"Kelly kemasin barang-barang Kelly ya."
"Kita mau kemana ayah?" tanya Kelly ditulisannya.
"Kita kan mau pindah. Kelly kemasin semua barang kesayangan Kelly ya. Biar nanti disana bisa main bareng-bareng sama teman barunya. Ok."
Kelly mengangguk iya.
"Kalau begitu ayo dikemasin barang-barangnya." Willy mengambil kotak karton. "Kelly masukin ke sini ya sayang. Nanti kalau sudah siap. Panggil ayah ya. Ayah mau beresin barang-barang yang lain. Ok."
Kelly tersenyum dan mengangguk iya.
"Anak baik," puji Willy. Kemudian dia membiarkan putrinya mengemas barang-barang mainannya yang ingin dia bawa.
***
Disaat Willy sedang merapikan barang-barang yang akan mereka bawa, dia memasang musik dan memutar beberapa lagu.
Ditengah-tengah dia sedang asik merapikan barang-barang, sambil berjoget sedikit mengikuti irama musik sambil bernyanyi sedikit-sedikit.
Sarah memperhatikan suaminya yang tengah asik itu. Sarah sengaja memperhatikan suaminya yang tidak sadar kalau dia sedang diperhatikan.
"Ahem... ahem..." Sarah pura-pura batuk.
Seketika Willy menghentikan gerakannya dan mematikan musiknya.
"Mama?"
Sarah hanya tersenyum dan berpangku tangan.
"Mama sudah lama disana?" tanya Willy dengan tersenyum malu juga.
"Lanjut saja suamiku..." Sarah menyuruh suaminya melanjutkan aksinya.
Willy kemudian memutar musik lagi, dan mengajak Sarah untuk bergabung.
"Mas..."
Sarah tersipu malu, ketika Willy menarik tangannya dan mengajak Sarah menari.
Tapi irama musik yang asik tidak bisa dihindari, gerakan tangan, kaki, dan pinggul mulai bergerak sesuai irama.
"Nikmati hari terakhir disini mama sayang."
Sarah malah tertawa kecil. Melihat aksi suaminya yang berjoget patah-patah.
Ditengah keasikan mereka menikmati irama musik, Kelly datang.
Willy dan Sarah seketika diam. Namun, Kelly secara langsung bergabung dengan mereka. Kelly berjoget-joget kegirangan mengikuti irama musik itu, ternyata Kelly menyukai musik yang diputar Willy.
Tawa bahagia keluar dari Willy dan Sarah.
Tapi mereka melupakan seseorang dirumah itu. Siapa lagi kalau bukan mertua Willy.
Mungkin karena suara tawa dari Willy dan putrinya terdengar sampai ke telinga Samantha ibu mertuanya.
"Bukannya beres-beres malah joget-joget nggak jelas. Hentikan musik itu!" teriak Samantha.
Seketika mereka bertiga terdiam. Dan Willy mengentikan musiknya. Dan Kelly bersembunyi dibalik ayahnya. Sarah juga menunduk malu karena, ketahuan ibunya sedang berjoget asik.
"Kenapa diam? Dasar nggak tau malu."
"Udah mas, lanjut aja. Biar aku yang tangani ibu." Ucap Sarah pada suaminya pelan.
"Iya mah," jawab Willy.
"Mam, yuk kita kebelakang sebentar." Sarah mencoba mengajak ibunya menjauh dari suaminya.
"Nggak mau, mama nggak akan pergi sebelum suami kamu itu selesai dengan barang-barang itu."
"Mam, nggak boleh begitu dong. Masa mas Willy kerja diawasi begitu. Gimana kalau dilihat orang?"
"Nggak ada orang yang akan datang kesini," jawab Samantha dengan nada marah.
"Mam, jangan marah dong. Mas Willy cuman mau menghibur aja."
"Menghibur apa dengan tawa mengganggu seperti itu?"
"Aduh mam, udah ayok. Sarah mau bilang sesuatu sama mama."
"Nggak mama mau liat suami kamu ini kerja sampai selesai."
"Mam..."
"Sudah nggak apa-apa. Biarin aja ibu disini. Mama lanjut aja kerjaan dibelakang," usul Willy.
Sarah mengambil nafas dan pergi kebelakang sementara ibunya duduk memperhatikan menantunya itu bekerja. Sementara Kelly seolah dia merasa ketakutan. Dia selalu nempel kepada ayahnya.
"Kelly sayang, jangan takut begitu sama nenek."
Kelly menggeleng tidak.
"Loh kok gitu, ya sudah ayah antar Kelly sama ibu ya?"
Kelly mengangguk iya.
Willy menggendong Kelly.
"Hiyat... up..."
"Mau keman kamu!" bentak Samantha mengehentikan langkahnya.
"Mau ngantar Kelly bu, sama mamanya."
"Memangnya dia nggak punya kaki? Suruh jalan sendiri, jalan sama ibunya. Turunin nggak usah digendong."
"Kelly turun ya sayang."
Kelly mengangguk iya.
"Kelly sama mama ya, ayah mau lanjut kerja."
Kelly mengangguk iya lagi.
"Punya anak pas waktu sakit aja baru kamu manja. Giliran waktu masih sehat-sehatnya kamu biarin. Ayah macam apa kamu?"
"Bu, jangan begitu dong. Nggak enak di dengar sama Kelly." Willy mendekat kepada ibu mertuanya. "Willy udah minta maaf sama ibu. Tolong ibu jangan begini, walaupun ibu belum bisa maafin Willy."
"Huh..." Samantha memalingkan pandangannya dari Willy.
Willy tidak bisa apa-apa. Dia dengan segera melanjutkan beres-beresnya.
Ibu mertuanya tetap mengawasi dia saat bekerja. Sesekali Willy mencoba melihat ke arah ibu mertuanya, akan tetapi ibu mertuanya memalingkan matanya dengan kasar. Seakan-akan tidak ingin bertemu mata dengan menantunya.
"Will... Will... Willy!"
Panggil seseorang dari balik pintu rumah, sambil mengetuk pintunya.
"Iya tunggu sebentar," sahut Willy.
Dia membukakan pintu. Dan ternyata teman dekat Willy.
"Hei Sam. Apa kabar."
"Sehat. Gimana kamu."
"Baru pulang dari luar kota ya?"
"Iya Will. Kamu gimana sehat?"
"Sehat. Kamu sendiri Sam?
"Kesini sendiri tapi nanti mamanya anak-anak datang juga kesini nyusul."
"Oh, begitu. Ayo masuk."
Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah.
"Iya Will."
"Maafya keadaan rumah lagi berantakan begini. Lagi beres-beres, besok siang sudah pindahan."
"Kenapa pindah sih Will? Bukannya disini enak?"
"Bukan begitu Sam. Namanya juga tugas, ya mau gimana lagi. Lagian disana bisa cari suasana baru."
"Memangnya nggak bisa ditempat lain Dikota ini Will."
"Sama aja Sam. Mungkin udah saatnya pindah kesana lagi."
"Iya deh Will, ini juga demi kalian juga."
"Iya Sam. Sam itu ibu."
Willy menyuruh Sam untuk menyalam ibu mertuanya.
"Sehat bu?"
"Sehat nak," jawab Samantha. "Diamana istri kamu?"
"Sebentar lagi nyusul bu."
"Naik apa?"
"Tadi naik mobil bu."
"Terus istri kamu siapa yang bawa?"
"Nanti sama supir kayaknya bu, soalnya mamanya anak-anak sudah bisa bawa sendiri."
"Enak ya, disupirin. Lain sama yang ibu tau ini."
"Ah, ibu bisa saja."
"Ya sudah kalian duduk saja, biar ibu panggilin anak ibu."
"Iya bu."
Samantha pergi memanggil Sarah, mungkin untuk menyuruh menghidangkan minuman atau apa.
"Will kenapa ibu kok begitu ya?"
"Begitu bagaimana?"
"Kenapa dia kayaknya nyinggung kamu."
"Perasaan kamu aja kali Sam. Ibu baik-baik aja kok."
"Iya deh Will. Oh iya Will Kelly mana?"
"Kelly ada sama mamanya."
"Gimana dia sudah sehat?"
"Sudah Sam. Tapi bagaimana lagi dia nggak belum bisa bicara."
"Yang sabar ya Will. Pasti Kelly bisa sembuh."
"Amin Sam. Doakan aja biar sembuh."
Kemudian Sarah datang dan juga Kelly bersamanya.
"Hey, Sam..." Sapa Sarah. "Sehat Sam?"
"Hey, sehat..." Sarah menyalam tangannya.
"Gimana Lily nggak datang?"
"Datang, sebentar lagi nyusul."
"Oh..."
"Kelly sayang ini paman Sam." Willy memperkenalkan Sam.
"Iya sayang, salam paman Sam." Suruh Sarah.
"Sini Kelly..." bujuk Sam. "Kok malu-malu? Kan paman sering kesini. Masa lupa sama paman."
"Ayo sayang, salam pamannya."
"Oh ini ada permen paman bawa. Kelly mau?"
Kelly mengangguk iya.
"Sini."
Kelly memberanikan diri mendekat kepada Sam.
"Paman pangku ya." Sam memangku Kelly.
Kelly tersenyum dan menggerakkan jarinya.
"Apa maksudnya Will?"
"Kelly bilang terimakasih katanya."
"Oh, iya sayang sama-sama. Kelly belajar kayak begitu dari siapa?"
Kelly menggerakkan tangannya lagi.
"Maksudnya Will?"
"Aku diajarin sama ayah."
"Wah, dari ayah ya."
Kelly merasa bosan dipangku oleh Sam.
Dia membuka tangan Sam yang memeluk dia sambil memangku.
"Kelly mau kemana."
Kelly tersenyum dan turun dari pangkuannya.
"Kelly mau main ya?"
Kelly mengangguk iya. Dan pergi meninggalkan mereka.
"Mau kemana Kelly?" tanya Sarah.
"Paling mau ambil mainannya," jawab Willy.
"Hati-hati ya sayang."
Kemudian mereka melanjutkan perbincangan mereka lagi.