"Tapi Ayah, Sky nggak mau pindah. Sky udah punya banyak teman disekolah yang sekarang, masa pindah lagi sih". Protes seorang gadis pada Ayahnya dari balik telfon genggam.
Gadis itu terlihat gelisah. Sudah hampir sejam ia membujuk Ayahnya agar tidak dipindahkan lagi, namun tetap saja pria duda satu anak itu tidak luluh. ia tetap kekeuh memindahkan anaknya ke sekolah lain. Gadis itu terus mondar mandir. Telfon genggamnya ia apit di antara telinga dan bahu sedangkan kedua tangannya sibuk mencepol asal rambut panjangnya yang kini acak - acakan bak orang frustasi. Ya, memang sekarang dia frustasi.
Entah ini yang keberapa kali dia akan pindah sekolah. Alasannya tak lain adalah sikapnya yang urak - urakan disekolah. Ayahnya yang bingung harus bagaimana lagi untuk mengurus anaknya itu mau tak mau harus memindahkan anak semata wayangnya itu ke sekolah lain agar jauh dari teman - temannya yang nakal itu. Walaupun sebenarnya ada alasan lain sih ia memindahkan anaknya.
"Terserah kamu bilang apa, Ayah tetap akan memindahkan kamu Dan Ayah minta kamu harus mengubah sikap kamu yang urak - urakan itu".
"tapi Ay-".
tit..tit...
Panggilan tiba - tiba diputuskan sepihak oleh Ayahnya membuat gadis bernama lengkap Anatasya Alinsky Januarta itu geram dan membanting telfon genggamnya ke sembarang arah.
"s**l!".
-------
Dentuman suara musik keras disertai lampu kelap - kelip menjadi tempat tiga orang gadis merayakan perpisahan dengan salah satu anggotanya yang tak lain adalah Sky. Gadis itu menggunakan pakaian yang terbilang sangat terbuka. Dresnya yang hanya sampai di atas lutut itu memperlihatkan bahunya yang mulus, hingga mengundang banyak tatapan dari lelaki yang ada disana.
Sky dan kedua sahabatnya kini tengah duduk di meja bar yang sudah terisi beberapa botol minuman keras di atasnya. Beberapa di antaranya sudah habis diteguk ketiga gadis ini.
"Jihan". Panggil seorang pria dari belakang, membuat ketiga gadis itu menoleh serentak.
Empunya nama membelalak. Sedikit terkejut melihat kehadiran sosok dibelakangnya itu. Sedangkan Sky dan Kinan saling memandang dengan alis yang mengkerut, bingung. Lalu beralih menatap Jihan seolah meminta penjelasan. Sebelumnya mereka tidak pernah melihat pria ini.
"Oh iya kenalin ini Gala, pacar baru gue"
Kinan yang baru saja meneguk segelas bir langsung tersedak. "Sinting lo! kenapa nggak cerita?".
"Ceritanya panjang, nanti aja deh. Gue cus duluan yah, bye girls".
Sky hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Tak lama ponsel milik Kinan bergetar. Lagi - lagi mereka berdua saling memandang, melihat nama yang tertera disana.
"Mampus gue Sky, mama telfon". Kinan menegang.
"Halo, ma".
"Kurangajar kamu ya! tadi katanya mau tidur pas mama cek kamu nggak ada. Dimana kamu?! pulang cepat!".
"i-iya ma iya..".
Sky memelas, ia lupa kalau Kinan adalah anak strict parents. Seharusnya ia tidak mengajak anak ini tadi.
"arghh..Ya Tuhan, perpisahan macam apa ini". gerutunya.
"Gue balik duluan yah". Sky mengangguk.
"Nggapapa kan?".
"Iya nggapapa, sana balik. lu ngga mau dipukulin pake sikat wc lagi kan?".
"iyaaa..nggak mau..". Lirih Kinan. Gadis itu benar - benar ketakutan sekarang. Mengingat kejadian minggu kemarin saat ia memaksa untuk ikut Sky dan Jihan ke tempat tato yang berujung mamanya murka dan memukul Kinan dengan sikat wc.
Menatap kepergian Kinan, Sky kembali meneguk segelas bir. Menatap beberapa pasangan yang tengah berjoget brutal membuat Sky bergidik jijik.
"Entar juga putus". gumamnya.
Sky kembali meneguk. Tiba - tiba pikirannya terbang ke masa dimana ia masih berumur tujuh tahun.
Plakk!!
"Kamu berani nampar aku mas?!"
"ma-maaf sayang"
"lepasin tangan kamu! aku semakin yakin buat ninggalin kamu"
"ku-kumohon jangan"
"Jangan pernah cari aku lagi"
Tangan Sky meramas gelas bir amat kuat. Mengingat kejadian itu membuat hatinya kembali terluka. Seharusnya itu menjadi hari bahagianya yang menginjak usia tujuh tahun. Berniat untuk bersembunyi di lemari Ibunya menunggu kedua orang tuanya pulang kerja dan memberikan hadiah seperti ultah - ultah yang sebelumnya. Namun hadiah yang ia dapat adalah hadiah yang sama sekali tak ingin ia terima.
Sejak saat itu Sky membenci hari ultahnya. Ia tak akan mau merayakan ultahnya lagi karena itu sama saja seperti ia merayakan perpisahan keluarganya. Dan mulai detik itu juga Sky tidak percaya pada cinta. Sebab cinta itu tak pernah ada, cinta hanyalah dalih untuk memuaskan ego dan nafsu sesat dan saat pertengkaran itu tiba entah cinta bersembunyi dimana.
"persetan dengan cinta!".