Seminggu sudah setelah putri mereka dirawat diRumah sakit. Akhirnya dokter mengijinkan putrinya untuk dibawa pulang.
Tetap saja putri mereka Kelly tidak bisa sembuh dari penyebab kebisuan yang cukup janggal.
Begitupun dengan mertua Willy semakin benci kepadanya. Mengingat Kelly adalah cucu satu-satunya dari putri satu-satunya. Karena Willy didiagnosa mengalami mengalami penurunan kesuburannya.
Hari ini adalah perpisahan Willy dari sekolah lamanya tempat dia mengajar selama enam tahun telah mengabdi.
Sarah sedang mempersiapkan suaminya Willy untuk berangkat kesekolah.
"Mas, hari ini perpisahan kamu dari sekolah ya?"
"Iya mah, hari ini terakhir kalinya mengajar disana. Huhhh, jadi sedih juga mau ninggalin mereka."
"Ya kan nggak apa-apa dong mas, lagian juga masih bisa kita sesekali kesini."
"Iya mah. Semoga aja disekolah baru bisa mudah berbaur."
"Iya mas, pasti mudah kok disana."
Sarah melihat kalau suaminya sudah berpakaian dengan rapi dan berwibawa.
"Gimana mah? Ganteng nggak?"
"Ganteng sekali suamiku. Sudah sana berangkat nanti terlambat."
"Iya istriku sayang. Terimakasih sudah membantu aku untuk berangkat hari ini."
"Iya, iya suami penggombal." Sarah tertawa dan tersenyum kecil.
"Ya sudah kalau begitu mas berangkat dulu ya."
"Iya mas hati-hati."
"Ibu mana mah?"
"Ibu lagi di dapur mungkin."
"Kelly?"
"Kelly masih tidur tadi."
"Ya sudah kalau gitu mas berangkat ya, bilang sama ibu aku berangkat."
"Iya mas hati-hati."
Sarah mengantar suaminya sampai kedepan rumah, membawakan tas suaminya.
"Da... berangkat ya ma.." Willy melambaikan tangannya kepada istrinya.
"Iya hati-hati mas."
Sampai mobil suaminya tidak terlihat lagi dari pandangan Sarah, dia masuk kembali ke dalam rumah.
"Suami udah berangkat?" tanya ibunya dengan sinis.
"Iya mam, mas Willy baru aja berangkat."
"Ibu mau bicara sama kamu."
"Tentang apa mam?"
"Sini duduk dulu."
Sarah dan ibunya duduk di kursi ruang keluarga.
"Ada apa sih sebenarnya mam? Tumben ngajak Sarah bicara seserius ini."
Tiba-tiba ibunya mendadak marah. "Kamu itu ya, kalau dibilangin jangan ngeyel."
"Loh mama, marah begini sih. Yang tenang dong mam ngomongnya. Udah tua loh."
"Ibu nggak perlu ngomong lembut-lembut lagi sama kamu."
"Emangnya kenapa sih mam? Ada apa? Mama masih menyalahkan aku karena menikah sama mas Willy?"
"Nah itu kamu tau."
"Tapi mam, kan mama udah tau pernikahan kami nggak salah. Almarhum ayah juga setuju, dulu juga mama setuju kok aku nikah sama mas Willy. Kenapa setelah ayah meninggal mama jadi nyalahin mas Willy?"
"Asal kamu tau ya. Mama sebenarnya nggak setuju kalau kamu menikah dengan suami kamu itu."
"Uda deh ma, mas Willy orang yang baik kok. Dia suami yang baik. Dia nggak pernah selingkuh dari aku. Dia setia kok sama aku, sama Kelly juga dia perhatian."
"Perhatian kamu bilang? Buktinya putri kamu bisa begini karena siapa?"
"Mam, Uda deh jangan bahas soal itu lagi. Masa lalu udah biarin aja lewat. Lagian juga ini..."
Ibu Sarah memotong pembicaraannya. "Mama tau ini rumah tangga kamu. Tapi apa mama kamu ini tega lihat kamu menderita begini?"
"Sarah nggak menderita kok mam, mas Willy bisa kok bahagiain aku sama Kelly mama juga."
"Mama nggak pernah bahagia dibuat suami kamu."
Ditengah perdebatan antara Sarah dan ibunya, Kelly datang mendekati mereka.
Kelly datang dengan wajah lesunya dan sedih, mungkin Kelly mendengar apa yang diperdebatkan oleh ibu dan neneknya.
"Hey sayang, kamu sudah bangun ya?"
Kelly hanya bisa mengangguk.
Sementara neneknya pergi begitu saja. Tanpa berkata apapun.
Kelly dengan tatapan sedih menatap ibunya. Seolah ingin bertanya ada apa dengan neneknya.
"Sayang, kamu mau makan nggak?"
Kelly menggelengkan kepalanya, menandakan tidak.
"Loh, gitu sayang. Kan biar Kelly cepat sembuh. Sebentar lagi kita kan pindah rumah. Biar nanti Kelly bisa main disana."
Kelly terdiam lagi, hanya menatap wajah sedih yang terpasang di wajah ibundanya itu.
"Kelly makan ya sayang. Yuk..."
Kelly menggeleng tidak lagi.
"Nanti Kelly sakit loh, ayah sama ibu nanti jadi sedih. Apa Kelly nggak sayang sama ayah, ibu sama nenek?"
Kelly mengangguk iya.
"Nah, kalau Kelly sayang sama ayah, ibu dan nenek. Kelly makan ya."
Kelly menggeleng tidak lagi.
"Sedikit aja ya sayang. Ya," Sarah berusaha membujuk putri kecilnya itu untuk makan.
Karena Kelly melihat ibunya yang meneteskan air mata, Kelly akhirnya luluh hatinya dan mau makan.
Kelly mengusap pipi ibundanya yang ditetesi air matanya.
"Ibu tidak apa-apa sayang. Kelly makan yuk."
Kelly mengangguk iya.
"Nah gitu dong anak ibu yang cantik."
Kelly menyentuh pipi ibunya dan membuat bibi ibundanya tersenyum dengan bantuan jari Kelly.
"Oh sayang... ibu nggak sedih kok. Kelly mana senyumnya? Masa Kelly nggak senyum."
Kelly akhirnya tersenyum juga.
Sebuah kecupan manis mendarat di kening Kelly.
"Yuk ibu siapin makannya."
Sarah menuntun putrinya ke meja makan. Sarah menghidangkan makanan untuk putrinya.
"Ini sayang makan yang banyak ya. Biar cepat sembuh."
Kelly memakan hidangan itu.
"Loh, kok lemas gitu makannya sayang?"
Tanpa ada kata-kata atau aba-aba Kelly menyendok sesuap nasi untuk ibunya. Yang sejak dari tadi hanya melihat putrinya makan.
Kelly kemudian tersenyum.
"Ibu masih kenyang sayang. Kamu aja dulu yang makan ya." Sarah mengusap kepala putrinya dengan halus penuh kasih sayang.
***
Seusai Kelly makan dan semua pekerjaan rumah beres, Sarah sudah bersiap-siap untuk pergi kekantornya.
"Mam, aku berangkat dulu ya. Titip Kelly sebentar. Aku nggak akan lama kok mam."
"Memangnya kamu mau kemana? Masa saya yang jaga anak kamu. Bawa aja Kelly sama kamu."
"Nggak bisa mam. Takutnya Kelly kenapa-kenapa disana. Lagian Sarah mau ngurus surat pengunduran diri. Takutnya Kelly nggak dapat perhatian penuh dari aku."
"Ya sudah sana pergi. Tapi ingat jangan lama-lama. Mama mau pergi."
"Iya mam. Sarah usahakan cepat pulang."
"Hemm," jawab ibunya.
"Sarah pamit ya mam." Sarah mencium tangan ibunya untuk pamit.
"Iya."
Entah kenapa suasana hati ibunya berbeda seperti itu.
"Kelly sayang. Ibu pamit kerja dulu ya. Kelly disini dulu sama nenek. Kelly main sama nenek ya."
Kelly mengangguk iya.
"Kalau begitu Kelly janji jangan nakal ya? Janji?" Sarah memberikan jari kelingkingnya, dan Kelly menyambutnya.
"Ibu pamit ya sayang. Ibu nggak akan lama kok."
Kelly mengangguk iya.
"Da sayang."
Kelly melambaikan tangannya kepada ibundanya dengan senyuman manis.
Sarah pergi berangkat menggunakan mobil peninggalan ayahnya.
Keputusan yang cukup berat untuk Sarah harus memutuskan untuk berhenti bekerja.
Sarah pergi kekantornya untuk mengurus surat pengunduran dirinya secara baik-baik. Dia tidak ingin dia keluar tanpa pemberitahuan apa-apa.
***
Sesampainya di kantor tempat Sarah bekerja. Yang berjarak sekitar setengah jam dari rumahnya. Sarah masuk kedalam kantor menemui bosnya.
Kebetulan kantor sedang tidak terlalu sibuk.
Sebelumnya dua sudah mengatur janji ketemuan dengan bosnya.
"Mbak Fika, bos Abram sudah datang belum ya?" tanya Sarah kepada salah seorang teman kerjanya.
"Kayaknya sudah datang deh mbak. Kalonggak salah tadi aku lihat bos Abram pakai jas agak coklat gitu."
"Oh gitu ya, makasih ya mbak Fika. Kalau begitu saya mau jumpai beliau dulu."
"Iya mbak, memangnya ad perlu apa ya?"
"Tidak... cuman ada berkas aja yang mau ditanda tangani."
"Iya mbak, kalau begitu saya lanjutin kerjaan saya lagi."
"Iya mbak. Makasih ya."
"Iya sama-sama mbak."
Untungnya bos kantornya sudah datang. Dia mengetuk pintu ruangan bosnya.
Tuk... tuk...
"Silahkan masuk," suara dari dalam ruangan menyuruh dia untuk masuk. Yang artinya bosnya yang bernama Abram sudah datang.
"Selamat siang pak." Sarah berjabat tangan dengan bosnya.
"Selamat siang bu."
"Jadi begini pak..."
"Sudah saya sudah tau," jawab Abram menghentikan pembicaraan Sarah. "Kenapa kamu harus berhenti dari kantor ini?"
"Saya sudah membuat keputusan untuk berhenti pak."
"Sangat disayangkan kamu harus keluar dari kantor ini."
"Saya minta maaf pak, soalnya kebetulan juga anak saya sakit jadi saya lebih baik berhenti saja."
"Kalau begitu saya tidak bisa menahan keinginan kamu untuk berhenti dari kantor ini. Kalau begitu berkas kamu saya sudah tanda tangani semua. Semoga anak kamu cepat sembuh."
"Iya pak terimakasih. Saya mohon undur diri ya pak. Saya minta maaf kalau saya selama ini ada salah selama bekerja dibawah pimpinan bapak."
"Tidak sama sekali. Kamu tidak ada kesalahan sama saya. Justru saya senang melihat kinerja kamu selama di kantor ini."
"Kalau begitu saya permisi ya pak, saya mau langsung pulang. Anak saya masih sakit."
"Iya baiklah silahkan."
Sarah berdiri dari kursinya dan akan meninggalkan ruangan bosnya.
"Tunggu sebentar."
"Iya ada apa pak?"
"Kalau kamu masih butuh pekerjaan hubungi saya lagi."
"Iya pak, terimakasih. Saya permisi ya pak." Sarah menyalam bosnya untuk yang terakhir kalinya di kantor tempat dia bekerja.
"Iya, semoga anak kamu cepat sembuh."
"Iya pak, Terim."
Sarah pun kemudian pergi meninggalkan ruangan bosnya.
Rekan-rekan kerjanya yang melihat Sarah keluar dari kantor bosnya dengan membawa berkas-berkas, menanyakan apa yang ditugaskan kepadanya.
Akan tetapi Sarah hanya menjawab, "Bukan apa-apa, cuman kerjaan kecil kok."
Dan dia tanpa pikir panjang dan berlama-lama dia pulang dengan segera.