Ternyata bersenang-senang menurut Taehyung bukan pergi ke taman bermain, berkencan di lotte world ataupun membolos saat penyambutan kepala kampus.
Tidak. Bukan itu.
Karena sekarang, pemuda dengan kulit tan seksi nya sedang mengocok p***s besar dengan warna yang sama coklatnya.
Sangat panas!
Dan dia melakukan itu di aula kampus! Di bangku pojok dan tepat bersebelahan dengan Jimin. Tepat di samping kirinya. Dan penyambutan mahasiswa baru akan dimulai 15 menit lagi!
Pemuda ini benar-benar.. astaga! Lihat juga p***s nya itu. Bagaimana benda itu bisa bergerak ketika pemuda m***m ini melepaskan tangannya untuk sekedar membiarkan penisnya berdiri tegak terkena AC.
Ugh.. dan itu sangatlah besar. Jimin kembali insecure untuk ketiga kalinya. Entah kenapa penisnya tidak sebesar dan segagah itu.
Meskipun belum pernah bercinta dengan mantan pacarnya sekalipun, Jimin yakin kalau penisnya tetap menjadi idaman para wanita. Dia kira p***s miliknya sudah melebihi ukuran rata-rata.
15 cm.
Sudah cukup untuk memuaskan wanita, bukan?
Dan kejantanan pemuda di sampingnya--belum ia ketahui namanya--mungkin kisaran 30 cm dan jangan lupakan urat-urat yang menonjol di sekitaran kulit kasar dan tebal milik p***s pemuda tadi.
Ah.. Jimin benar-benar insecure. Sangat disayangkan karena pemuda ini adalah gay. Seandainya tidak mungkin para wanita yang disodok oleh p***s pria di sampingnya sudah kelonjotan dan memutar matanya ke atas. Juga mendesah keras-keras.
Saking nikmatnya disodomi oleh p***s besar itu.
Tunggu. Kenapa sekarang Jimin membayangkan kalau yang disodomi itu dia? Oke. Lupakan, halunya benarbenar keterlaluan anehnya.
Bagaimana lelaki bisa di genjot oleh sesama laki-laki lain? Lewat p****t? Bergidik Jimin membayangkan. Setelah itu mungkin bentuk pup nya semakin tidak beraturan. Tidak berbentuk.
Ewh.. menjijikkan.
kembali di pemuda itu, dia menaik turunkan jari tangan berurat nya di p***s yang juga sama berurat Sesekali bergerak memutar. Mengitari kepala p***s yang mengeluarkan banyak percum.
Semakin tegang, semakin terlihat tonjolan urat di garis p***s itu.
Saat Jimin menatap dengan intens p***s kuda milik lelaki di sebelahnya, saat itu pula tangan penuh percum menyentuh wajahnya.
Mengelus setiap jengkal wajah, terutama bibir yang menjadi sasaran utama. Mencoba memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ketika yang dimasuki tidak memberontak sama sekali.
Hm.. kenikmatan mana lagi yang Tachyung rasakan karena pemuda binal ini dari tadi memukulnya tanpa ampun.
Tidak perlu direka ulang adegannya. Taehyung tidak ingin menunjukkannya, takut image tampannya bisa lebur karena itu.
Jadi, kalian cukup membayangkan betapa keras lelaki pendek itu memukul. Karena Sekuat-kuatnya Taehyung, tenaga Jimin lebih kuat dari miliknya. Lihat lengan berotot itu. Sangat-sangat mengerikan saat Taehyung mengingat adegan tadi.
"Emh.."
Menunjukkan seringai nya, baru jari tangan nya yang masuk, pemuda ini mendesah(?) wow.. binal sekali.
Dua jari yang Taehyung masukkan ke dalam mulut Jimin tadi ia buat untuk mengeksplorasi mulut hangat lelaki itu.
la menggaruk pelan langit langit mulut Jimin. Memutari lidah nya dan menjepit lidah itu di sela jari telunjuk dan tengahnya.
Sesekali, Jimin akan melotot kaget karena dengan disengaja, ia menyodok rongga mulut Jimin sampai ke pangkal tenggorokan.
"Akh! Ghokk! Henti.."
Menikmati pemandangan dimana Jimin tersiksa dengan mata melotot ke atas. Ah.. pemuda ini mungkin mempunyai fetish baru selain p****t montok laki-laki, wajah sange Jimin.
.
.
.
"Acara selanjutnya akan adalah perkenalan para struktur organisasi kampus. Untuk Kepala Kampus, dipersilahkan."
Untuk pertama kalinya di acara rapat ataupun sosialisasi, Jimin tidak mengikutinya.
Karena saat ini dia sedang berada di kamar mandi bersama Taehyung. Entah apa yang sedang Jimin rasakan ketika dia tadi hampir dilucuti oleh Taehyung di ruang aula.
Kurang dua menit lagi dan saat itu p***s Taehyung tetap berdiri setegak menara Eiffel. Dan Jimin yang sudah horni karena mulut nya disodok dengan jari tangan penuh percum itu langsung menarik Taehyung ke kamar mandi kampus.
Sampai di sana, Taehyung langsung melumat bibir tebal milik Jimin, yang sedari tadi sudah ia dambakan untuk diemut oleh bibir tipisnya.
PLAK!
BUGH!
"t***l! Apa yang kau lakukan, Bodoh"
Taehyung yang ditanyai hanya mengaduh kesakitan di pipi dan kepalanya. Sudah ia bilang kan kalau pukulan Jimin itu tidak main-main sakitnya.
"Kau punya masalah apa sih?! Aku kan hanya membantumu!" Jimin menggeram. Membantu apanya kalau Jimin hampir ditelanjangi di tempat seandainya pikirannya tidak rasional.
"Membantu kepalamul Kau hampir mencabuli ku, t***l!"
Mata Taehyung menggelap. Rautnya berubah menjadi datar seketika. la menatap Jimin tanpa ekspresi, membuat Jimin yang tadinya ingin mengumpati Taehyung dengan macam-macam nama binatang kebun binatang seketika terdiam.
Kalau boleh ia bilang, wajah Taehyung sekarang ini tampak begitu suram. Benar-benar suram, sampai Jimin merasa sesak sendiri rasanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, hah? Tidak terima dengan yang ku ucapkan? Dengarkan ya, Bodoh.. dibandingkan ku, kau tidak ada apa-apa nya sama sekali. Homo menjijikkan."
Taehyung mendekat, posisi Jimin saat ini terhimpit antara wastafel toilet dan Taehyung. Ia berada di antara itu.
"Kenapa kau mendekat! Menjauh, Sialan!"
Menunduk menatap Jimin dalam, Taehyung menggeram, "berapa kali.. berapa kali kau mengatai ku, hm? Park Jimin."
Jimin membelalakan matanya, darimana si pemuda ini tahu namanya. Meneguk ludahnya, Jimin tak berani menatap balik Taehyung.
Sejantan apapun Jimin, jika sudah dihadapi dan ditatap sederikian rupa, sepertinya Jimin akan takluk begitu saja. Dibawah Taehyung.
Semakin mendekatkan wajah dan berhenti di depan bibir Jimin, pemuda yang lebih besar menjilat dan menge eit bibir bawahnya. Membayangkan bagaimana rasa bibir lelaki di depannya ini.
"Emphh!" Bibir Jimin dilumat begitu saja oleh Taehyung. Menjejalkan lidahnya secara paksa untuk menerobos dinding pertahanan milik Jimin.
Menghentakkan selakangan yang sudah keras ke milik Jimin, membuat pemuda kecil itu merasakan betapa tegangnya p***s si dominan. Membuka mulutnya secara tidak sadar.
Dan mendesah ketika lidah panjang milik Taehyung membelit lidah runcing Jimin. Bertukar ludah, Jimin mengeratkan pegangan ke wastafel di belakangnya, la mencoba menggerakkan kakinya untuk sekiranya akan menendang milik Taehyung.
Tapi sebelum itu, Jimin merasa tiba-tiba tubuhnya melayang, pantatnya menapak ditangan lebar milik Taehyung.
"Ahh-Hentikan.. emhh-"
Melepaskan ciumannya, Taehyung menatap wajah Jimin yang berantakan, dari air liur mereka yang menetes lewat ujung mulut pemilik bibir tebal dan wajah memerah menahan napsu atau malu.
Entahlah. Taehyung tidak mengerti, karena setelah itu, ia berbisik di depan bibir bengkak Jimin, "panggil aku Vantae, Jimin."
Lalu ia kembali menerjang bibir Jimin.
"A-ah! Vantae.. mmh -"
Kembali melepas pangutan dan meninggalkan benang saliva yang masih menempel antara bibir mereka, Taehyung kembali berkata,
"Jangan Vantae. Kata itu tidak cocok diucapkan di lidahmu ternyata. Hm.. untuk kucing binal ku Jimin.. bukankah lebih baik kau memanggil ku Daddy?"
Dan di awal sampai akhir penyambutan kapala kampus, kedua remaja itu saling mendesahkan nama satu sama lain.
"Ahh- Daddyhh-!"
Tanpa s*x.
.
.
.
Tbc.