Malam itu adalah malam yang seharusnya penuh kebahagiaan. Namun, takdir berkata lain. Di tengah hamparan desa yang tenang, di antara pepohonan yang menjulang tinggi, dua jiwa yang seharusnya bersatu dalam cinta malah menemukan akhir yang tragis. Pernikahan mereka menjadi awal dari kutukan yang mencekam, kutukan yang akan mengubah nasib keturunan mereka untuk selamanya.
__________________________________________
Di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Dia adalah putri satu-satunya dari keluarga petani sederhana. Wajahnya cantik dengan mata bulat yang selalu memancarkan keceriaan. Namun, meskipun hidup dalam kesederhanaan, Dewi memiliki hati yang besar, penuh dengan cinta dan harapan.
Suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang pemuda bernama Rian di pasar desa. Rian adalah putra dari keluarga kaya yang tinggal di kota. Dia datang ke desa untuk mengurus tanah keluarganya yang luas. Pertemuan mereka yang tak disengaja berubah menjadi pertemuan yang diharapkan terjadi lagi dan lagi. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka, meski mereka tahu bahwa hubungan ini tidak akan direstui oleh kedua orang tua mereka.
Di suatu sore yang tenang, Dewi dan Rian duduk di tepi sungai yang mengalir lembut, ditemani suara gemericik air yang menenangkan.
"Dewi, aku tahu ini tidak akan mudah," kata Rian dengan suara berat. "Keluargaku tidak akan pernah setuju kita bersama. Mereka hanya melihat status dan kekayaan, bukan perasaan kita."
Dewi menunduk, merasakan perih di hatinya. "Aku juga tahu, Rian. Orang tuaku pun pasti tidak akan menerima kita. Mereka selalu bilang aku harus menikah dengan seseorang yang selevel denganku, seorang petani atau pedagang desa. Tapi aku mencintaimu, Rian. Aku tidak peduli dengan semua itu."
Rian menatap Dewi dalam-dalam, merasakan keputusasaan yang sama. "Aku juga mencintaimu, Dewi. Apapun yang terjadi, aku akan melawan segalanya demi kita."
Mereka berdua berjanji untuk tetap bersama, apa pun yang terjadi. Cinta mereka adalah segalanya bagi mereka, lebih kuat dari ketakutan atau tekanan dari keluarga mereka.
Namun, kabar hubungan mereka akhirnya sampai di telinga orang tua mereka. Ayah Dewi, Pak Warto, seorang petani yang keras, mendengar kabar itu dari tetangga.
"Kamu harus menjauhi anak kota itu, Dewi!" bentak Pak Warto suatu malam ketika Dewi pulang terlambat.
"Tapi Ayah, aku mencintainya," jawab Dewi dengan suara pelan, tetapi tegas.
"Mencintai? Apa yang kamu tahu tentang cinta? Kamu hanya akan membawa malu bagi keluarga kita! Anak kota itu tidak selevel dengan kita. Dia hanya akan meninggalkanmu setelah bosan!" seru Pak Warto dengan marah.
Di sisi lain, orang tua Rian juga tidak kalah tegas. Mereka menganggap Dewi hanya seorang gadis desa yang tidak pantas untuk anak mereka yang kaya dan berpendidikan.
"Kamu tidak akan menikahi gadis desa itu, Rian," kata ibunya dengan dingin. "Kami sudah menyiapkan pernikahanmu dengan putri salah satu rekan bisnis Ayahmu. Gadis itu cocok untukmu, bukan seorang petani!"
Namun, cinta Dewi dan Rian terlalu kuat untuk dipisahkan. Mereka memutuskan untuk menikah diam-diam, meskipun tahu konsekuensi yang akan mereka hadapi. Mereka berdua tidak peduli dengan ancaman, tidak peduli dengan penolakan. Yang mereka inginkan hanya bersama, menghabiskan sisa hidup mereka satu sama lain.
Malam pernikahan mereka tiba. Di sebuah rumah tua yang tersembunyi di balik hutan, mereka mengucapkan janji setia di depan seorang penghulu yang setuju membantu mereka. Hanya ada beberapa saksi dari kalangan sahabat dekat yang setia dan mengerti perjuangan cinta mereka.
"Apakah kamu, Rian, bersedia menerima Dewi sebagai istrimu, dalam suka dan duka, dalam keadaan apapun?" tanya penghulu itu.
Rian menatap Dewi dengan penuh cinta. "Aku bersedia," jawabnya dengan mantap.
"Dan kamu, Dewi, apakah bersedia menerima Rian sebagai suamimu, dalam suka dan duka, dalam keadaan apapun?" tanya penghulu kepada Dewi.
"Aku bersedia," jawab Dewi, air matanya berlinang, bukan karena kesedihan, tetapi karena kebahagiaan yang meluap.
Mereka pun sah menjadi suami istri. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Malam yang harusnya penuh kebahagiaan itu berubah menjadi malam penuh tragedi. Takdir kejam seakan tidak rela melihat cinta mereka bersatu.
Saat mereka hendak merayakan malam pertama sebagai suami istri, sekelompok orang datang menyerbu rumah tempat mereka menikah. Orang tua mereka yang murka telah mengirim orang-orang itu untuk menghentikan pernikahan ini dengan cara apa pun.
"Kalian tidak pantas bersama!" teriak salah satu orang yang masuk ke rumah dengan paksa.
Rian berusaha melindungi Dewi, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Mereka tidak bisa melawan. Dengan sekuat tenaga, Rian mencoba membawa Dewi kabur, namun mereka dikepung.
"Rian! Dewi!" suara orang tua mereka terdengar, namun bukan suara yang penuh kasih, melainkan suara penuh kemarahan. "Kalian tidak akan pernah bersama! Tidak di dunia ini, atau di dunia manapun!"
Dalam kekacauan itu, Dewi dan Rian dipisahkan. Mereka dibawa ke tempat yang berbeda dan di malam yang sama, mereka diadili oleh keluarga masing-masing.
"Mereka harus dihukum!" teriak Pak Warto dengan penuh amarah.
"Kalian telah mencemarkan nama baik keluarga!" sambung Ayah Rian dengan tatapan dingin.
Tanpa ada belas kasih, Dewi dan Rian dieksekusi malam itu juga. Darah mereka tumpah, mengalir menyatu dengan tanah yang basah. Mereka berdua meninggal di malam pernikahan mereka, di bawah bulan purnama yang menyaksikan tragedi cinta ini.
Namun, roh mereka tidak pernah pergi. Di malam itu, sebuah kutukan terlahir. Kutukan yang akan menghantui siapa saja yang mencoba memisahkan cinta sejati. Kutukan yang akan menjadi legenda di desa itu, menjadi peringatan bagi generasi berikutnya bahwa cinta sejati tidak bisa dihalangi, bahkan oleh kematian.