Pukul 02.58, Arka sudah berada di posisi.
Ia tidak meninggalkan kursinya di lantai tujuh gedung mati itu. Peretas sejati tidak perlu pergi ke mana pun secara fisik. Tubuhnya tetap diam, tapi pikirannya—lewat implan saraf di tengkuknya—sudah merayap ke dalam jaringan kota seperti ular di antara dinding.
"Kamu di sana?" bisik Mira di earpiece.
"Di gerbang luar Vaelora," jawab Arka. Keringat menetes di pelipisnya meski ruangan dingin. Menerobos jaringan saraf adalah pekerjaan yang membakar otak. Setiap detik di dalam sistem korporasi adalah setiap detik dengan implannya bekerja di luar batas aman.
Di hadapan kesadarannya, dinding pertahanan Vaelora menjulang seperti tembok cahaya biru yang tak berujung. Lapisan demi lapisan enkripsi. Menara pengawas data yang menyapu, mencari penyusup. Arka pernah melihat banyak benteng dalam hidupnya, tapi tidak ada yang seperti ini.
"Pukul tiga," kata Mira. "Sekarang."
Tepat saat jam berganti, sebuah celah terbuka di dinding cahaya itu. Tipis. Setipis retakan rambut. Orang dalam telah menepati janji.
Arka meluncur masuk.
Waktu seakan melambat dan mempercepat sekaligus. Ia berenang melewati lorong-lorong data, menghindari menara pengawas yang menyapu cahaya merah di atasnya. Implannya menghitung mundur di sudut kesadarannya. Delapan menit lima puluh detik.
"Aku di dalam koridor pertama," lapor Arka, suaranya tegang. "Sistem keamanan internalnya... ya Tuhan, Mira. Ini bukan keamanan korporasi biasa. Ini militer. Ada AI penjaga aktif."
"Hindari saja. Ambil file dan keluar."
Arka bergerak. Bertahun-tahun pengalaman mengalir lewat ujung sarafnya. Ia tahu cara berjalan di antara sistem tanpa meninggalkan jejak, cara menyamar sebagai paket data biasa, cara menahan napas digitalnya saat penjaga lewat. Tujuh menit. Enam menit.
Ia menemukan ruang penyimpanan inti. Sebuah kubah cahaya putih, dan di tengahnya, mengambang, sebuah file tunggal berdenyut pelan seperti jantung.
LAZARUS.
"Aku menemukannya," bisik Arka.
"Ambil. Sekarang."
Arka mengulurkan kesadarannya menyentuh file itu. Dan saat ia menyentuhnya, sesuatu terjadi yang membuat darahnya membeku.
File itu menyentuhnya balik.
Sebuah ledakan informasi membanjiri implannya. Bukan kode. Bukan data biasa. Ini adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang besar, sesuatu yang sebagian kecilnya saja sudah membuat tengkoraknya terasa seperti akan pecah. Sekilas ia melihat—peta. Peta seluruh Neo-Batavia. Bukan jalanannya. Sistemnya. Jaringan listrik, air, transportasi, server pusat, gerbang pertahanan, segala sesuatu yang membuat kota itu hidup—dan di setiap simpul, ada sebuah pintu belakang tersembunyi. Sebuah saklar.
LAZARUS bukan sekadar file. LAZARUS adalah kunci untuk mematikan seluruh kota.
"Arka?" suara Mira jauh. "Arka, kamu kenapa?"
"File ini..." Arka tergagap, masih berusaha menarik kesadarannya keluar dari banjir data. "Mira, file ini bisa meruntuhkan Neo-Batavia. Seluruhnya. Listrik, air, semuanya. Siapa pun yang memegang ini memegang nyawa dua puluh juta orang—"
Dan saat itulah seluruh kubah berubah merah.
Alarm meraung di setiap lapisan sistem. Menara pengawas berputar serentak ke arahnya. Suara—dingin, perempuan, tanpa emosi—menggema di seluruh ruang data.
"PENYUSUP TERIDENTIFIKASI. FILE LAZARUS DIAMBIL TANPA OTORISASI. PROTOKOL PEMBERSIHAN DIAKTIFKAN."
"Mereka tahu!" teriak Arka. "Mira, orang dalammu menjebakku—jendelanya bukan sembilan menit, alarmnya menyala begitu aku menyentuh file!"
"Keluar! Keluar sekarang!" Mira berteriak, dan untuk pertama kalinya Arka mendengar ketakutan murni dalam suaranya.
Arka berbalik dan lari. File LAZARUS tertanam dalam implannya sekarang, berdenyut panas seperti bara di dalam tengkoraknya. Di belakangnya, AI penjaga Vaelora bangkit—bukan satu, tapi belasan—mengejar lewat lorong-lorong cahaya, menutup setiap celah.
Lima detik tersisa di hitungan mundurnya. Celah orang dalam mulai menyempit.
Empat. Tiga.
Arka melempar seluruh kesadarannya ke arah retakan itu.
Dua. Satu.
Ia menerobos keluar tepat saat celah menutup, dan dunia nyata menghantamnya seperti tembok. Tubuhnya tersentak di kursi, kabel terlepas dari pelipisnya, dan ia muntah ke lantai, gemetar, basah oleh keringat.
LAZARUS ada padanya sekarang. Dan seluruh Vaelora Corp tahu siapa yang mengambilnya.
Earpiece-nya berderak. Bukan suara Mira.
"Selamat malam, Tuan Arka," kata suara baru itu, halus dan sabar. "Kami sangat ingin mengembalikan apa yang Anda ambil."