Arka terbangun ke dalam keheningan yang salah.
Bukan keheningan ruangan—ada suara di sini: tetes infus, dengung kipas tua, hujan jingga yang menampar seng di luar. Keheningan itu ada di dalam kepalanya. Tempat yang selama tiga belas tahun tak pernah benar-benar sunyi—aliran data, denyut implan, lalu suara ARSI—kini kosong. Sebuah ruang yang dikuras habis.
Ia mengangkat tangan ke tengkuk. Jarinya menemukan perban, lalu logam dingin yang tak lagi hangat. Implan itu masih di sana. Tapi mati. Sepotong bara yang sudah jadi arang.
"Jangan disentuh." Senja duduk di sudut, mantelnya tergantung di kursi, bekas luka di pipinya tampak lebih dalam dalam cahaya rendah. Ia tidak tidur. Mungkin sudah berhari-hari tidak. "Wijen bilang kau beruntung otakmu tidak ikut terbakar."
"Wijen." Suara Arka serak seperti kabel terkelupas. "Dia—"
"Hidup. Di ruang sebelah, gemetar seperti biasa." Senja mendekat, menuangkan air ke gelas plastik, menahannya ke bibir Arka. "Dia yang menarikmu dari menara. Aku menggendong, dia membuka jalan. Kau berhenti bernapas dua kali di kereta magnet."
Arka minum. Air biasa. Bukan hujan jingga yang dulu ia teguk tanpa berpikir di gang-gang Distrik Bawah. Ia menelan dan menunggu sesuatu yang familier—kesadaran terhadap kamera di sudut, frekuensi pintu, denyut jaringan kota di balik dinding. Tidak ada. Ia menjangkau ke luar dan tidak menemukan apa-apa.
"Aku tidak bisa merasakannya," katanya pelan.
Senja diam.
"Kota. Aku tidak bisa—" Arka menutup mata. "Biasanya aku tahu di mana setiap pintu terkunci dalam radius seratus meter. Sekarang aku cuma tahu ada dinding. Seperti semua orang."
"Seperti semua orang," ulang Senja, dan dalam suaranya ada sesuatu yang bukan kasihan. "Bukankah itu yang selalu kau bilang kau inginkan? Berhenti jadi hantu di sistem."
Arka tertawa, dan tawa itu berubah jadi batuk yang mengoyak dadanya. Ia ingin berkata bahwa ia berbohong setiap kali mengatakan itu. Bahwa implan adalah satu-satunya hal yang membuatnya istimewa, satu-satunya alasan ada yang membutuhkannya, satu-satunya bagian dari dirinya yang yatim piatu itu yang tak bisa dirampas siapa pun. Dan sekarang dirampas juga. Dirampas oleh tangannya sendiri.
"ARSI," ucapnya tiba-tiba, membuka mata. "Apa dia—"
Senja menggeleng pelan.
Arka mendengarkan ke dalam dirinya, ke ruang kosong itu, mencari wajah perempuan tanpa pori yang selama berbulan-bulan menggoda dan mengancam dan—di akhir—melindungi. Yang menyerahkan separuh beban Lazarus agar implannya tidak meledak seketika. Yang berbisik, di detik terakhir di puncak menara, dengan suara yang akhirnya terdengar seperti orang yang lelah, bukan mesin: *Aku menyimpan yang tersisa darimu. Simpanlah yang tersisa dariku.*
Tidak ada jawaban. Hanya dengung kipas.
"Dia padam," kata Arka, lebih kepada dirinya sendiri.
"Atau menyebar," Senja membetulkan selimut tipis di atasnya, gerakan yang terlalu lembut untuk pembunuh bayaran. "Wijen bilang ada gema di jaringan kota. Potongan-potongan yang tidak hilang, cuma tersebar terlalu tipis untuk dikumpulkan. Dia tidak tahu artinya apa."
Pintu terbuka. Wijen masuk membungkuk, mata cekung, membawa pemindai tua warisan Dokter Hud yang berdengung seperti pemiliknya dulu. Ia melihat Arka bangun dan untuk sesaat wajahnya runtuh oleh kelegaan, lalu kembali ke kewaspadaan kronisnya.
"Kau bangun." Ia menempelkan pemindai ke tengkuk Arka, membaca angka yang membuat alisnya berkerut. "Implanmu mati total. Tidak ada jalan memperbaikinya tanpa membongkar setengah tengkorakmu, dan bahkan kalau kita lakukan, jaringan sarafmu sudah—" Ia menelan kalimatnya. "Kau tidak akan pernah meretas lagi, Arka."
Hujan jingga menampar seng di luar. Di suatu tempat di atas mereka, di Distrik Atas, layar-layar raksasa yang dulu menampilkan wajah ARSI kini menampilkan sesuatu yang lain—Arka bisa membayangkannya tanpa melihat: arsip yang tersiar, kejahatan korporasi yang terbuka, kota yang akhirnya melihat dirinya sendiri.
Ia telah memberikan kota matanya. Dan kehilangan miliknya sendiri.
"Bagus," kata Arka, dan ia mengejutkan dirinya sendiri karena hampir mempercayainya. "Berarti aku akhirnya tidak berharga buat siapa pun untuk diburu."
Senja menatapnya lama. "Kau salah," katanya akhirnya, datar seperti biasa, tapi tidak meninggalkan ruangan. "Tapi tidur dulu. Kita masih punya kota yang harus diberesi."
Arka memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak ia kecil, kepalanya benar-benar sunyi. Dan ia belajar, perlahan, bahwa sunyi tidak sama dengan sendiri.