"Kenapa lu, Nick? Kok sebel gitu keliatannya?" tanya sang manajer yang masih saja sibuk mengatur makanannya.
"Hah ...." Nick bangkit berdiri dari sofa. "Aku ngantuk, Bang. Mau tidur dulu," ujar Nick alih-alih menjawab pertanyaan manajernya tadi.
"Nggak makan dulu, nih?"
"Besok pagi ajalah, Bang. Nggak nafsu," jawab Nick dengan malas sambil berjalan menuju ke tangga. Ia berjalan naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Sementara itu Derry, manajernya itu, hanya bisa melihatnya pergi dengan wajah terheran-heran karena sangat jarang dilihatnya Nick memasang wajah masam seperti itu selelah apapun ia.
Tapi Nick memang seperti itu. Lebih baik ia menyendiri saat suasana hatinya sedang tidak bagus daripada ia melampiaskannya pada orang lain dan merusak suasana. Apa yang terbayang dalam benak Kiara waktu itu sehingga tega menyakiti pria baik seperti Nick?
***
Seorang pria berusia sekitar 35 tahun sedang duduk sambil memegang gagang telepon di kursi kerjanya yang terlihat sangat mahal dan empuk berlapis kulit asli. Di depannya terdapat sebuah meja kerja dengan papan nama bertuliskan "Chief Executive Officer, Roy Sanjaya".
Posisinya tampak selaras dengan penampilannya, sangat rapi dan berkelas, berjas meskipun tak berdasi. Meskipun rapi, penampilannya cenderung terlihat lebih santai daripada CEO perusahaan lainnya. Maklum saja. Perusahaan miliknya bergerak di industri musik dan hiburan. Wajar saja jika penampilannya mengikuti.
Di dinding belakang tempatnya duduk tertulis nama perusahaannya dengan lampu neon berwarna merah, RED Label. Perusahaan rekaman yang telah ia bangun dengan seadanya dua belastahun yang lalu itu kini menjadi salah satu dari tiga label musik terbesar di Indonesia, dengan puluhan artis yang bernaung di bawah beberapa agensi yang mereka kelola. Sebagai perusahaan rekaman besar, mereka juga menaungi puluhan artis lain dari luar agensi mereka sendiri. Kesuksesan RED Label tak lepas dari kemampuan sang CEO dalam mengelola bisnisnya dan melihat potensi tersembunyi dari calon-calon artis besarnya.
"Boleh, boleh. Nanti kirim saja perwakilan dari sana untuk perjanjian kontrak di sini. Rencananya siapa saja artis yang akan kita kelola?" tanyanya pada rekan bisnisnya di seberang telepon. Sepertinya ia sedang membicarakan perjanjian kontrak rekaman dengan salah satu agensi.
"Dua, 'kan? Siapa lagi yang satunya?" Roy menelepon sambil salah satu tangannya menulis di buku catatannya yang berukuran kecil. "Mega Pelangi? Penyanyi dangdut, ya? Oh ... Iya, iya. Baik."
Di saat yang bersamaan, pintu ruangannya terbuka dan masuklah Nick dengan santainya. Gelagatnya sama sekali tak tampak seperti seorang pegawai yang masuk ke dalam ruangan pimpinannya. Penampilannya pun terlihat santai. Jaket denim berwarna hitam yang melapisi kaos putih di dalamnya, dan lagi-lagi celana jeans. Ia juga mengenakan sebuah topi berwarna hitam dengan merk pakaian olahraga terkenal tertulis di bagian di depannya.
"Oh, iya. Benar." Karena masih berbicara di telepon, Roy menyambut kedatangan Nick dengan lirikan matanya kemudian jarinya menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di depan mejanya.
Nick berjalan ke arah kursi yang ditunjuk oleh Roy dan langsung duduk di situ, menunggu hingga Roy selesai berbincang di telepon. Seperti biasa, ia menunggu sambil berusaha mendengarkan pembicaraan Roy dengan siapapun rekan bisnisnya di seberang telepon. Bukannya lancang. Namun rasa kepemilikan Nick terhadap RED Label sangatlah tinggi. Bagaimana tidak? Ia telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya di label tersebut, bersama-sama membangun dan membesaran RED Label dengan Roy yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
Kisah mereka sendiri bermula 10 tahun yang lalu di Surabaya...
Nick yang saat itu masih berusia 15 tahun sedang berada di atas panggung dengan teman-teman satu band-nya, mengenakan seragam putih abu-abu. Nick remaja yang masih terlihat lugu itu memainkan gitar sambil menyanyi. Ia terlihat sangat menikmatinya, seolah ia memang terlahir untuk melakukannya.
Pemandangan yang tak berubah dari dulu hingga kini adalah para gadis yang mengagumi bakat dan ketampanannya sambil beteriak-teriak penuh semangat. Meski terdapat beberapa anak yang bermain musik bersama Nick di atas panggung, namun Nick tetap saja merupakan magnet terkuat bagi para gadis di gedung aula sekolah itu.
Di bagian belakang dekat pintu masuk aula, berdiri beberapa siswa, guru, dan staf sekolah. Saat penampilan Nick masih berlangsung, masuklah seorang pria berpakaian bebas rapi yang tampaknya sama sekali bukan merupakan bagian dari sekolah tersebut. Ia berdiri di bagian belakang, melihat penampilan Nick dari kejauhan. Matanya berbinar dan bibirnya tersenyum lebar seolah telah menemukan sebuah permata yang telah lama tersembunyi. Itu adalah pertama kalinya Roy, yang masih berusia 25 tahun, melihat Nick yang masih remaja.
Saat Nick telah selesai bersenang-senang di atas panggung dan keluar dari gedung aula melalui pintu belakang, ia melihat Roy seperti sedang menunggunya. Roy berjalan mendekati Nick, sementara Nick sendiri merasa bingung dengan orang asing yang berjalan mendekat ke arahnya itu.
"Halo. Nicholas, ya?" tanya Roy dengan percaya diri.
"Iya. Maaf, siapa ya?" tanya Nick remaja dengan sopannya, meskipun kebingungan masih saja menghiasi wajah tampannya yang berkulit sehalus p****t bayi itu.
"Perkenalkan." Roy mengulurkan salah satu tangannya. "Roy Sanjaya."
Nick menjabat tangan Roy, masih terlihat bingung karena ia sama sekali tak pernah mendengar nama itu disebutkan sebelumnya. "Nicholas Adrian." Ia memperkenalkan diri.
"Maaf. Pasti kamu bingung kenapa saya tiba-tiba mendatangi kamu seperti ini." Roy merogoh saku kemejanya dan mengambil sebuah kartu berwarna merah lalu menyodorkannya pada Nick. "Ini kartu nama saya."
Nick menerima kartu tersebut dan langsung membacanya.
"Saya mempunyai perusahaan rekaman. Yah ... kecil-kecilan lah, indie. Saya kebetulan kenal kepala sekolah kamu, jadi saya diperbolehkan datang ke acara pensi ini. Katanya dari sekian banyak murid, kamu yang paling beliau rekomendasikan untuk masuk dapur rekaman," terang Roy dengan wibawanya meski usianya saat itu masih sangat muda untuk ukuran seorang pemilik perusahaan, yang memang masih tergolong skala sangat kecil waktu itu.
"Dapur rekaman?" Nick terlihat terkejut.
"Iya. Saya ingin menawarkan kamu untuk bergabung di label saya, jadi artis di bawah naungan RED Label. Memang nggak bisa langsung besar sih, karena masih perusahaan kecil dan independen. Tapi setidaknya kamu bisa menuangkan bakat kamu dengan lebih berguna." Roy tersenyum penuh harapan. Ia merasa harus segera mengajak Nick bergabung dengan labelnya.
Nick adalah artis ketiga yang ia ajak bergabung dengan label musiknya yang masih berusia 2 tahun waktu itu. Dari dua artis yang ia ajak bergabung sebelumnya, salah satunya masih bertahan sedangkan yang satunya lagi baru saja mengakhiri kontraknya yang memang dibuat hanya 2 tahun karena Roy memang masih belum berani membuat kontrak yang panjang mengingat perusahaannya masih labil. Namun perasaannya saat bertemu dengan Nick sangat berbeda. Ia merasa telah menemukan sebuah ciptaan langka yang sangat harus ia miliki.
Nick tak langsung menjawab Roy. Ia terus saja membaca kartu nama Roy, sambil otaknya berpikir dan berusaha mencerna situasinya saat itu.
"Jadi gimana, Nicholas? Kamu mau nggak gabung di label saya?" tanya Roy sekali lagi, masih dengan senyuman penuh harap.
"Tapi ... saya 'kan masih sekolah, Kak. Pasti orang tua saya nggak akan mengijinkan kalau saya harus berhenti sekolah," ujar Nick dengan polosnya.
Roy tertawa pelan dengan jawaban Nick. "Nggak harus berhenti sekolah, kok. Kamu masih bisa sekolah sampai lulus, nggak usah khawatir. Lagipula tempatnya juga masih di Surabaya aja." Roy kembali tersenyum simpul memikirkan bahwa tak hanya berbakat dan tampan, calon artisnya itu ternyata juga berkepribadian baik. "Jadi ... mau ya gabung di RED Label?"
"Kalau gabung di perusahaan Kakak, apa saya bisa punya album sendiri?" tanya Nick. Masih terlihat keraguan di matanya.
"Pastilah. Kamu bisa punya album kamu sendiri."
"Mmm ...." Nick mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau buat lagu dan musik saya sendiri, bisa?"
"Bisa banget. Kamu bahkan bi-"
"Oke, Kak! Saya mau," sahut Nick dengan segera. Kini ia tersenyum dengan lebarnya dan wajahnya terlihat sangat sumringah. Menulis lagu dan membuat musiknya sendiri lalu menyebarluaskannya adalah impian terbesarnya selama ini. Ia sangat ingin karyanya didengarkan oleh banyak orang.
Roy tersenyum puas dan penuh syukur. Ia dapat menatap masa depan perusahaannya yang tampaknya akan makin bersinar dengan kehadiran Nick. Dan memang ... ia tidak salah.
Kini mereka berdua menjelma menjadi dua orang berpengaruh dalam industri hiburan setelah tahun demi tahun mereka lalui bersama dengan penuh perjuangan. Baik Roy maupun Nick sama-sama bersyukur karena bisa saling melengkapi satu sama lain.
Roy menutup teleponnya dan melihat ke arah Nick. "Gimana kesehatan kamu? Nggak kecapean 'kan habis konser kemarin?" tanya Roy dengan nada yang terdengar lebih seperti seorang kakak daripada seorang pimpinan.
"Nggak, Kak. Udah istirahat cukup semalam," jawab Nick dengan wajahnya yang masih terlihat segar meski ia baru tidur dini hari.
"Baguslah kalau gitu. Nanti malam 'kan ada pesta perayaan konser kamu. Kamu harus kelihatan segar lho. Istirahat lagi sebentar kalau bisa."
"Kakak yang selalu bikin jadwalku padat. Bisa istirahat sedikit aja udah syukur," canda Nick. Roy memang selalu memberikan jadwal super padat pada artis kebanggannya yang memberikan pundi rupiah terbesar di perusahannya itu.
"Nick, kita nggak bisa biarkan kesempatan dan rejeki itu hilang begitu saja. Semua harus kita ambil selagi bisa," jawab Roy. Saat membicarakan tentang pekerjaan, matanya yang ambisius selalu saja berbinar dan nada suaranya terdengar bersemangat.
"Oke, oke, Pak CEO," jawab Nick dengan wajah yang sengaja dibuat masam.
"Ya udah, istirahat sana. Terus siap-siap buat perayaan nanti malam."
"Oke," jawab Nick dengan santainya. Ia bangkit berdiri dari kursinya. "Aku pamit dulu," katanya dengan sopan, seperti biasanya.
Ia berjalan meninggalkan Roy, namun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalik badannya. "Nanti Kak Roy datang ke acara sama siapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Sama Amanda. Kenapa memangnya? Kamu mau berangkat bareng kita?"
"Nggak. Cuma tanya aja," jawab Nick sambil tersenyum simpul, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Roy.
***
"Nick, selamat ya atas suksesnya konser kamu," ujar seorang wanita bergaun pendek berwarna silver yang tampak cukup mencolok. Tak lupa ia menempelkan pipinya pada pipi Nick sambil memberinya ucapan selamat.
"Makasih ya, Kak Gita," jawab Nick pada penyanyi yang lebih senior darinya itu.
"Nick. Hey, Bro! Selamat, ya!" Gerry Baron, vokalis band The Fighters, datang menghampiri Nick bersama dengan anggota band-nya yang lain. Mereka semua memberi ucapan selamat pada Nick, rekan artis yang berada di bawah satu label yang sama dengan mereka.
"Makasih, Bang," sahut Nick pada mereka semua.
"Berkat Nick nih, label kita makin gede," puji Gerry sambil menepuk-nepuk punggung Nick seperti seorang kakak yang merasa bangga pada adiknya. Kepribadian Nick yang sangat baik dan supel membuat siapapun merasa mudah dekat dan nyaman dengannya.
"Ah, nggak juga, Bang. Kak Roy yang hebat cari artis-artis berbakat, salah satunya ya The Fighters." Nick malah balik memuji, menunjukkan kerendahan hatinya.
Malam itu banyak pujian dan ungkapan kekaguman yang Nick dapat dari para tamu undangan. Tampak puluhan artis dan orang-orang penting di industri hiburan datang pada pesta perayaan yang bertempat di salah satu restoran hotel mewah berbintang 5 yang terletak di lantai 20 tersebut. Roy selalu mengundang para orang yang berperan penting bagi perusahaannya saat mengadakan acara-acara seperti itu.
Perayaan malam itu berlangsung dengan mewah, khas selera Roy, dengan para tamu undangan mengenakan pakaian formal nan rapi. Tak perlu menambah dekorasi pada restoran itu karena konsepnya yang sudah terlihat mewah dan elegan.
Nick tak henti-hentinya menyapa dan mengajak berbincang hampir semua orang yang ia kenal di pesta itu. Roy pun terlihat sama. Bedanya, Roy selalu terlihat berbincang lama dan serius dengan orang-orang yang ia temui. Lebih sering mereka membicarakan tentang bisnis daripada sekedar perbincangan santai.
Nick melihat ke arah Roy yang tampak sangat hanyut dalam pembicaraan bisnisnya dengan salah satu pemilik majalah dan seorang desainer pakaian. Ia hanya bisa tersenyum simpul memaklumi orang terdekatnya itu menikmati waktunya.
Ia pun membalikkan badan, hendak menemui tamunya yang lain. Di saat yang bersamaan, muncullah seorang wanita muda mengenakan gaun pendek berwarna hitam polos di hadapannya.
"Nick. Selamat, ya!" ujar wanita muda berambut hitam, lurus dan panjang itu tanpa perlu menempelkan pipi pada Nick ataupun menjabat tangannya. Hanya tampak senyum simpul di wajahnya.
Wanita itu bukannya tidak seramah wanita lain yang Nick temui. Nick sangat tahu wanita yang penuh percaya diri dan memiliki kesan kuat itu adalah seorang wanita baik dan tulus yang bertingkah laku apa adanya. Tak ada sedikit kepalsuan sama sekali seperti kebanyakan orang yang ia temui di dunianya.
Nick tak terkejut dengan kehadiran wanita itu di pestanya, tapi ia terkesima dengan kecantikan wanita berias tipis dengan gaun pendeknya yang elegan itu. Senyum dari bibir ranumnya yang berwarna merah jambu dan rambut hitam lurus sepunggung yang ia biarkan terjuntai begitu saja membuat Nick semakin terpesona.
Ya, wanita itulah yang telah berhasil membuat seorang Nicholas Adrian jatuh hati. Amanda Clara Zee, seorang produser musik di label rekaman tempatnya bernaung yang sekaligus merupakan tunangan Roy, orang yang sudah Nick anggap sebagai kakaknya sendiri.