"Oh iya, kami punya hadiah untuk kalian berdua."
"Apaan Li? Nggak usah pake hadiah-hadiah segala juga kali. Memangnya kami nggak bakalan kesini lagi gitu," ujar Sarah.
"Bukan gitu loh sahabat aku. Ini bukan sesuatu yang besar tapi, nanti pasti bisa bermanfaat untuk kalian."
Karena Lily sahabatnya mengatakan seperti itu Sarah jadi penasaran. "Masa sih? Aku jadi penasaran memangnya apaan sih Li?"
Lily membuka tasnya, "Tuh kan, penasaran. Sebentar ya..."
Tapi, Lily tidak menemukan hadiah yang dia simpan ditasnya.
"Ada nggak?"
"Tunggu... tadi aku sudah masukin ke tas sih. Mana tau ketinggalan di mobil ya. Soalnya Vano keluarin sesuatu dari tasku."
"Tanya aja sama anak kamu. Mana tau Vano nggak ngambil. "
Karena, Lily dan Sarah menemani anak-anak mereka bermain, dan duduk dikursi sembari memperhatikan anak mereka bermain-main.
"Vano..." panggil Lily pada anaknya.
"Ima ma!"
"Vano ada keluarin kotak dari tas mama nggak nak?"
"Nggak ada ma."
"Yang bener Vano nggak ingat? Atau Ade ada lihat?"
"Nggak ada juga ma. Vani tadi nggak liat Abang ngeluarin sesuatu dari tas mama."
"Ya sudah kalau begitu lanjut lagi mainnya."
"Ya udah lihat aja dulu. Aku jadi penasaran apa yang mau kamu kasih."
"Ya udah bentar ya, aku ambilkan."
"Oke."
Lily pergi mengecek hadiah yang akan dia berikan mana tau memang tertinggal di dalam mobil. Sementara Sarah menemani dan mengawasi anak-anak mereka bermain.
Sekitar sepuluh menitan Lily belum juga datang membawakan hadiah yang dia maksudkan untuk Willy dan Sarah.
"Lama juga Lily ya, apa dia lupa bawa. Ahk ya sudah lah," ujar Sarah pada dirinya sendiri.
"Tante... Tante."
"Iya Vani. Ada apa sayang?"
"Vani mau minta minum."
"Vani haus ya... sebentar ya, Tante buatin."
"Oke Tante."
Sarah membuatkan minuman untuk Vani tapi, tidak hanya untuk Vani. Sarah membuatkan untuk semua anak-anak.
Beberapa menit akhirnya Sarah selesai membuatkan minuman sehat untuk ketiga anak-anak.
"Ini minumannya. Tante sudah buatin, untuk Vani, Vano, sama putri mama. Ayo diminum."
"Makasih Tante," jawab kedua anak kembar.
Sementara Kelly hanya tersenyum saja.
Kalau dipikir-pikir mungkin dihati Sarah merasakan sedih yang mendalam. Kenapa tidak. Karena putrinya tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya lagi.
Tapi Sarah tidak terlihat begitu. Mungkin dia menyembunyikan ekspresi itu dengan sangat baik.
"Yuk dilanjut mainnya. Nanti gelasnya kasih Tante ya."
"Ok, Tante."
"Wah, kalian dibuatin minuman sam Tante ya?"
"Iya ma."
"Awas jatuh gelasnya ya."
"Ok ma."
"Dapet Li?
"Dapet."
"Kirain kamu lupa naro dimana gitu, jadi lupa naro di tas atau apa."
"Nggak, aku ingat soalnya aku bawa tadi."
"Terus dapat darimana?"
"Mungkin si Vano tadi nggak sengaja jatuhin dibawah kursi. Sampe muter-muter juga nyariin."
"Jadi apa ini?"
"Buka aja. Kamu bakalan tau kok."
"Okey, mudah-mudahan bagus. Aku berharap sih, hahaha," jawab Sarah dengan tertawa diakhir. Dia membuka kotak yang berukuran sepuluh kali lima belas centimeter.
Sarah membuka kotaknya dan mendapati hadiah yang masih dibungkus dengan kantung hitam.
"Masih dibungkus pakek ini lagi?"
"Biar agak ada sedikit surprise dong Ra."
"Kamu tau aja buat kejutan begini."
Setelah dibuka lagi kantung hitam, ternyata isinya sepasang kalung.
"Hah, kalung. Cantik sekali," puji Sarah. Melihat bentuk kalung yang dia dapatkan memiliki bentuk seperti matahari bersinar dan bulan.
"Bagus nggak Ra?"
"Bagus kok Li. Makasih ya. Kamu keren milih kalungnya pasti mas Willy."
"Kamu tau nggak Ra."
"Tau apa Li?"
"Aku dan ayah anak-anak sengaja beliin kalung ini untuk kalian berdua."
"Kenapa bisa begitu Li. Jadi maksud kamu ini kalung keberuntungan?"
"Kurang lebih begitu Ra."
"Kamu masih percaya takhayul aja Li."
"Bukan masalah percaya nggak percaya Ra. Soalnya kemarin aku sama ayahnya anak-anak sempat diganggu waktu disana. Kebetulan ada kayak tetua desa gitu. Nah, dia ngasih kalung sama kami. Alhasil kami nggak diganggu lagi sama arwah penasaran itu."
"Maksud kamu kalian juga punya?"
"Iya Ra. Ini," Lily menunjukkan kalungnya yang mirip dengan kalung yang diberikannya kepada Sarah.
"Aku masih nggak percaya sih Li. Tapi nggak apa-apa deh, setidaknya hadiah kamu ini kami pake aja."
"Iya Ra, aku takut kamu kenapa-kenapa disana. Soalnya yang aku tau kalau di desa Moab masih kental adat istiadatnya. Takutnya kalian kena guna-guna atau apa gitu dari orang daerah situ."
"Ya ampun Li. Doa kamu tu ya. Nggak apa-apa kali Li. Dulukan aku dari sana juga waktu anak-anak."
"Itukan dulu Ra. Kalau sekarang beda. Bisa aja mereka nggak kenal kamu gimana malah kamu kenal sasaran mereka?"
"Hus... kamu Li, amit-amit lah yang begituan."
"Memangnya kamu belum pernah dengar cerita didesa itu ya?"
"Cerita apa emangnya? Semasa aku disana nggak ada apa-apa kok."
"Iya mungkin dulu kamu kan masih kecil. Sini biar aku kasih tau sama kamu."
"Oke."
"Katanya dulu, didesa Moab itu, ada arwah anak perempuan yang meninggal disana. Arwah itu menjadi sangat penasaran atas kematiannya. Ternyata dia mati ditinggalkan orangtuanya. Tepatnya ayahnya."
"Terus?" Sarah semakin memberikan perhatiannya untuk mendengarkan cerita Lily.
"Terus itu, yang aku ingat. Kalau arwah penasaran itu selalu menganggu keluarga yang broken gitu. Bukan hanya sampai disitu, katanya arwah penasaran itu mulai membringas, dia meneror setiap warga dan menyebabkan banyak orang yang jadi korbannya."
"Hahaha..." Tawa Sarah mendengar apa yang dikatakan Lily.
"Malah ketawa kamu Ra. Aku beneran loh."
"Beneran apanya. Kamu aja cerita katanya."
"Dengerin dulu dong Ra. Nanti menyesal gimana?"
"Oke... Oke, lanjutin deh."
"Nih kan nggak serius."
"Aku serius loh Li."
"Oke deh aku lanjutin nih ya."
Sarah mempersilahkan Lily dengan menggerakkan alis matanya.
"Katanya arwah penasaran itu memakan sekitar seratus dua puluh penghuni desa disitu. Sampai akhirnya dia menemukan ayahnya yang meninggalkan dia sendirian sampai meninggal. Dia membunuh secara membabi buta ayah nya itu."
"Apa?"
"Sampai akhirnya, para tetua menghentikan tindakan arwah penasaran itu. Para tetua mengurung arwah itu tidak satupun yang tau."
"Terus sekarang juga nggak ada yang tau Li?"
"Kisahnya belum selesai loh Ra."
"Oke... lanjut."
"Setelah arwah itu dikurung. Arwah itu tidak sengaja terlepas. Ternyata ada seseorang yang melepaskan dia. Ya jelas apa yang terjadi. Arwah itu mengulah lagi terutama dibawah pengaruh seorang dukun sakti katanya sih... Terus para tetua membuat beberapa mantra. Katanya kuat gitu... Alhasil berhasil dikurung lagi. Dan sampai sekarang arwah itu tidak pernah lagi kelihatan."
"Serem juga ya. Kepikir untung nggak ditahun lahir aku. Aturan bisa dimakan sama itu arwah."
"Hahah, nggak juga Ra. Katanya dia senang sama anak-anak gitu. Tapi, ya nggak tau lah. Aku juga kadang ngerasa kenapa arwah harus pilih-pilih mana yang mau dia ganggu. Memangnya dia punya hati."
"Iya juga ya Li. Udah deh, daripada ngomongin yang serem-serem mending cerita yang lain aja."
"Pake dulu dong kalungnya biar kita samaan"
"Iya, iya. Ini aku pake deh."
"Sekarang."
"Oke, oke." Sarah memakai kalung yang berbentuk bulan.
"Nah gitu dong. Kan kita jadi samaan. Pas lagi aku pake yang bentuk bulan."
"Kamu Li. Aneh-aneh aja deh. Oh iya besok kalau kami jadi berangkat. Misal kalau mobil kami nggak muat. Boleh minta bantuin nggak Li?"
"Boleh lah. Masa sahabat pindahan nggak dibantuin. Itu aja?"
"Kayaknya sih itu aja sih. Urusan belakangan biar mas Willy aja yang ngurus."
"Iya deh. Oh iya kamu jadi berhenti kerja?"
"Iya Li, mendingan aku jagain dirumah aja. Jaga mama sama Kelly. Biar mas Willy aja yang urus."
"Pasti keputusan yang berat ya Ra. Semoga aja kalian tetap bahagia disana. Kapan-kapan kalau suami kamu ada libur main-main kekota lah."
"Pastinya Li. Kalian juga main-main kesana kalau kalian nggak sibuk."
"Iya pasti kami usahain kok main kesana."
"Terimakasih ya Li. Udah jadi sahabat aku. Jangan bosan-bosan sama kami."
"Kamu ngomong apa sih. Masa sahabat udah lama ilang lenyap begitu aja? Nggaklah."