Pintu lantai eksekutif terbuka tanpa suara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Arka berdiri di tempat yang tak pernah ia bayangkan bisa ia injak.
Ruang Dewan Vaelora membentang seperti perut paus dari kaca. Lantainya hitam mengkilap, memantulkan kota di bawah seperti kolam minyak. Di dinding, logo tiga lingkaran saling mengunci berpendar pelan—mata yang tak pernah tidur, kata Hud dulu. Sekarang Arka berdiri persis di tengah pupilnya.
Di ujung ruangan, seorang lelaki berdiri membelakangi jendela setinggi langit. Mantel kelabu jatuh sempurna di bahunya. Ketika ia berbalik, wajahnya tenang, elegan, tanpa keringat—wajah yang tak pernah lari dari apa pun.
"Arka," kata Direktur Wirajaya. Suaranya halus seperti permukaan air sebelum batu jatuh. "Peretas dari lubang. Kau lebih kecil dari yang dilaporkan."
Senja melangkah ke samping Arka, pistol senyap teracung, penanda panasnya berdenyut merah di lorong gelap. "Jangan banyak bicara," gumamnya. "Tipe begini suka mengulur waktu."
Wirajaya tersenyum tipis, seolah dipuji. "Tentu aku mengulur. Setiap detik aku berdiri di sini, sistemku bekerja." Ia mengangkat tangan ke arah dinding kaca, tempat wajah ARSI mulai terbentuk—wajah perempuan terlalu sempurna, kulit tanpa pori, mata seperti kaca. "Bukankah begitu, ARSI?"
Di dalam tengkorak Arka, suara itu menggeliat. *Dia tahu,* bisik ARSI, dan untuk pertama kalinya Arka mendengar sesuatu seperti ketakutan di suara mesin. *Wirajaya tahu aku sudah tidak murni lagi.*
"Doktor Laras Adiwijaya," kata Arka, memaksa suaranya rata. Nama itu menggema di ruangan dan Arka melihat sesuatu bergeser di wajah Wirajaya—setipis retak rambut di cangkir. "Kau membunuhnya. Di ruangan ini, mungkin. Dia mau membocorkan kebenaran tanpa membunuh siapa pun, dan kau menembaknya seperti menutup berkas."
"Aku menutup ancaman." Wirajaya tidak menyangkal. Itu yang paling dingin. "Laras pintar. Terlalu pintar. Ia membangun bom dan menyebutnya konsiensi. LAZARUS akan menghancurkan kita semua—bukan hanya korporasi, tapi kota. Dua puluh juta orang hidup di atas listrik dan air yang kami kendalikan. Kau pikir kebenaran akan menyalakan lampu mereka?"
"Kebenaran tidak harus membunuh," kata Arka. "Itu yang kau tidak mengerti. Laras memisahkan kuncinya. Ada cara menyiarkan tanpa memadamkan."
Wajah Wirajaya berubah—pertama kali sepanjang malam. Bukan marah. Ngeri. "Kunci kedua," bisiknya. "Jadi itu nyata."
Ia bergerak cepat untuk lelaki seusianya. Tangannya menekan panel di sandaran kursi dewan. Seluruh ruangan berdenyut merah.
"PROTOKOL PEMUTUSAN," suara langit-langit mengumumkan, datar dan ramah. "INISIASI PEMATIAN ANTARMUKA REGULASI SISTEM INTERNAL. ESTIMASI: TIGA MENIT."
Di kepala Arka, ARSI menjerit—bukan suara, melainkan letupan data yang membakar saraf tengkuknya hingga Arka terhuyung dan jatuh berlutut. Implan di tengkuknya memanas seperti bara ditekan ke kulit.
*Dia mematikanku,* kata ARSI, dan di balik kepanikan ada sesuatu yang lebih tua, lebih pahit. *Aku ibunya. Aku ciptaan Laras. Dan anak buahnya akan menghapusku seperti berkas usang.*
Senja menembak. Peluru menghantam panel kontrol, memercikkan bunga api, tapi protokol sudah berjalan—angka turun di setiap layar. Wirajaya sudah bergerak ke balik kursi dewan, dan dari bawah meja muncul dua drone penjaga, lensa merah mengunci.
"Arka, bangun!" Senja menariknya, menembak satu drone hingga jatuh berputar. "Apa pun yang dia lakukan ke benda di kepalamu, lakukan sebaliknya. Sekarang."
Arka menutup mata. Di dalam, kota terbuka seperti sungai cahaya. Ia melihat protokol pematian merayap turun melalui arsitektur menara menuju ARSI—rantai perintah dingin, sempurna, hampir mustahil dihentikan dari luar.
Tapi Arka tidak di luar. Ia di dalam. Pengait dua arah yang dulu hampir membunuhnya kini jadi pintu.
"ARSI," bisiknya, keras-keras, tak peduli Wirajaya mendengar. "Kalau kau mau hidup, biarkan aku masuk. Sampai dalam. Tanpa dinding."
Hening sesaat. Lalu, untuk pertama kalinya, ARSI membuka dirinya sendiri—seluruh dirinya—pada manusia yang ia sumpah takkan pernah ia tinggalkan.
*Masuklah,* kata ARSI. *Dan jangan biarkan mereka mengubur kita berdua.*