hari berlalu secepat kilat, membawa Ayu Mentari melintasi batas antara kehidupan sederhananya dengan dunia baru yang asing dan penuh kemewahan. Pagi itu, mentari bersinar cerah, seolah mengejek kegelisahan yang menggerogoti hati Ayu sejak ia menandatangani perjanjian itu. Di halaman rumah kecilnya, sebuah mobil sedan hitam besar dan berkilau telah terparkir, kendaraan yang akan membawanya pergi dari segala kenangan masa lalu.
Ayah dan Ibunya berdiri di beranda, wajah mereka pucat dan penuh rasa bersalah. Tidak ada pesta pernikahan, tidak ada upacara adat, bahkan tidak ada ucapan selamat. Pernikahan ini terlalu rahasia, terlalu kaku, seolah hanya sebuah transaksi bisnis biasa. Ayu menatap kedua orang tuanya dalam-dalam, berusaha menanamkan wajah mereka kuat di ingatannya, takut entah sampai kapan ia bisa kembali melihat mereka leluasa.
"Ayu... maafkan kami sekali lagi," bisik ibunya sambil memeluk erat tubuh putrinya, air mata menetes membasahi bahu Ayu. "Jaga dirimu baik-baik. Ingat apa yang Ayah bilang. Tunduklah, bersabarlah, dan jangan pernah... jangan pernah jatuh cinta padanya."
Ayu mengangguk pelan, melepaskan pelukan itu dengan berat hati. "Ayu tahu, Bu. Ayu janji akan kuat. Demi kalian, Ayu akan menjalani ini semua."
Tanpa menoleh lagi, Ayu melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu. Pintu tertutup rapat, memisahkannya dari rumah masa kecilnya, dari kebebasannya, dan dari Ayu yang dulu. Saat kendaraan itu melaju meninggalkan pekarangan, Ayu menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang berubah drastis. Semakin jauh ia pergi dari pinggiran kota, semakin megah bangunan yang ia lewati, hingga akhirnya mobil itu menanjak naik ke kawasan perumahan elit yang terletak di atas bukit. Di sini, udara terasa lebih sejuk, jalanan bersih, dan privasi dijaga mati-matian oleh pagar-pagar tinggi yang menjulang angkuh.
Dua jam perjalanan terasa seperti seabad bagi Ayu, hingga akhirnya mobil itu berhenti di depan gerbang besi raksasa berwarna hitam dengan ukiran nama DIRGANTARA yang berkilauan di tengahnya. Gerbang itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah bangunan yang bukan lagi sekadar rumah, melainkan istana mewah berarsitektur modern klasik. Dinding berwarna putih bersih dipadukan kaca-kaca besar yang memantulkan sinar matahari, dikelilingi taman luas yang penuh bunga berwarna-warni dan rumput hijau yang terawat sempurna. Di halaman depan, air mancur memancarkan percikan air yang berkilau, menciptakan suasana damai namun sekaligus mengintimidasi.
Inilah dia, batin Ayu, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Inilah sangkar baruku.
Pintu mobil terbuka. Dengan kaki gemetar, Ayu melangkah turun. Sepatu datarnya menyentuh lantai marmer berkilauan yang terasa dingin meski diterpa matahari. Seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi dan tegas segera menyambutnya, diikuti dua pelayan muda di belakangnya.
"Selamat datang, Nyonya Ayu. Saya Marta, kepala pelayan di kediaman ini," sapa wanita itu sopan namun kaku, membungkuk sedikit. "Silakan ikut saya. Tuan Andra sudah menunggu di ruang kerja. Beliau tidak suka ditunggu."
Ayu mengangguk pelan, mengikuti langkah Marta melintasi lorong-lorong luas yang dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal dan patung-patung antik. Suasana di dalam rumah itu begitu sunyi, terlalu hening hingga suara langkah kaki mereka bergema jelas. Tidak ada suara tawa, tidak ada obrolan santai, hanya kebisuan yang menyesakkan d**a. Semuanya teratur, rapi, dan sempurna persis seperti pemilik rumah ini, yang konon menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai aturan mutlaknya.
Marta berhenti di depan sebuah pintu kayu besar berwarna cokelat tua yang kokoh. "Di sini, Nyonya. Silakan masuk sendiri. Saya akan menanti di luar."
Napas Ayu tersendat. Ia menarik napas panjang berulang kali, mengumpulkan sisa keberanian yang tersisa di tubuhnya. Ia mengetuk pintu itu dua kali, pelan namun jelas.
"Masuk," suara berat, rendah, dan sangat dingin terdengar dari balik pintu. Suara itu... membuat bulu kuduk Ayu meremang seketika.
Dengan tangan gemetar, Ayu mendorong daun pintu itu perlahan. Ruangan itu luas, beraroma kayu mahoni yang bercampur wangi tembakau mahal dan sedikit aroma kopi. Di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah hamparan kota di bawah sana, berdiri sosok laki-laki jangkung dengan punggung tegap, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh dan terlatih. Rambut hitamnya sedikit berantakan namun tetap terlihat rapi, memancarkan aura kekuasaan yang begitu kuat hingga membuat napas Ayu tercekat di tenggorokan.
Laki-laki itu berbalik perlahan.
Jantung Ayu seolah berhenti berdetak sesaat. Inilah dia. Andra Dirgantara.
Wajah laki-laki itu jauh lebih tampan, jauh lebih tajam, dan jauh lebih mengintimidasi daripada foto-foto yang pernah dilihatnya di koran atau majalah. Garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat seolah tidak pernah mengenal senyum. Kulitnya putih bersih, namun yang paling membuat Ayu terpaku adalah matanya. Mata berwarna cokelat gelap yang tajam, dingin, dan kosong, menatap Ayu seolah menatap bukan manusia, melainkan sekadar barang mati yang baru saja dibelinya dari pasar.
Andra berjalan mendekat perlahan, langkahnya berat dan berwibawa, seolah setiap pijakan kakinya menggetarkan bumi. Ia berhenti tepat di hadapan Ayu, jarak yang begitu dekat hingga Ayu bisa merasakan panas tubuh laki-laki itu dan aroma mahal yang memabukkan sekaligus menakutkan. Ayu menundukkan wajah, tidak berani menatap mata itu lebih lama lagi, merasakan betapa kecil dan tidak berartinya dirinya di hadapan penguasa besar ini.
"Jadi... kau gadis yang rela menyerahkan hidupnya demi melunasi hutang ayahnya?" suara Andra terdengar rendah, sinis, dan penuh penilaian. Kalimat itu menusuk tepat ke ulu hati Ayu, membuat darahnya mendidih meski ia tahu ia harus menahan diri.
Ayu mengangkat wajahnya perlahan, memberanikan diri menatap manik mata dingin itu dengan sorot mata tegar. "Aku tidak menyerahkan hidupku, Tuan Andra. Aku hanya menukarnya demi tanggung jawab. Ada bedanya."
Sudut bibir Andra terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang sama sekali tidak ramah, melainkan penuh ejekan. "Tanggung jawab? Kata yang indah untuk menutupi kenyataan pahit. Baiklah, gadis kedokteran. Dengar baik-baik, karena aku tidak suka mengulang kata-kataku."
Andra berjalan mengelilingi tubuh Ayu, seolah sedang memeriksa barang dagangan yang baru ia beli. Tatapannya mengawasi dari ujung kepala hingga kaki, menilai setiap inci penampilan sederhana gadis itu.
"Kau ada di sini karena aku butuh istri untuk memenuhi syarat warisan dari Kakekku. Bukan karena aku menginginkanmu, bukan karena aku butuh pendamping, dan jelas bukan karena aku jatuh cinta padamu. Bagiku, kau sama pentingnya dengan vas bunga di sudut ruangan ini. Hiasan. Pajangan yang harus terlihat indah, rapi, diam di tempatnya, dan tidak banyak menuntut."
Ia kembali berhenti di depan Ayu, menatap tajam tepat ke manik mata gadis itu. "Aku tidak peduli siapa ayahmu, siapa ibumu, atau apa mimpi-mimpimu. Satu-satunya hal yang aku pedulikan adalah kau menjalankan isi kontrak yang sudah kau tanda tangani dengan darah itu."
Andra berjalan ke balik meja kerjanya yang besar dan megah, lalu duduk di kursi kebesarannya yang berputar menghadap Ayu. Ia menyilangkan kedua tangannya di d**a, ekspresinya datar tanpa emosi sedikit pun.
"Kau boleh kuliah, kau boleh belajar, kau boleh melakukan apa saja yang kau mau asal tidak mengganggu kenyamananku. Tapi ingat batasannya. Jangan pernah mencampuri urusanku, jangan bertanya ke mana aku pergi atau dengan siapa aku pulang. Jangan berharap aku akan tidur satu ranjang denganmu, jangan berharap aku akan memanggilmu sayang atau melakukan hal konyol seperti pasangan suami istri pada umumnya. Pernikahan ini hanya berlangsung di atas kertas dan di depan publik. Di dalam rumah ini, kau adalah tamu yang diizinkan tinggal."
Andra mengambil selembar kertas dari mejanya, melemparkannya ke arah Ayu hingga jatuh tepat di dekat kakinya.
"Itu jadwal dan peraturan rumah ini. Hafalkan. Langgar satu saja, dan kau akan keluar dari sini lebih cepat dari saat kau masuk. Kau mengerti?"
"Mengerti, Tuan," jawab Ayu pelan namun tegas, menahan rasa perih yang menjalar di dadanya. Ia sudah menduga semua ini, tapi mendengarnya langsung dari mulut laki-laki itu jauh lebih menyakitkan dari bayangan apa pun.
"Bagus. Sekarang keluar. Marta akan mengantarmu ke kamar di sayap timur. Dan ingat satu hal lagi, Ayu..." nada suara Andra menurun, menjadi lebih berat dan mengancam, matanya menatap tajam penuh peringatan.
"Pintu kayu berukir mawar di ujung lorong lantai dua dilarang keras kau sentuh, kau buka, atau kau dekati. Itu wilayah terlarang. Siapa pun yang berani masuk ke sana, akan menghadapi kemarahanku. Dan kau tidak ingin melihat sisi burukku, percayalah."
Ayu mengangguk kaku, menelan ludah dengan susah payah. "Baik, Tuan. Aku tidak akan mendekatinya."
"Keluar."
Ayu berbalik badan, berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah tergopoh-gopoh, napasnya tersengal lega saat pintu tertutup kembali memisahkannya dari laki-laki mengerikan itu. Di luar ruangan, Marta masih menunggu dengan tenang, lalu memandu Ayu menuju kamar barunya. Namun, saat mereka berjalan menyusuri lorong panjang di lantai dua itu, mata Ayu tak sengaja melirik ke ujung sana. Di sana, di ujung lorong yang agak gelap, terlihat samar sebuah pintu kayu besar berukiran mawar persis seperti yang dikatakan Andra.
Jantung Ayu berdesir hebat. Apa yang ada di balik pintu itu? Kenapa dilarang begitu keras?
Namun, rasa penasaran itu harus tertahan sejenak, karena dari arah tangga, muncul sesosok wanita cantik berpenampilan sangat modis dan mewah, berjalan dengan langkah anggun namun penuh keangkuhan. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah menyala yang membalut tubuh indahnya, rambut panjangnya terurai indah, dan wajahnya yang cantik dipoles riasan tebal. Wanita itu berhenti tepat di hadapan Ayu, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan merendahkan, seolah Ayu hanyalah debu yang menempel di sepatunya.
"Jadi... ini dia istri kontrak yang baru?" suara wanita itu terdengar manis namun penuh sarkasme dan kebencian. Ia tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Ayu meremang. "Kasihan sekali gadis kecil. Kau pikir dengan menandatangani kertas itu kau sudah memenangkan hati Andra Dirgantara? Kau tidak tahu apa yang baru saja kau masuki. Kau tidak tahu... betapa berbahayanya rahasia yang tersimpan di balik pintu terlarang itu, dan betapa lama aku menunggu untuk posisi itu."
Wanita itu mendekatkan wajahnya ke telinga Ayu, berbisik dingin namun penuh ancaman yang menusuk tulang.
"Namaku Sarah. Ingat nama itu. Dan ingatlah satu hal Andra Dirgantara bukan milikmu, dan tidak akan pernah menjadi milikmu. Kau hanya boneka sementara. Dan saat kau sadar itu kau akan hancur jauh lebih menyedihkan daripada aku."
Sarah berjalan melewati Ayu sambil tersenyum miring, meninggalkan wangi parfum yang menyengat dan ribuan pertanyaan besar yang kini menguasai pikiran Ayu. Siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan Andra? Dan apa rahasia mengerikan yang tersembunyi di balik pintu berukir mawar itu hingga membuat Andra begitu melarangnya?
Ayu menatap pintu terlarang itu sekali lagi sebelum mengikuti Marta masuk ke kamarnya. Ia baru saja melangkah masuk ke dalam kehidupan Andra Dirgantara, dan ternyata, bahaya, persaingan, serta misteri gelap sudah menunggunya tepat di depan mata.