"Mas... aku masuk ya." Sarah meminta izin untuk masuk ke ruangan suaminya dari balik pintu yang tertutup.
"Iya ma, masuk aja."
"Mas aku ada kabar bagus nih."
"Benarkah?" tanya Willy yang menarik perhatiannya.
"Iya mas, tadi aku telponan sama Lily. Dia bilang kalau dia ada nemu guru private untuk Kelly sekaligus dia bisa jadi pembantu di rumah ini mas." Ujar Sarah memberitahu kabar gembira itu.
"Wah bagus dong ma. Terus apa dia mau datang ke desa?"
Sarah menjelaskan mengenai guru private sekaligus pembantu untuk anak mereka. "Lily pernah nanya sama dia, kebetulan katanya dia itu orang yang pekerja keras. Terus dia udah punya pengalaman juga mas, kebetulan karena di tempat dia bekerja waktu itu, tuan rumahnya harus pindah keluar negri. Jadi menurut mas bagaimana? Cocok kan?" tanya Sarah kembali kepada suaminya meminta pendapatnya.
"Menurut mas dari pengalamannya sih bagus. Tapi, ada baiknya dia tidak muda lagi ma," ujar Willy.
"Kalau soal itu, dia memang masih bisa dibilang muda mas. Kalau nggak salah Lily bilang umurnya tiga puluh tahun. Em, iya mas, Lily bilang tiga puluh tahun. Mau ya mas?" Terang Sarah yang kemudian membujuk suaminya untuk setuju. "Setuju ya mas. Biar Kelly segera punya guru baru. Ya mas."
"Ya sudah kalau begitu mas setuju. Tapi, jangan sampai umurnya lebih muda dari aku ya ma." Willy menyetujui dengan syarat.
"Memangnya kenapa mas kalau dia lebih muda?" tanya Sarah kembali.
"Ma..." Willy menatap istrinya. "Mama tau kalau suamimu ini seorang laki-laki. Adakalanya aku bisa khilaf ma. Coba bayangkan gimana kalau dia sampai..." Willy mengehentikan kalimatnya.
"Mas..." Sarah mendekat kepada suaminya dan menggenggam tangannya.
"Oke ma, kali ini aku setuju. Tapi, mas minta jangan salahkan aku jika berbuat salah dan itu akan membuat masalah dalam rumah tangga kita ini."
"Kalau begitu aku akan pastikan dulu. Kalau dia sudah tua, kita akan mempekerjakan dia. Tapi kalau dia masih muda, kita akan mencari yang lain saja," ucap Sarah meyakinkan suaminya.
"Iya ma..." jawab Willy.
"Kalau begitu aku akan menelpon dia. Aku akan tanya statusnya dia juga. Mas jangan khawatir ya."
"Iya ma. Mas berharap ini tidak akan menjadi masalah untuk rumah tangga kita ini."
"Iya mas, yang penting selama kita yakin dan setia, pasti iman kita akan kuat untuk menghadapi semuanya ini."
"Terimakasih ma." Willy mencium istrinya.
Sarah kemudian mencoba menghubungi nomor telepon yang diberikan Lily kepadanya.
"Diangkat ma?"
"Belum mas, masih lagi dicoba."
Sarah mencoba sampai dua kali menelpon nomor yang diberikan Lily padanya. Nomor yang ditelpon tidak mengangkat, padahal nomornya aktif.
Willy menyuruh Sarah untuk mencoba lagi menghubungi nomor itu. "Coba lagi aja ma."
"Nggak diangkat mas padahal aktif loh nomornya."
"Udah jam berapa ma?"
"Jam sepuluh," kata Sarah.
"Udah tidur mungkin ma. Kalau gitu besok saja lagi ditelpon. Mana tau dia nggak dengar atau bagaimana," ucap Willy.
"Iya mungkin ya mas, ya sudah besok mama pastiin deh. Semoga aja sesuai dengan apa yang kita harapkan ya mas."
"Iya ma. Semoga aja, sudah lama kita mencari seseorang yang bisa menjadi pengasuh dia."
"Iya mas. Mama juga mikirnya begitu. Kita berdua tidak punya waktu banyak untuk mengajak dia main. Kalau sama neneknya, kendalanya ada sama ibu karena, sudah tua."
"Doakan saja ma. Mudah-mudahan yang ini bisa sesuai dengan permintaan kita."
"Iya mas. Eh, tapi ngomong-ngomong, waktu itu mas sempat nawarin temen gurunya kamu mas. Nggak jadi?" tanya Sarah mengenai Vera yang sempat dibahas oleh Willy sebelumnya untuk menjadi guru private Kelly.
"Enggak ma, mas liat dia kayaknya orang nggak baik-baik. Mas ragu kalau dia jadi guru private Kelly. Lagian juga dia masih muda sekali. Mas jadi berubah pikiran mah," ucap Willy memberikan alasannya.
"Untunglah mas, gimana kalau mas sempat setuju sama dia. Bisa panjang juga urusannya," ucap Sarah yang merasa beruntung suaminya tidak jadi membawa apalagi mempekerjakan Vera.
Padahal yang sebenarnya terjadi tidak semuanya benar seperti itu pandangan Willy terhadap Vera. Sebenarnya Willy takut kalau Vera akan mengakibatkan dia menjadi suami yang gagal.
Setelah apa yang dilakukan Vera padanya tentu api amarahnya tidak mudah padam begitu saja. Terutama karena ini menyangkut harga dirinya sebagai seorang lelaki.
"Kita tidur aja yuk ma. Mas udah selesai." Willy sudah selesai menyiapkan materinya untuk besok.
"Iya mas, mama juga udah ngantuk. Besok harus bangun pagi."
"Ayo." Willy dan Sarah tidur dengan nyenyak diatas ranjang mereka. Menikmati malam dengan penuh kata-kata romantis sebelum mereka berdua memejamkan mata untuk tertidur.
***
Keesokan hari, seperti biasanya. Saat Willy bangun pasti dia tidak mendapati istrinya disana. Karena, Sarah selalu bangun lebih awal. Untuk menyiapkan sarapan pagi dan juga mempersiapkan suaminya untuk pergi bekerja.
Terutama bagi Willy yang merupakan seorang guru, Sarah tidak ingin melihat suaminya terlihat jelek sedikitpun. Apalagi masalah baju atau pakaian, kebersihan dan juga kesehatan suaminya sangat dia jaga.
Karena dia juga tau kalau suaminya tidak subur dalam artian memiliki kelainan pada kualitas spermanya. Yang mengakibatkan mereka tidak bisa memiliki anak lagi.
Terutama dokter mengatakan suaminya bisa saja sembuh jika pola makan dan kesehatan suaminya baik. Otomatis memiliki pengaruh terhadap kualitas kesuburan suaminya. Yang tentunya memberikan harapan bagi mereka berdua untuk bisa memiliki anak lagi.
"Sudah bangun mas. Ini minum dulu." Sarah memberikan segelas air putih hangat.
"Sudah ma. Terimakasih mama sayang."
Tiba-tiba Sarah memiliki ide di dalam pikirannya.
"Mas, mama ada niat mau buka usaha deh."
"Kenapa mama bilang begitu?" tanya Willy.
"Mama cuman kepikiran aja mas. Sudah mau dua bulan kita disini, ya mama cuman kerja di rumah aja."
"Jadi...?" tanya Willy lagi.
"Jadi, mama mau berencana buka warung nasi di depan rumah. Mas ngizinin nggak mas? Ya kalau nggak boleh sih nggak papa." Ujar Sarah memberikan alasannya ingin membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya.
"Bukannya mas nggak setuju sih ma. Cuman gimana ya mas mau bilangnya. Mas tau gaji guru nggak banyak. Tapi keadaan kita kan sudah cukup," kata Willy. "Cuman kalau mama memang mau buka usaha di depan rumah mas izinin."
"Bener mas? Berarti boleh ya?" tanya Sarah meyakinkan suaminya yang mengizinkan dia membuka warung makan di depan rumah mereka.
"Iya boleh... tapi, jangan lupa bagi waktunya. Jangan sampai waktu untuk kami terbagi hanya karena pekerjaan mama," tegas Willy. "Memangnya mama mau buat masakan apa?" lanjutnya.
"Masakan untuk sarapan pagi gitu mas, terus... macam-macam deh pokoknya," jawab Sarah yang menjelaskan niatnya untuk memasak apa.
"Ya sudah bilang aja kapan mama mau buka, biar nanti pak Tungkot yang bantu-bantu bikin perlengkapan untuk tempat mama jualan."
"Iya mas. Terimakasih ya suamiku."
"Iya mama sayang. Tapi, udah bilang sama ibu kan kalau mama mau buka warung?" tanya Willy.
"Sama ibu sih belum mas, tapi nanti kalau ibu bangun akan mama bicarakan sama ibu," jawabnya.
"Iya ma, sebaiknya mama beritahu ibu. Jangan sampai ibu tidak setuju." perintah Willy kepada Sarah.
"Iya mas. Semoga ibu setuju... biar bisa ngeringanin tanggungan mas."
"Iya ma. Amin."
"Amin."
Seperti biasanya setelah Willy minum air hangat dan menunggu beberapa saat. Dia akan segera mandi, kemudian berganti baju, terakhir dia akan sarapan pagi. Ya meskipun dia sarapan lebih awal dari mereka semua.
"Mas bawa mobilnya hati-hati ya," kata Sarah sambil mengantarkan suaminya kedepan pintu untuk berangkat kerja.
"Iya ma, pasti hati-hati. Nanti mas, pulang sedikit lebih lama mungkin, soalnya kepala sekolah bakalan ngadain rapat."
"Iya mas, nggak apa-apa. Yang penting nanti disekolah kalau lapar, beli dari kantin aja. Jangan ditahan lapar ya mas."
"Iya ma. Mas berangkat dulu ya."
"Iya mas, hati-hati."
"Da..." Willy pun berangkat untuk kerja.