Suasana di dalam rumah Keluarga Rathore menjadi tegang setelah kepergian Tara. Mereka memusatkan perhatian ke arah Shiv perihal kejadian tersebut, terutama nenek yang menatap tajam ke arahnya.
"Kakak, apa yang telah kau lakukan pada gadis itu? Kenapa dia terlihat sangat begitu marah padamu?" tanya Yuvi mendahului pertanyaan nenek.
Shiv tak langsung menjawabnya, ia hanya diam dan kembali terbayang dengan sosok Tara.
"Kak Shiv, kenapa kau diam saja? Apa yang Kakak lakukan pada wanita itu?" sela Nisha menimpali dengan pertanyaan pula.
"Kenapa kalian jadi mendesakku? Itu ...itu bukan urusan kalian!" jawab Shiv dengan ketus.
"Setelah melakukan kesalahan besar pada anak penjaga Sekolah, sekarang kau membalaskan sakit hatimu pada gadis itupula?" sergah nenek yang sudah tidak tahan dengan karakter cucu tertuanya itu.
Shiv terkesiap mendengar sergahan nenek yang bernada marah padanya.
"Apa kau juga melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada anak penjaga Sekolah itu?"
Pertanyaan nenek sontak membuat Shiv semakin tersudut. Sebenarnya ucapan nenek memang benar adanya.
"Kenapa kau masih saja tidak berubah? Kau ingin membuat malu diriku lagi?" ucap nenek kembali bertany dengan nada emosi.
Kedua adik Shiv hanya dia mendengar perkataan nenek. Mereka juga tidak tau apa yang dikatakan nenek tersebut.
"Apa salahku, Nek?" Sela Shiv berkelit. "Apa salah bila aku membalaskan rasa sakit hatiku padanya?" Lanjut lelaki itu lagi.
Nenek sampai memicingkan kedua matanya mendengar pembelaan diri dari cucunya. Ia sampai tak habis pikir karena tidak ada rasa penyesalan dan rasa bersalah dari diri dalam Shiv.
"Aku sakit hati karena dia telah mempermalukan aku dan Nenek waktu itu. Aku tidak terima karena dirinya telah membuat Nenek berlutut di hadapan orang-orang miskin itu. Aku benci mereka! Aku benci gadis itu!" pungkas Shiv bersikukuh pada egonya.
Nenek terduduk lesu di atas sofa mendengar perkataan Shiv yang begitu keras hati. Nenek sempat berpikir, apa yang salah dari didikannya selama ini? Kenapa cucu tertuanya itu begitu keras kepala dan juga suka berbuat onar.
"Aku tidak malu bila berlutut di hadapan mereka, karena aku akui itu adalah kesalahan cucuku sendiri. Yang seharusnya menanggung malu adalah dirimu, Shiv. Sebelumnya kau juga telah berjanji padaku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tapi, kenapa hari ini kau mengulanginya?" ucap nenek dengan nada tenang namun di dalam hati ia sangat marah. Ia tidak tahu lagi bagaimana meluahkan kemarahannya itu mengingat usianya yang sudah tua.
Nisha lalu duduk di samping Nenek Anjum. Ia merengkul lengan nenek untuk menenangkannya.
"Nenek, tenanglah!"
Nenek lalu membuka kaca matanya dan menghapus air bening yang sempat bertumpuk di lubuk matanya.
"Ini semua adalah kesalahanku, kesalahan putraku dan juga menantuku. Mereka tidak membiarkan kalian untuk merasakan kasih sayang mereka," ujar nenek melanjutkan perkataannya. Dengan menahan tangisnya nenek menyayangkan kepergian putra dan menantunya yang begitu cepat.
"Seandainya saja mereka tidak meninggalkan kalian, kalian pasti tidak akan kekurangan kasih sayang. Kasih sayang dariku memang tidak sebesar yang mereka berikan... tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian semua."
Ucapan nenek begitu dalam hingga membuat ketiga cucunya itu terdiam.
"Tapi mungkin semua yang kulakukan tidak seperti yang kalian inginkan, sehingga kalian melampiaskannya kepada orang lain dengan menyakiti mereka."
Nenek menghela napasnya dengan rasa kecewa karena telah gagal mendidik cucu-cucunya.
"Sebelum kau melakukan tindakan itu, apa kau tidak pernah berpikir bahwa kau juga mempunyai saudara perempuan, Shiv?"
Pertanyaan nenek sontak mengalihkan pandangan Shiv kepada nenek dan juga Nisha, namun ia masih terdiam.
"Kau seharusnya bisa merasakan perasaannya kalau sesuatu yang buruk menimpa pada saudarimu,"
"Kenapa Nenek berkata seperti itu? Apa Nenek menginginkan hal buruk itu juga menimpa Nisha?" sahut Shiv yang seperti melempar balik pernyataan nenek.
"Kenapa Kakak berpikir seperti itu kepada Nenek? Aku memang tidak tahu apa yang telah Kakak lakukan, tapi jujur saja aku sangat takut setelah mendengar ucapan gadis itu ...yang seakan-akan mengutuk keluarga kita," sela Yuvi pula.
Shiv kembali terkesiap mendengar ucapan Yuvi, begitu juga nenek dan Nisha. Di dalam hatinya, Shiv tidak begitu gentar menanggapi kutukan yang dilontarkan oleh Tara padanya. Sekarang ini ia hanya merasakan kepuasan karena telah berhasil mempermalukan serta menghancurkan rencana pernikahan Tara.
Nenek lalu berdiri berniat kembali ke kamarnya. Ia ingin menyendiri ke dalam kamar merenungi bagaimana masa depan semua cucu-cucunya nanti.
"Nenek, mau ke mana? Aku akan mengantarmu!" ujar Nisha mencoba memapah neneknya itu.
"Aku ingin ke kamarku. Aku tidak kuat menahan amarahku saat ini. Dia yang menyakiti kehidupan orang lain tapi aku yang merasakan penderitaan mereka. Aku tidak akan bisa mati dengan tenang selama dia tidak mengubah prilaku buruknya itu."
"Aku harap Dewa mengambil nyawaku saat ini, agar aku tidak dapat melihat penderitaan orang-orang yang telah ia sakiti," lanjut nenek dengan raut wajah sedih.
"Nenek jangan berkata seperti itu! Dewa tidak akan mengambil nyawa Nenek, aku tidak akan rela kalau Nenek juga meninggalkanku," rengek Nisha sambil memeluk tubuh wanita tua itu.
Nenek lalu kembali melanjutkan langkahnya dibantu oleh Nisha. Yuvi kemudian juga melangkah pergi, namun saat akan melewati Shiv ia memalingkan pandangan ke arahnya.
"Kakak, selagi ada waktu kau masih bisa memperbaiki semuanya. Derajat kita tidak akan rendah hanya karena meminta maaf pada seseorang, justru hal itu semakin mulia di mata Dewa," ujar Yuvi berharap kakaknya itu menjadi lunak.
"Simpan saja kata-kata itu untuk dirimu sendiri atau kau bisa menasehati orang-orang yang saat ini ada di Kuil dengan ceramahmu itu," tanggap Shiv dengan tajam. Kemudian lelaki itu pergi terlebih dahulu sebelum Yuvi.
Yuvi menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap Shiv yang keras.
Di sisi lain,
Tara terus berjalan berniat menuju sungai gangga untuk menaburkan abu ibunya. Ia memeluk erat guci tersebut, mata gadis itu telah bengkak karena menangis seharian. Air matanya sudah hampir mengering.
Suasana tidak terlalu ramai, pandangan Tara lurus ke depan melihat aliran muara sungai Gangga. Ia melangkahkan kakinya menyebarangi jalan untuk sampai ke sana.
Nasib buruk kembali menghampiri gadis itu. Sepertinya Dewa masih ingin menguji kesabaran Tara kembali.
Saat mencapai pertengahan jalan sebuah mobil melaju ke arahnya. Tara yang juga tanpa memperhatikan jalan tidak dapat mengelak dari sana.
Tiiiiiitiiiiiittttt
Tara terkesiap dan menoleh pada sumber suara.
"Kyaaaaaaaaghh!"
Guci yang dipeluknya semula terlepas sehingga abu yang ada di dalamnya menghambur ke luar.
Tara tergelatak di tengah jalan dengan luka di kepalanya. Ia masih dapat memandang walau hanya samar-samar dari bali ceceran darah yang menetes di pelipisnya.
Tangan Tara masih bergerak hendak meraih guci abu ibunya yang terhempas tak jauh di depannya. Isi dari guci itu telah terserak, ia berniat hendak mengambil dan memeluknya namun tubuhnya terasa kaku, tenaganya tak cukup kuat untuk mencapai guci tersebut.
"Ii-iibu," ringis Tara dengan pelan.
Namun, tak berapa lama pandangannya menjadi gelap. Tangannya yang semula masih bergerak kini tergeletak tak bergerak lagi.
Sepasang suami istri ke luar dari dalam mobil dan bergegas menghampiri tubuh Tara yang tidak berdaya. Mereka terlihat panik karena telah menabrak gadis itu dengan tidak disengaja.
"Apa yang harus kita lakukan?" ucap istrinya yang panik.
Sang suami yang terlihat bingung melihat ke ke kanan dan ke kiri. Suasana kebetulan sepi saat itu, sang istri menatap pada suaminya lalu ia pun menanggukkan kepalanya menuruti isyarat suaminya itu.