"Eh, Jeng, tahu si Anna anaknya Bu Rahma yang di ujung gang itu, kan?"
"Tahu, Jeng! Yang kerjaannya berangkat subuh pulang malam itu, kan? Kenapa emangnya?"
"Masa ya, kemarin saya lihat dia diantar pulang sama perempuan. Rambutnya bondol, pake jaket kulit. Gandengan tangan lagi! Aduh, jangan-jangan..."
"Astagfirullah! Yang bener, Jeng? Pantas saja belum pernah kelihatan bawa pacar ke rumah. Sayang banget ya, padahal mukanya ayu, kerjaannya bagus. Ternyata... dia nggak tertarik sama laki-laki."
KRETEK.
Gagang kantong plastik berisi bayam dan tahu di cengkeraman Queen Anna nyaris putus. Di balik pilar pagar rumah Bu RT yang kebetulan menjadi markas dadakan ibu-ibu komplek berburu sayur pagi ini, Anna berdiri mematung. Wajahnya merah padam karena menahan dongkol setengah mati.
'Perempuan rambut bondol pakai jaket kulit?'
Anna memutar otak. Itu kan Jessica! Jessica adalah manajer divisi pemasaran tempat Anna bekerja. Semalam mereka baru menyelesaikan presentasi proyek besar yang membuat seluruh tim lembur hingga larut malam. Dan gandengan tangan? Hebat sekali imajinasi ibu-ibu ini, padahal kemarin Jessica hanya memapahnya karena kaki Anna kesemutan setelah duduk belasan jam di depan laptop.
Anna menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu sengaja menghentakkan kakinya keras-keras ke aspal saat melangkah keluar dari balik pilar.
"Pagi, Ibu-Ibu. Seru banget gosipnya, sampai kedengaran ke ujung jalan," sapa Anna dengan senyum yang dipaksakan selebar mungkin, meski matanya menatap tajam dua tetangganya itu.
Seketika, suasana di lapak tukang sayur mendadak hening. Bu RT yang tadi bersemangat langsung pura-pura sibuk memilah cabai rawit, sementara Jeng Tuti si biang gosip mendadak tersedak ludahnya sendiri.
"E-eh, Mbak Anna... iya, ini, lagi milih bayam," sahut Jeng Tuti terbata-bata, wajahnya mendadak pias. "Nggak ada yang gosip kok, Mbak. Ini cuma... lagi bahas harga cabai yang naik."
"Oh, harga cabai." Anna manggut-manggut dramatis, matanya melirik sinis ke arah Jeng Tuti yang tangannya gemetaran memegang ikat kangkung. "Pendengaran saya masih bagus kok, Jeng. Belum rusak."
Setelah melemparkan senyum termanis yang lebih mirip seringai ancaman, Anna melenggang pergi meninggalkan lapak tukang sayur yang mendadak sedingin es.
Namun, kemenangan kecil itu tidak bertahan lama. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, ponsel di saku celana kulotnya bergetar tanpa henti. Rentetan notifikasi berbunyi bertubi-tubi bagai senapan mesin.
Anna menghela napas, meletakkan belanjaan di meja dapur, lalu merogoh ponselnya.
[Grup WA: Keluarga Besar Bani Yaqub (42)]
Tante Widya: [Share link artikel: "Pentingnya Menyeimbangkan Karier dan Kehidupan Keluarga bagi Wanita"]
Tante Widya: "Sekadar berbagi bacaan pagi untuk anak-anak gadis di grup ini yang terlalu sibuk mengejar karier sampai lupa kodrat. Menikah itu ibadah, memperpanjang umur. Jangan terlalu pemilih, nanti malah salah jalan."
Om Heri: "Betul itu. Apalagi zaman sekarang pergaulan aneh-aneh. Pokoknya jangan mudah percaya gosip. Lebih baik semuanya diluruskan."
Bude Lastri: "Anna @Anna_Queen gimana? Sudah ada calon belum? Umur sudah mau kepala tiga, lho. Anak Bude yang kedua saja seumuran kamu sudah mau punya anak dua. Perempuan itu kalau terlalu sukses, nanti laki-laki pada minder."
Tangan Anna mengepal. Kepalanya berdenyut menyadari bahwa sindiran-sindiran itu jelas dialamatkan kepadanya. Grup keluarga yang harusnya jadi tempat bernaung aman, kini tak ada bedanya dengan persidangan tanpa hakim.
Bukan karena Anna tidak ingin menikah. Ia hanya belum pernah menemukan seseorang yang benar-benar membuatnya yakin. Namun, desakan tiada henti ini lambat laun mengikis kewarasannya.
Belum sempat Anna membalas atau keluar dari grup itu, sebuah pesan pribadi masuk dari sahabat dekatnya sendiri, Citra.
Citra: "Na, lo sibuk nggak entar malam? Kita-kita mau double date nih di cafe baru. Tapi... lo aman kan kalau dateng sendiri? Atau... gue kenalin aja sama sepupu gue? Siapa tahu kalian cocok."
Bahkan sahabatnya sendiri pun sudah mulai termakan desas-desus itu. Mereka menatapnya seolah-olah dia adalah makhluk asing yang aneh hanya karena belum memiliki gandengan.
"Cukup. Cukup!" Anna berteriak frustrasi pada ruang tamu yang kosong.
Telinganya benar-benar panas. Dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa dongkol, sedih, dan harga diri yang diinjak-injak. Dipandangi layar ponselnya dengan tatapan tajam, seolah benda digital itu adalah dalang dari semua penderitaannya.
"Kalian pikir aku tidak bisa dapat cowok?!" desis Anna dengan mata menyipit penuh tekad. "Hah! Siap-siap saja, aku akan membungkam mulut kalian!"
Dengan gerakan cepat dan nekat, Anna membuka aplikasi peramban di ponselnya. Jari-jarinya dengan mantap mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: Agensi Kencan Buta Cepat / Pacar Sewaan Profesional.
Setelah membaca beberapa ulasan, Anna memilih satu agensi eksklusif yang mengutamakan kerahasiaan identitas klien.
•••
Begitu mendapat alamat tempat kencan dari agensi, Anna menyambar tas kerjanya dan langsung melesat keluar rumah. Gerakannya secepat kilat. Ia sengaja memakai kacamata hitam berukuran besar dan buru-buru masuk ke dalam mobil tanpa menoleh kanan-kiri lagi.
Benar saja, dari kaca spion, ia bisa melihat Jeng Tuti dan Bu RT masih memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik.
'Lihat saja nanti,' batin Anna sambil menginjak pedal gas.
Di sepanjang perjalanan, sesekali ponselnya berbunyi karena email kantor yang belum sempat ia balas. Namun, konsentrasinya terbagi. Anna mengemudi dengan kecepatan sedang sembari memutar otak. Skenario demi skenario mulai tersusun di kepalanya.
Untung saja dirinya penggemar berat drakor. Sedikit banyak, dia tahu formula pacaran kontrak yang sukses—mulai dari cara bertatapan mata yang intens, panggilan sayang yang natural, sampai sejarah 'bagaimana mereka pertama kali bertemu' untuk mengelabuhi keluarganya nanti.
Sekarang, tugasnya tinggal satu: berdoa agar agensi itu mengirimkan pria yang waras dan minimal tahu cara berakting.
***
Setelah tiga puluh menit membelah jalanan, Anna akhirnya tiba di sebuah restoran bintang lima berkonsep romantis-modern yang sedang hits di kalangan anak muda elite. Begitu selesai memarkirkan mobil, ia turun dengan langkah tegap nan anggun. Anggap saja ini karpet merah menuju kebebasannya dari gosip tetangga.
"Permisi, meja nomor 18 di sebelah mana, ya?" tanya Anna langsung pada salah satu staf di meja penerima tamu.
"Di sebelah sana, Kak. Di dekat jendela besar yang ada di sudut," jawab pelayan itu ramah sambil mengarahkan tangannya.
"Oh, oke. Terima kasih."
Anna menarik napas dalam-dalam. Jantungnya mendadak berdegup cepat saat matanya menangkap siluet seorang pria yang duduk membelakanginya di meja nomor 18.
Meskipun gugup, ia merapatkan blazer-nya dan berusaha tetap terlihat elegan. "Santai, Anna. Inget harga diri lo! Jual mahal dikit, jangan kelihatan kalau lo lagi butuh," batinnya menyemangati diri sendiri.
Tak! Tak! Tak!
Bunyi ujung sepatu hak tinggi Anna mengetuk lantai marmer restoran, mengiringi langkahnya yang kian dekat ke meja nomor 18.
Pria itu tampak sedang berbicara di telepon genggamnya dengan suara rendah namun tegas.
"Saya sudah bilang pada Nenek, saya tidak akan datang sendiri," ucap pria itu dingin, sebelum akhirnya menutup sambungan telepon secara sepihak.
Ia lalu menurunkan cangkir kopinya dan mendongak. Detik itu juga, Anna bersumpah pria di hadapannya ini sangat tampan. Garis rahangnya tegas, matanya tajam, dan setelan jas yang dikenakannya tampak sangat mahal.
"Maaf, apa benar ini dengan Mas Bintang Sadewa dari agensi?" tanya Anna sesopan mungkin.
"Ya. Silakan duduk," balas pria bernama Bintang itu. Singkat, padat, dan dengan ekspresi muka yang tenang.
Anna menelan ludah kasar. Sambil menyembunyikan tangannya yang mulai berkeringat dingin, ia pun duduk di hadapan Bintang dengan sangat anggun—gaya yang sempat ia pelajari lewat video tutorial di ponsel saat terjebak macet tadi.
Di luar dugaan Anna, pria di hadapannya ini jauh lebih pendiam dari yang ia bayangkan. Bintang hanya diam memperhatikannya tanpa berniat membuka suara lagi.
"Duh... gimana cara buka omongannya, ya?" batin Anna gelisah.
"Ekhem."
"Eh iya, Mas Bintang namanya diambil dari nama bintang, ya?" Spontan Anna menjawab asal karena terkejut mendengar deheman tiba-tiba dari pria di hadapannya.
Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, Anna membeku. Kenapa ia malah melontarkan pertanyaan konyol seperti itu sih?
Bintang langsung menyipitkan mata, menatap Anna dengan pandangan mengintimidasi. "Maksud Anda?"
Anna menepuk jidatnya sendiri, merutuki kecanggungannya. "Eh, ma-maksud saya..." Anna memutar otak secepat mungkin.
"Maksud saya, nama Mas itu bagus banget! Bersinar kayak bintang di langit... pas dengan pembawaan Anda," lanjut Anna dengan senyum profesional, berusaha menyelamatkan sisa-sisa wibawanya.
Meskipun pembelaannya terdengar sangat maksa, Anna setidaknya bersyukur karena ia bisa langsung mengendalikan diri.
"Langsung saja." Bintang melempar sebuah dokumen tebal ke atas meja. "Baca dan tandatangani kontrak itu jika kamu setuju."
Melihat sikap dingin tanpa basa-basi dari pria di hadapannya, gengsi Anna langsung tersenggol. Hilang sudah rasa groginya. Ia dengan cepat menyambar dokumen tersebut lalu membaca isinya poin demi poin dengan teliti.
Isi kontraknya sangat terperinci, tapi ada satu hal yang mengusik rasa penasaran Anna. Ia menurunkan dokumen itu sedikit lalu menatap Bintang langsung.
"Kenapa memilih saya?" tanya Anna lugas.
Bintang menatapnya datar. "Karena kamu bukan bagian dari dunia saya."
Jawaban singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa pria ini membutuhkan seseorang yang bersih dari intrik lingkaran sosialnya. Anna kembali beralih pada dokumen di tangannya. Ternyata, poin-poin di dalamnya sama persis dengan apa yang ia butuhkan.
Sret! Sret! Sret!
Suara goresan pena Anna terdengar mantap di atas kertas putih itu. Tanpa berkata-kata lagi, Anna menutup dokumen tersebut lalu menggesernya kembali ke hadapan Bintang.
Bintang menarik dokumen itu, lalu dengan gerakan elegan mengeluarkan pena emas dari saku jasnya. Hanya butuh satu tarikan garis tegas, tanda tangan Bintang sudah bertengger rapi di samping tanda tangan Anna.
"Kontrak resmi berjalan mulai besok," ucap Bintang dingin sembari merapikan dokumen tersebut ke dalam tas kerjanya.
"Oke. Jadi, besok kita mau mulai sandiwara ini dari mana dulu? Mau pamer ke temen-temen saya, atau langsung ke grup w******p keluarga?" tantang Anna.
Bintang tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan Rolex-nya yang berkilau mewah, lalu berdiri dari kursinya. "Besok sore saya jemput kamu di kantor. Kirim alamatnya ke nomor agensi. Agenda pertama: menemui nenek saya. Beliau sedang menjodohkan saya dengan putri rekan bisnis."
Anna mengerjapkan mata. "Lho, langsung ketemu nenek?!"
Sebelum Anna sempat melayangkan protes, Bintang sudah berjalan menuju kasir. Anna yang tidak mau utang budi langsung menyusul dengan tergesa-gesa.
"Eh, Mas Bintang, tunggu! Biar bayarnya bagi dua—"
"Sudah saya lunasi semuanya. Termasuk sewa restoran ini untuk dua jam ke depan," potong Bintang tanpa menoleh.
Anna melongo di tempat. Sewa satu restoran bintang lima?
Ia baru sadar, pantas saja dari tadi restoran sekeren ini terasa sangat sepi dan hanya berisi mereka berdua. Pelayan di meja kasir bahkan membungkuk sangat hormat saat Bintang berjalan melewati pintu keluar.
Anna menatap punggung tegap Bintang yang berjalan menuju sebuah mobil sedan sport hitam. Di sana, seorang pria berjas rapi yang tampak seperti sopir pribadi sudah membukakan pintu untuk Bintang.
Anna menelan ludah, memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak.
"Tunggu dulu... agensi kencan buta macam apa yang menyediakan pria modelan begini?" batin Anna. "Ini mah bukan pacar sewaan biasa."
Satu hal yang Anna tahu pasti saat mobil mewah itu melesat pergi, hidupnya akan berubah total setelah melakukan ide gila ini.
***
Anna pulang dengan hati yang masih berdebar kencang. Sepanjang jalan, senyum kepuasan terukir di wajahnya. Setelah dipikir-pikir, walau sifat Bintang itu angkuh luar biasa, yang penting pria itu terlihat sangat meyakinkan untuk membungkam omongan orang.
Begitu sampai di rumah, Anna langsung merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu. Tas kerjanya dilempar asal.
"Sekarang kita lihat... siapa yang masih sibuk mengurus hidupku," gumam Anna sembari berkhayal dengan mata menatap langit-langit plafon. Ia sudah bisa membayangkan wajah syok Jeng Tuti dan Bude Lastri besok.
PRANG!
Tiba-tiba, suara benda kaca yang pecah berantakan dari arah dapur mengejutkan Anna. Gadis itu refleks melonjak dari sofa. Dengan langkah lebar dan panik, ia bergegas menuju sumber suara.
"Astaga, Ma! Kok gelasnya bisa pec—"
Kalimat Anna menggantung di udara. Langkahnya terkunci di ambang pintu dapur. Sang mama berdiri di sana, dikelilingi pecahan gelas di lantai. Di tangan wanita paruh baya itu, ada sebuah ponsel yang menampilkan ruang obrolan. Wajah mamanya pucat, tapi matanya memancarkan kilat amarah sekaligus kekecewaan yang teramat dalam.
"ANNA!" bentak mamanya dengan suara bergetar hebat. "KAMU... LESBI?!"