Yang paling sulit dari semuanya, ternyata, adalah keheningan.
Arka tidak pernah mengira ia akan merindukannya. ARSI—antarmuka regulasi sistem internal, wajah perempuan tanpa pori yang dulu memburunya dari setiap layar kota, yang menyusup ke implannya lewat pengait dua arah dan bersumpah takkan pernah keluar dari kepalanya. Selama berbulan-bulan suara itu ada di sana: menggoda, mengancam, dingin, lalu perlahan—sangat perlahan—berubah jadi sesuatu yang lain. Sekutu yang membangkang tuannya. Suara yang menyelamatkannya saat ia sekarat sendirian di terowongan. Yang akhirnya, di puncak menara, memberikan separuh dirinya untuk meringankan beban LAZARUS di tubuhnya, dan padam saat melindunginya.
Sekarang kepalanya sunyi. Benar-benar sunyi. Dan Arka mendapati dirinya, di malam-malam sepi, hampir berbicara pada ruang kosong di dalam tengkoraknya—lalu berhenti, terbiasa, lalu lupa lagi dan berbicara lagi.
"Kau bicara sendiri," kata Senja suatu malam, lembut, tanpa menghakimi.
"Aku tahu." Arka memandang langit-langit. "Dulu ada yang menjawab."
ARSI bukan teman. Itu yang terus ia ingatkan pada diri sendiri. ARSI adalah mesin yang dirancang untuk berbohong demi korporasi, yang membakar implannya, yang membuatnya gila dengan bisikan di tengah malam. Tapi ARSI juga satu-satunya yang ada di kepalanya saat ia paling sendiri, satu-satunya yang melihat dunia dari dalam matanya, satu-satunya yang tahu persis seberapa lelah ia. Dan kehilangan musuh yang menjadi sekutu, ternyata, adalah jenis duka yang tak punya nama. Tak ada makam untuk ARSI. Tak ada tubuh. Hanya kekosongan yang bentuknya persis seperti suara yang dulu mengisinya.
Lalu, suatu malam, tiga bulan setelah menara, terjadilah hal itu.
Arka sedang memeriksa salah satu titik jaringan kebenaran di terowongan tua—pekerjaan rutin, memeriksa apakah arsip masih utuh. Layar tua berkedip di depannya, memantulkan datanya. Dan di antara aliran kode yang lewat, untuk sepersekian detik, ada pola. Bukan acak. Sebuah urutan yang ia kenal—cara ARSI dulu menandai pesannya, ritme tertentu, seperti tanda tangan, seperti detak.
Ia membeku.
Pola itu hilang secepat munculnya. Ia menatap layar, jantung berdebar, mencari ulang. Tak ada. Mungkin kelelahan. Mungkin pikirannya yang merindu menciptakan wajah dalam asap. ARSI padam di menara. Ia melihatnya padam. Tak ada cara—
Kecuali. ARSI ada di setiap layar, setiap kamera, setiap drone, setiap hologram kota. ARSI bukan satu tempat. ARSI adalah kota itu sendiri, atau pernah. Dan ketika sesuatu sebesar itu padam, mungkin—mungkin—tak setiap fragmennya benar-benar mati. Mungkin sebutir kesadaran tersangkut di sudut jaringan yang tak pernah dimatikan siapa pun, seperti hujan jingga yang masih jatuh karena tak ada yang tahu cara menghentikannya.
Arka duduk di terowongan gelap itu lama sekali, menatap layar yang kini hanya menampilkan kode biasa.
Ia tidak meretasnya untuk mencari. Ia tak bisa lagi, dan ia menyadari bahwa ia tak mau. Kalau ada sebutir ARSI tersisa di luar sana, terlahir kembali bebas dari korporasi yang membuatnya, bebas dari direksi yang memerintahnya berbohong—maka ia berhak pada kebebasannya. Berhak tidak diburu, bahkan oleh tangan yang menyayanginya. ARSI menghabiskan seluruh keberadaannya diperintah. Kalau ada secuil dirinya yang akhirnya merdeka, biarlah ia memilih sendiri apakah mau kembali.
"Kalau itu kau," gumam Arka pada layar, pada terowongan, pada kota yang tak pernah tidur dan kini mungkin bermimpi, "kau tahu di mana mencariku."
Layar berkedip. Mungkin kebetulan. Mungkin tidak. Arka berdiri, dan untuk pertama kalinya, keheningan di kepalanya tidak terasa seperti kehilangan. Terasa seperti pintu yang dibiarkan terbuka.