Suara handphone milikku berbunyi nyaring di taman perpustakaan. Ada panggilan dari Bang Awan.
"Halo, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... Dek kamu dimana?"
"Ruli di kampus bang, sedang menunggu jadwal bimbingan ke doping Ruli."
"Gimana perkembangan skripsi kamu?"
"Alhamdulillah lancar jaya bang. Hehehe. Bang Budi banyak bantu Ruli, makanya Ruli bisa cepat selesai. Ini Ruli mau menunjukkan skripsi Ruli, biar di ACC sama doping nya untuk seminar hasil."
"Syukurlah kalau begitu. Kamu baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah bang, baik-baik saja. Kenapa Abang tanya begitu?"
"Ah, nggak papa. Udah kamu lanjut aja nunggunya, jangan ngeluyur lagi."
"Iya abang.............. Jangan cerewet lagi."
"Dasar kamu ya. Adik macam apa itu, dikasi tau kok malah ngeledek."
"Hihihi,, peace bang, becanda kok becanda."
Begitulah bang Awan, setiap hari pasti menelfon, ada saja yang ditanyakannya. Tapi beberapa hari ini aku merasa dia mengetahui jika aku tidak baik-baik saja. Tapi aku tidak berani bilang, takut dia mencemaskan aku.
Sudah sebulan lebih, bang Dana tak kunjung pulang ke rumah. Orang-orang di rumah pun tidak mau membahas dia. Kenapa ya? Bukankah harusnya Ibu dan Papa rindu dan kehilangan juga ya seperti aku?
Aku masih kepikiran saja kejadian itu, padahal sudah sebulan berlalu. Aku hanya tidak enak hati, bang Dana tinggal di apartemen tapi dalam keadaan masih marah padaku.
Berkali-kali kuhubungi pun tidak di angkat, bahkan pesan ku juga tidak dibalasnya. Aaaaargh.... aku galau. Padahal seharusnya aku senang karena sebentar lagi aku akan seminar hasil.
"Ruli......"
"Ya....."
Akhirnya Mya datang juga.
"Kamu kenapa lama Mya?"
"Aku sebenarnya sudah hampir 10 menit duduk di samping kamu, tapi kamu nya saja yang tidak menyadarinya."
"Ah.. Masa sih?"
"Ruli, kamu itu tidak bisa membohongi aku jika ada masalah. Jangan beralasan lagi, katakan ada apa? Kenapa kamu sering sekali melamun?"
Aku diam saja, tidak menjawab Mya.
"Aku heran deh lihat kamu. Kenapa susah sekali berbagi masalahmu. Jangan dipendam sendiri. Memangnya kamu anggap aku apa?"
"Bukan begitu Mya. Kamu jangan salah sangka dulu."
Aduuh... bukan saatnya kamu ngambek begini Mya, nanti aku jadi tambah pusing. Harusnya itu yang aku katakan, tetapi aku hanya bisa menghela nafas saja.
"Baiklah, aku tau posisiku. Yuk kita jumpa bu Suni!" ajaknya sambil beranjak.
Aku menghela nafas panjang, kemudian aku tarik kembali tangan Mya agar ia kembali duduk.
"Maafkan aku Mya. Aku hanya bingung dengan diriku sendiri. Sejak kejadian Arez dan bang Dana di Cafe, bang Dana marah dan mendiamkan aku, bahkan sepertinya dia menghindari aku. Aku galau, aku kalut, gak tau harus gimana."
"Aku tau masalahmu, kamu hanya perlu berbagi agar kamu merasa lega dan mendapatkan saran-saran yang positif. Ibumu kemarin cerita ke aku saat aku bimbingan terkait sidang. Dia meminta tolong padaku untuk membantumu."
"Ibu? Ibu tau masalahku?" tanyaku dengan heran.
"Seorang ibu pasti memahami anak-anaknya, ditambah bang Dana belum juga kembali, jadi ibumu yakin jika kalian ada masalah. Hanya saja ibumu kecewa, karna kamu tidak mau cerita padanya."
"Aku hanya tidak ingin kalian merasa sedih dan kasihan padaku."
"Wajarlah kami merasakan itu, sama seperti kamu yang sedih ketika aku sedih. Itu alamiah Ruli. Perasaan sayang tidak bisa dibuat-buat."
Aku terdiam, apa yang dikatakan Mya benar. "Jadi aku harus bagaimana?"
"Masalah kamu ini tidak terlalu rumit, tapi kamu sendiri yang membuat rumit dengan spekulasi-spekulasi kamu sendiri. Kenapa kamu tidak menemui bang Dana kemudian meminta maaf? Dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya? Lalu kamu menemui Arez dan jelaskan juga padanya, agar kamu tidak dihantui perasaan bersalah."
Mya memaparkan dengan sangat jelas apa yang harus aku lakukan.
"Aku terlalu takut untuk meminta maaf secara langsung. Keberanian tidak ada, hilang entah kemana."
"Terus, kamu mau begini saja? Diliputi perasaan bingung dan bersalah?"
Aku terdiam memikirkan apa yang dikatakan Mya. Benar sih yang disampaikannya. Kenapa aku jadi pengecut, padahal kata Mya, masalahku tidak rumit. Tetapi aku sendiri yang membesar-besarkannya.
"Yasudah, gak usah dipikirkan lagi. Ayuk kita jumpai buk Suni, ini sudah jadwalnya."
Akupun bergegas mengikuti Mya, lalu menyejajarkan langkahku dengannya.
***
Aku dan Ibu sudah selesai makan malam. Malam ini kami hanya berdua saja di rumah. Papa sedang pergi keluar kota, karena ada hal yang harus diurus. Bang Dana masih belum pulang ke rumah. Bang Budi sedang ada kegiatan di kampus nya dan berencana menginap di sana.
"Kamu itu jangan diam-diam saja jika ada masalah."
"Masalah apa toh buk?"
"Sudah tidak usah berbohong, ibu tau kamu sedang dimarahi oleh bang Dana. Bang Dana pasti merasa kesal sekali sampai-sampai dia pergi menenangkan diri selama ini. Kamu tau kan dia paling tidak suka dibantah?"
"Iya buk, tadi Mya menyarankan Ruli untuk meminta maaf ke bang Dana. Tapi Ruli takut bang Dana tambah marah."
"Sudahlah, pergi sana temui bang Dana, dia pasti tidak akan marah."
"Baiklah buk, besok Ruli akan kesana."
***
Hufft..... Aku sudah berdiri di depan pintu apartemen bang Dana. Tadi Ibu sudah memastikan jika bang Dana ada di apartemennya.
Ting Tong
Pintu pun terbuka. Kulihat bang Dana membuka pintu, seketika langsung kupeluk bang Dana, sebelum dia berjalan masuk kembali karena melihatku. Aku pun menangis sesenggukan.
Melihat aku menangis, bang Dana langsung mengelus punggungku.
"Kenapa menangis? Ayo masuk, jangan di pintu saja." ucapnya dengan lembut.
"Abang gak marah?"
Bang Dana hanya tersenyum melihatku sembari berjalan masuk ke apartemennya.
"Abang ditanya kok malah tersenyum sih?" Aku pun mulai merajuk.
"Loh, loh, loh, kok merajuk? Jadi lebih senang lihat Abang marah nih daripada tersenyum?" bang Dana mulai menggodaku.
"Bukan begitu bang, Ruli sudah takut setengah mati memikirkan abang saat marah terakhir kali. Ruli mau meminta maaf ke Abang. Karena Ruli pergi dengan cowok, namun gak izin dulu." aku langsung memeluk bang Dana lagi.
Bang Dana terlihat menarik nafas kemudian melepaskan pelukanku lalu menangkup wajahku.
"Maafin Abang juga ya. Abang hanya tidak suka kamu pergi tanpa izin, apalagi dengan seorang Pria. Abang hanya khawatir padamu. Kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Pasti banyak cowok-cowok yang mulai mendekati. Kamu harus lebih berhati-hati."
"Iya bang. Waktu itu Ruli sudah berusaha menolak ajakan Arez, tapi dia memaksa. Ruli berencana mau bilang ke Abang, tapi gak jadi. Arez hanya teman saja kok bang."
"Yakin hanya teman?"
"Iya Lo bang."
"Jadi wajahnya kok merona gitu?"
"Abang ah, jangan menggoda terus."
"Tapi kok sepertinya kalian cocok. Namun selesaikan lah dulu kuliahnya, jangan pacaran dulu."
"Iya bang, lagian dia hanya teman kok. Belum tentu juga dia suka sama Ruli."
"Yasudah, jangan sedih lagi ya."
"Ruli mengira Abang sangat marah besar ke Ruli makanya Abang pindah ke sini."
"Tidak kok, awalnya Abang sebentar saja mau disini, tapi Abang pengen lihat reaksi kamu dulu. Apa yang akan kamu lakukan jika Abang gak ada di rumah."
Bang Dana tersenyum melihat aku manyun.
"Tapi bang, kata Ibu, dulu Abang pernah pergi dari rumah. Karena apa bang? Ruli penasaran." Aku bertanya dengan menyelidik.
"Ooh... Itu, Abang pernah bertengkar hebat dengan Papa. Karena Papa memaksa Abang untuk bekerja di perusahaan Papa. Papa bilang, untuk apa Abang bekerja di perusahaan lain, sementara ada perusahaan keluarga yang harus dikembangkan." Bang Dana mulai menjelaskan.
"Hanya beda pendapat saja sebenarnya, Abang bukan tidak mau mengembangkan usaha keluarga. Namun Abang tidak berminat di bidang itu."
"Kamu kan berencana bekerja di perusahaan papa, apakah itu sudah sesuai dengan keinginan kamu? Atau kamu hanya ingin menyenangkan papa saja?"
Aku mengangguk, "Iya bang, Ruli ingin membantu papa, kasian juga Papa, pasti Papa sedih jika anak-anaknya tidak ada yang berminat untuk membantu mengembangkan usaha yang sudah dirintisnya sejak dulu."
Sepertinya bang Dana tampak berfikir setelah mendengar apa yang aku jabarkan.
"Ya sudah, yang penting kamu tidak terpaksa menjalankannya nanti."
"Iya bang pasti. Makasi ya bang, sudah tidak marah lagi." Aku pun memeluk bang Dana lagi, rasanya aku masih sangat rindu.
Ponselku berdering, kulepaskan pelukanku lalu kuambil ponselku. Ternyata Arez yang menelfon. Sekilas kulirik bang Dana. Aku ragu untuk mengangkatnya.
Ada apa ya Arez menelfon?