Hujan turun seperti ratapan langit yang tak berkesudahan. Di atas bukit hitam yang menjulang, Kastel Velmoria berdiri angkuh, dikelilingi kabut tebal dan pepohonan mati. Di dalamnya, suara lonceng tua menggema—pertanda bahwa malam kutukan telah tiba.
Aira, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, menggigil di antara dinding batu kastel yang lembap. Ia baru tiga hari menjadi pelayan di kastel itu, namun mimpi buruk menghantuinya setiap malam—selalu sama: seorang ratu berwajah hancur, bermata merah darah, memanggil namanya dari singgasana api.
“Aira,” bisik suara di balik dinding batu, “tinggalkan tempat ini sebelum mahkota memilihmu.”
Gadis itu terlonjak. Ia menoleh, namun hanya bayangan yang menari di balik nyala obor. Hatinya berdebar kencang, tapi rasa penasaran lebih kuat dari ketakutannya. Ia mengikuti bisikan itu, menuruni lorong rahasia yang tak tampak oleh mata pelayan biasa.
Di ujung lorong, ia menemukan ruangan yang terkunci rapat dengan rantai besi. Di balik jeruji, terdapat cermin raksasa yang tertutup debu, dan di hadapannya... sebuah mahkota hitam yang berdenyut pelan seperti makhluk hidup.
Tiba-tiba, suara berat dan dingin mengisi ruangan:
“Kau datang, akhirnya.”
Cermin itu bersinar, menampilkan sosok wanita dengan gaun robek dan mata menyala merah. Ia mengenakan mahkota itu, dan darah mengalir dari matanya.
“Akulah Ratu Yvelra, penguasa abadi yang dikutuk. Dan kau, Aira... adalah pecahan jiwaku.”
Aira terjatuh. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya, dan kabut hitam mulai merayap keluar dari cermin, merangkul tubuhnya, perlahan...
-Bersambung-