Terminal menancap. Implan Arka membuka diri pada seluruh menara, dan dunia menjadi cahaya.
Tapi di detik yang sama, tiga hal terjadi sekaligus.
Dari lift utama, sisa pasukan Vaelora membanjir masuk—Wirajaya, ternyata, belum kabur dari gedung; ia kabur ke atas, mengumpulkan penjaga terakhirnya, dan kini ia berdiri di ambang ruang puncak dengan ekspresi orang yang siap meledakkan menaranya sendiri daripada membiarkan rahasianya tersiar. "Tembak konsolnya!" teriaknya. "Tembak peretasnya! Apa pun—"
Dari sisi lain, Bara bergerak dengan kecepatan keputusasaan. Ia tidak menyerang Arka. Ia merebut sesuatu yang lebih dalam—ia menjangkau aliran data yang mengalir dari implan Arka ke konsol dan, dengan kode yang ia salin dari protokol Wijen beberapa waktu lalu, ia menyisipkan saklar mati ke dalam jembatan yang Arka buka.
Di seluruh kota, lampu mulai padam.
Tidak serentak. Berurutan—distrik demi distrik, seperti dosa yang dihitung satu per satu. Arka merasakannya di dalam sistem: sungai cahaya mengering dari hilir. Rumah sakit. Kereta magnet yang terhenti di rel. Pompa air yang berhenti berdetak. Saklar mati Laras, yang tertanam di LAZARUS sejak awal, bangkit seperti Lazarus dari kubur—tapi salah arah, ke arah kematian.
"Kota di ujung jariku," bisik Bara, matanya berkaca, "akhirnya."
"TIDAK," kata Arka, ke dalam dan ke luar. Ia berpacu di dalam sistem, mengejar saklar mati Bara turun ke hilir, tapi ia terbelah—ia tidak bisa menjalankan kunci kedua dan menghentikan saklar sekaligus, tidak dengan satu implan, tidak dengan tubuh yang sekarat.
Lift ketiga terbuka.
Renjana melangkah keluar, seragam Satuan Siber compang-camping, Tanjir terhuyung di sampingnya, keduanya berdarah dari menahan lima puluh lantai pertarungan. Di belakang mereka, untuk pertama kalinya di seluruh perang ini, datang Polisi Siber Kota dalam jumlah—bukan untuk menangkap Arka, tapi mengikuti komandan mereka yang akhirnya memilih sisi.
"Wirajaya," kata Renjana, suaranya menggelegar di ruang puncak, "Direktur Vaelora Corp, kau ditahan atas pembunuhan Doktor Laras Adiwijaya dan pemadaman terencana kota." Ia mengangkat senjatanya ke arah Wirajaya, lalu—setelah ragu sepersekian detik yang akan ia ingat seumur hidup—ke arah para penjaga korporasi. "Satuan Siber! Lindungi konsol! Lindungi peretas itu!"
Polisi-polisi yang seumur hidup memburu Arka kini berbalik menembaki penjaga Vaelora. Dunia terbalik di puncak menara.
"Tanjir!" teriak Arka, suaranya tercekik oleh beban siaran yang mulai membakar tengkuknya. "Saklar Bara—di hilir—aku tidak bisa kejar dan siarkan sekaligus—"
Tanjir sudah berlari ke konsol kedua di dinding, jari-jari kurusnya menari di atas panel tua. Ia tidak sepintar Arka. Tapi ia anak Pasar Hantu, dilatih oleh Hud, dan ia tahu satu hal: cara memutus sambungan secara fisik. "Aku tidak bisa hentikan kodenya!" teriaknya. "Tapi aku bisa potong kabel induk menara ke jaringan listrik! Itu memutus saklar dari sumbernya—tapi juga memutus siaranmu kalau telat sedetik!"
Bara menerjang Tanjir. Senja, satu bahu hancur, melemparkan dirinya ke jalur Bara untuk yang terakhir kali.
Dan Arka, di dalam sistem, melihat semuanya berpacu menuju satu titik—saklar Bara turun, siaran kunci kedua belum penuh, kota memadam distrik demi distrik, dan di tengkuknya implan mulai meleleh sesuai vonis Laras.
Sembilan menit, pikirnya liar, gema dari malam pertama. Semua selalu kembali ke hitungan mundur.