"Selamat pagi, Miss! Aku sudah datang membawa ayahku," ucap Rohan mengenalkan pamannya, Shiv. Rohan melirik ke arah Shiv sembari tersenyum.
"Bagus! Silahkan duduk!" balas kepala sekolah tersebut lalu membalikkan badannya untuk melihat Rohan.
Namun, tiba-tiba suasana menjadi tegang saat Kepala Sekolah itu melihat sosok orang tua yang dikatakan oleh Rohan.
Shiv pun tersontak kaget. Darahnya mendesir, jantungnya pun berdegub dengan sangat kencang.
Sosok gadis yang ia cari selama ini kini berdiri tepat di depannya dengan penampilan yang sangat berbeda.
Kini gadis tersebut telah berubah menjadi sosok wanita cantik, elegan dan berkelas. Sorot matanya juga tajam saat bertemu dengan Shiv setelah kian lama.
"TARA!" desis Shiv dengan pelan.
Rohan terlihat bingung melihat paman dan Kepala Sekolahnya itu saling menatap. Apalagi, tatapan dari Kepala Sekolahnya yang tampak tidak bersahabat.
"Miss, kenalkan ini ayahku," ucap Rohan memperkenalkan Shiv sebagai ayahnya.
Shiv tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Tara. Namun, Tara tidak menanggapinya. Ia malah terbayang kembali dengan kisah lama yang telah lama terkubur.
Kehadiran Shiv mengingatkan Tara akan peristiwa beberapa tahun silam. Peristiwa yang masih membekas hingga saat ini.
FLASHBACK ON
Scene beralih di mana Shiv dan Tara masih sekolah dulu. Shiv dikenal sebagai Siswa yang suka berbuat onar dan juga berandal. Ia sangat anti bila disentuh oleh orang-orang miskin yang tidak selevel dengan dirinya.
Saat itu Shiv dan sahabatnya Nitin dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Mereka dituduh telah melakukan penganiayaan serta pelecehan terhadap Jyoti, putri Penjaga Sekolah yang tidak bisa bicara.
Di ruangan Kepala Sekolah,
Tampak Shiv dan Nitin berdiri di pojok kanan. Nitin menundukkan kepalanya karena takut kedua orang tuanya akan menghukum dirinya. Berbeda dengan Shiv yang mendongakkan kepalanya tanpa rasa bersalah.
Di sisi lain, terlihat Penjaga Sekolah dan putrinya Jyoti duduk menunggu kedatangan keluarga dari Shiv dan Nitin.
Tak berapa lama setelah itu, kedua orang tua Nitin datang terlebih dahulu. Saat melewati kedua Siswa tersebut, mereka menatap ke arah Shiv dengan tatapan tidak suka karena Shiv hanya memberi pengaruh buruk dan sering membawa-bawa putra mereka ke dalam masalah.
"Silakan duduk, Tuan dan Nyonya Tiwari!" ucap Pak Kepala Sekolah mempersilakan duduk.
Kedua orang tua Nitin duduk namun masih belum memberi pertanyaan.
Tak berapa setelah itu, Nenek Anjum pun datang sebagai walinya Shiv karena kedua orang tua Shiv sudah meninggalkan dunia ini.
"Silakan masuk, Nyonya!"
Nenek Anjum lalu masuk dan duduk di depan kedua orang tua Nitin. Nenek sudah tau mengapa ia dipanggil ke Sekolah, karena setiap ia dipanggil ke sana pasti Shiv telah melakukan suatu pelanggaran.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya telah memenuhi panggilan saya," ucap Bapak Kepala Sekolah.
Mereka masih saling berpandangan karena belum tahu pokok permasalahannya.
"Pak Kepala Sekolah, kami adalah orang sibuk. Datang ke mari adalah membuang-buang waktu kami," ujar Ayah Nitin agak meninggikan egonya.
"Apalagi yang dilakukan oleh anak kami kali ini?" sela Ibu Nitin bertanya pula.
Pak Kepala Sekolah duduk dengan tegak sambil melirik ke arah penjaga Sekolah dan putrinya.
"Dia adalah Jyoti. Putri Bapak Ballu selaku Penjaga Sekolah ini. Dia adalah gadis yang tidak bisa bicara, kemarin dia dianiaya dan juga dilecehkan," ungkap Kepala Sekolah sembari mengarahkan tangannya kepada Jyoti.
Pandangan kedua orang tua Nitin pun beralih pada gadis itu, begitu juga dengan nenek. Terlihat Jyoti seperti ketakutan menatap sorot mata mereka.
"Dia mengalami trauma dan shock karena peristiwa itu," lanjut Pak Kepala Sekolah.
"Lalu, apa permasalahannya, Pak?" sergah ayah Nitin.
"Shiv dan Nitin adalah pelaku dari penganiayaan dan pelecehan itu. Mereka melakukan tindakan tercela itu terhadap gadis yang berkekurangan seperti Jyoti," lanjut Pak Kepala Sekolah sehingga membuat kedua orang tua Nitin terperangah.
"Apa?" pekik mereka berdua yang tampak tidak percaya.
Nenek membuka kaca matanya seperti orang yang sudah tau masalahnya. Ia akui cucunya sering melakukan pelanggaran di Sekolahnya. Namun pelanggaran kali ini sudah di luar batas.
"Yah, putra-putra kalian dengan sadar melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Kami dari pihak Sekolah telah bersepakat untuk mengeluarkan mereka dari Sekolah ini," ucap Kepala Sekolah memberikan keputusannya.
Kedua orang tua Nitin masih sulit mempercayainya.
"Bagaimana mungkin putra kami melakukan hal itu, Pak Kepala Sekolah?" sela Ayah Nitin yang masih tidak mempercayai perkataan Kepala Sekolah.
"Kami selalu mendidiknya dengan pengajaran yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal itu, Pak." timpal Ibu Nitin pula membela putranya.
"Kalian boleh tidak mempercayainya tapi kami mempunyai saksi. Ada yang melihat mereka yang melakukan tindakan itu," sergah Pak Kepala Sekolah pula.
Semua orang menjadi terperangah mendengarnya, termasuk Shiv yang tidak menyadari ada yang melihat mereka menganiaya Jyoti. Pantas saja Kepala Sekolah memanggilnya dan Nitin, dan dia terlihat sangat murka, pikirnya.
"Tara!" panggil Kepala Sekolah.
Pandangan semua orang tertuju pada bibir pintu. Di sana tampak berdiri seorang gadis memakai kaca mata. Perlahan ia melangkah masuk dengan perasaan takut.
Tara melewati Shiv dan Nitin. Shiv menatapnya dengan sorot mata tajam. Tara meneruskan langkahnya hingga sampai di samping meja Kepala Sekolah.
"Tara, ceritakan apa yang kau lihat saat itu!" ucap Kepala Sekolah menatapnya.
Tara menatap Pak Kepala Sekolah pula, ia sedikit ragu dan merasa gemetar untuk membuka bibirnya berbicara.
"Jangan ragu Tara, jika kau bertindak benar kenapa kau mesti takut, yang salah harus dihukum," ujar Pak Kepala Sekolah.
Tara lalu mengalihkan pandangannya kepada keluarga Nitin dan neneknya Shiv, pandangannya juga beralih pada Shiv dan Nitin.
Penjaga Sekolah dan putrinya juga berharap banyak pada kesaksian Tara. Tara melihat Jyoti dengan perasaan iba. Gadis tuna rungu itu telah menderita dan sekarang penderitaannya semakin bertambah karena kelakuan Shiv dan Nitin.
"Hari itu aku melihat Shiv dan Nitin menganiaya dan melecehkan Jyoti di gudang belakang Sekolah. Aku bahkan berani bersumpah, aku melihat mereka melakukan perbuatan buruk itu terhadap Jyoti," ungkap Tara tanpa ragu-ragu lagi.
Nenek Shiv tertunduk lesu mendengar ucapan Tara. Kedua orang tua Nitin juga merasa malu setelah memdengar kesaksian dari Tara.
Emosi Ayah Nitin memuncak, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri putranya yang tengah berdiri di pojok.
PLAAAAKKK
Nitin menerima tamparan keras dari ayahnya. Shiv bahkan terperangah melihat tindakan Tuan Tiwari yang menampar Nitin di depan semua orang.
"Perbuatanmu ini telah mencoreng reputasi keluargaku," ucap Ayah Nitin di depan muka putranya.
"Ayah!"
"Paman!"
"Diam kau!" bentak ayah Nitin ke arah Shiv.
"Ini semua terjadi pasti karena ulah dirimu. Kau hanya bisa membawa pengaruh buruk saja bagi Nitin," cetus tuan Tiwari kepada Shiv.
Shiv menunduk dan terdiam karena ucapan ayah Nitin. Walau ia agak tersinggung tapi ia segan untuk menentang orangtua dari sahabatnya itu.
"Sabar, Tuan Tiwari. Saat ini bukan waktu untuk memarahi putramu. Kau bisa melakukan itu saat kalian berada di rumah," sela Pak Kepala Sekolah menghentikan makian Ayah Nitin.
Istri Tuan Tiwari menghampiri suaminya untuk menenangkan dirinya. Ia mengajak suaminya kembali duduk dengan tenang.
"Saat ini yang dirugikan adalah Jyoti. Dia mengalami trauma dan depresi karena tindakan putra kalian," ungkap Kepala Sekolah.
"Jadi, apa yang Bapak maksudkan? Apa kami harus memberi ganti rugi?" sela Ayah Nitin.
Penjaga Sekolah agak tersinggung mendengar ucapan lelaki itu.
"Kami akan memberikan uang asalkan Nitin tetap bersekolah di sini," ungkap Tuan Tiwari lagi.
"Ini bukan masalah uang, Pak," sanggah Penjaga Sekolah yang tersinggung perasaannya.
"Ini masalah harga diri putriku. Putriku trauma dan ketakutan saat melihat putra-putra kalian. Jadi, aku meminta kepada Bapak Kepala Sekolah untuk mengeluarkan mereka dari Sekolah ini sebagai ganti ruginya," ucap Penjaga Sekolah itu melanjutkan perkataanya.
Kedua orang tua Nitin tampak terkejut.
"Beraninya kau memberikan permintaan seperti itu!" ujar Ibu Nitin menatap tajam kepada Penjaga Sekolah tersebut. Ia menganggap rendahan martabat lelaki paruh baya itu dan putrinya yang sebagai Penjaga Sekolah.
"Cukup, Nyonya!" sergah Pak Kepala Sekolah memghentikan.
Perdebatan itu terhenti sejenak.
"Maaf sebelumnya Pak Kepala Sekolah, aku sebagai Nenek Shiv merasa malu atas perbuatan cucuku. Terus terang aku sangat terkejut dengan kelakuan mereka kali ini," sela Nenek Anjum dengan nada suara lunak.
Wanita tua itu cukup malu dengan perbuatan Shiv. Nenek lalu membuka sendalnya dan meletakkannya ke atas meja.
"Ini sendalku, pukullah cucuku itu dengan sendalku ini, Tuan! Tapi, aku mohon jangan keluarkan cucuku dari Sekolah ini!"