Lara melihat ayahnya memukul kepala ibunya menggunakan vas bunga hingga mengalirkan darah segar. Melihat kejadian tidak manusiawi itu, gadis kecil itu bergegas membela ibunya...
"Papah! Udah pah! Jangan pukul mama terus! Kasian mama pah!"
"Kamu itu nggak tau apa apa! Meninggalnya adek kamu itu karena dia! Karena dia terlalu sibuk sama dunianya sendiri! Sampai anaknya sendiri meninggal dia nggak tau!" Ujar Arya
"Udah! Mending kamu masuk kamar sana! Jangan ikut campur urusan orang tua!"
"Tapi.. mamah?"
"MASUK KAMAR LARA!!" Dan itulah yang dialami oleh Lara selama berbulan-bulan, hingga dia mulai sakit sakitan
karena tidak diperhatikan oleh orang tuanya...
Bahkan, ketika Lara mengadukan penyakitnya
kepada orangtuanya, mereka tidak segan segan memaki dan memukul gadis kecil yang tidak tahu apa apa itu...
Berbagai macam makian mereka lontarkan kepada anak semata wayangnya itu.
"KAMU ITU BEBAN"
"DASAR NGGAK BERGUNA!!"
"KENAPA YANG MATI BUKAN KAMU AJA SIH? KENAPA HARUS NIAA?!!"
"MAMAH NYESEL NGELAHIRIN KAMU!!"
"PERGI KAMU DARI HIDUP SAYA!!"
Dan berbagai kata menyakitkan lainnya menyambut hari hari suram milik gadis kecil itu... Tidak hanya itu, Lara juga mengalami pembullyan di sekolah karena mulut sampah Melia. Pembullyan itu terjadi lantaran ia jadi jarang masuk sekolah dan nilainya yang merosot. Terlabih, ketidakhadiran Ryan membuat aksi Melia semakin menjadi jadi.
Di tengah kesendiriannya, lara sangat mengharapkan kehadiran seorang teman... Namun itu hanyalah keinginan kecilnya yang tidak akan pernah terwujud, pikirnya.
"Heh! Lu kok jadi jarang masuk sekolah sih? Penyakitan ya? Nilai Lo juga jadi makin jelek!
Bahkan Lo sampai dikasih surat panggilan berkali kali! Lu kenapa sih? Broken home Yaa?
Emang ya, kenapa yang mati itu bukan kamu aja sih? Nyusahin orang Mulu kerjaannya!" Cerca Melia kepada Lara setiap harinya..
Merasakan tekanan terus menerus setiap harinya, tidak hanya di rumah tapi juga di sekolah, Lara mencoba melompat dari balkon sekolah... Namun siapa sangka aksinya tersebut digagalkan oleh seseorang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku ini... Beban buat semua orang,ya? Aku nggak berguna... Emang bener, kenapa sih yang mati bukan aku aja? Kenapa harus Nia? Kenapa? Kenapa? Kenapa aku harus ngerasain semua ini? Apa salahku? Aku tahu... Salah aku karena udah terlahir di dunia ini dan bikin semua orang repot ... Salah aku kenapa masih hidup sampe sekarang! Kalo gitu aku gabakal repotin siapa- siapa lagi! Aku bakalan pergi sejauh jauhnya! Aku bakal ketemu lagi sama Nia! Dan gaakan ada yang nyakitin aku lagi! Iya!"
TUHAN ... LARA PULANG
"Heh! Lu pikir lu mau ngapain? Bunuh diri kayak di film film? Kalo sekali lompat langsung mati mah enak... Tapi kalo enggak? Pasti Lo udah dimaki maki sama orangtua Lo! Mikirr!" Umpat seorang anak laki laki yang berparas tinggi dan berkulit putih itu...
"Kamu siapa? Kamu gak tau apa apa! Lara mau lompat aja! Lara capek disalahin terus!! Lara
capek dibully terus! Lara mau pulang ke rumah tuhan aja!" Timpal Lara dengan terisak-isak.
"Yakin? Mati itu gak enak loh... Nanti gak bisa makan cokelat lagi, gabisa makan ayam goreng
lagi, gabisa main game lagi, dan yang paling penting... Gabisa ketemu Ryan lagi looh..." Ledek bocah bernama Niko itu kepada Lara. "Mulai sekarang aku mau jadi temen kamu deh! Kamu mau gak jadi temen aku? Nama aku
Niko!" Ujarnya sambil menyodorkan tangannya.
"KAMU YAKIN MAU JADI TEMEN AKU?! SERIUSS?" tanya Lara antusias.
"Iya...Aku serius"
Semenjak pertemuan itu, Lara kembali mendapatkan kebahagiaannya... Sebuah kebahagiaan kecil yang sudah direnggut darinya terlalu lama, kini kembali melalui perantara yang tak terduga...
Semenjak ia mengenal Niko, tidak pernah seharipun ia lalui tanpa senyuman... Hingga suatu hari...
"Niko! Ayo main ke taman di situ yuk!" Ajak Lara dengan semangat.
Oke! Ayo!" Balas Niko tak kalah antusias.
Hingga akhirnya, pepatah yang menyatakan bahwa kebahagiaan tidak pernah berlangsung lama memanglah benar...
Ketika sedang bermain, Lara tidak sengaja menendang bola ke jalanan dan
Niko pun bergegas mengambilnya. "Lara, kamu tunggu disini ya! Jangan ikut aku ke jalan! Bahaya!" Pinta Niko
"Iya!" Tak berlangsung lama, Lara melihat sebuah mobil kontainer melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Niko yang sedang berdiri di tengah jalan...
Tanpa pikir panjang Lara langsung berlari
menuju sahabatnya itu dan segera mendorongnya.
"NIKOOO! AWASS-" Brakkkkk..... Suara bagian depan truk menabrak tubuh kecil itu dengan sangat keras dan kecelakaan pun tak
dapat dihindarkan...
Setelah truk itu berlalu tanpa bertanggung jawab, terlihatlah tubuh seorang gadis kecil yang terbelah menjadi 2 bagian sebagai akibat dari terlindas truk yang melaju dengan kencang...
Di saat saat terakhir nya, Lara pun teringat akan kebahagiaan yang dia lalui bersama
keluarganya dulu sebelum peristiwa mengerikan datang dan merenggut segalanya darinya...
Sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah ia rasakan kembali.. selamanya.
Tuhan...Lara.. Pulang...
Para warga yang melihat peristiwa itu segera memanggil bantuan dari ambulance dan
menelepon polisi. Beberapa warga yang mengenali Lara pun segera menghubungi Ririn...
"Halo? Assalamualaikum Bu Ririn? Tolong datang ke jalan Cempaka sekarang ya buk! Ini
soal anak ibuk, Lara! " Ujar seorang warga dengan tergesa-gesa.. "Lara kenapa ya pak? Apa Lara bikin masalah lagi?" Tanya Ririn dengan kesal.
Udah Bu.. pokoknya datang dulu ke sini! Ini penting! Ibu liat aja sendiri!"
Tut---
Ririn segera mematikan telepon dan memberi tahu Arya untuk segera menuju ke tempat yang
dimaksud.. "Halah! Anak kamu itu selalu aja bikin masalah! Awas aja, kalo udah Sampek rumah, saya pukulin dia habis habisan!" Cerca Arya.
"Udah, yang penting kita kesana dulu sekarang mas!" Jawab Ririn. Sesampainya di sana, Ririn dan Arya dibuat bertanya tanya ketika melihat warga bergerombol ditengah jalan serta berbondong bondong mengambil daun pisang dan koran seadanya... "Maaf buk, ini ada apa ya? Kok rame rame begini?"
"Pak Arya , Bu Ririn... Yang sabar ya?" Ujar seorang warga.
Tanpa basa basi lagi, Ririn dan Arya segera menerobos kerumunan masyarakat dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat putrinya sulungnya tergeletak tak bernyawa dengan kondisi
yang sangat mengenaskan..
"LARAAA!!" teriak Arya histeris.
Tak kalah terkejut, Ririn pun pingsan di tempat kejadian... Semenjak kejadian itu, Arya dan Ririn menjadi sangat terpukul.. Mengingat mereka selalu menyia-nyiakan lara semasa hidupnya.
Tak tahan, Ririn yang sudah lelah menjadi korban KDRT dan menyaksikan kedua putrinya
meninggal, akhirnya memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya dengan cara memotong nadinya sendiri dan menenggelamkan diri di bath tub...
Melihat istrinya mengakhiri hidupnya, Arya semakin terpukul dan menyesal. Ia berteriak ke luar rumah untuk mencari bantuan sembari menggendong tubuh istrinya yang sudah terbujur kaku.
Setibanya di rumah sakit, Arya hanya bisa menerima kenyataan bahwa sekarang ia hanya sebatang kara...
Mendadak ia teringat dengan putri sulungnya dan mencoba mengingat kenangannya bersama keluarga kecilnya di kamar Lara.
Menelusuri kamar putrinya, Arya menemukan surat keterangan medis milik Lara. Seketika terungkaplah fakta bahwa selama ini Lara mengidap maladaptive daydreaming syndrom.
Mengetahui itu, Arya segera menemui dokter yang menangani penyakit putrinya itu, dokter Robert Pranata.
"Apa itu maladaptive daydreaming syndrom dok? Apa itu penyakit yang serius? Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya?!" Tanya Arya.
"Maaf bapak ini siapa ya? Sudah buat janji temu belum pak? Bapak tidak bisa sembarangan masuk ke sini tanpa membuat janji temu terlebih dahulu." Ujar dokter Robert.
"Saya ayahnya pasien anda bernama Lara Panukuh. Saya menemukan surat diagnosa dokter Robert Pranata di kamar anak saya".
"Jadi anda ini walinya Lara. Bapak tidak pernah mengetahui kondisi anak bapak sendiri?".
Bersambung...