Sekar menemukan Instruktur Bayu sore itu di hanggar, sedang membersihkan kaca depan salah satu pesawat latih dengan lap dan cairan khusus. Bau pembersih bercampur avtur menggantung di udara. Cahaya jingga senja masuk lewat pintu hanggar yang setengah terbuka, menyepuh logam pesawat.
"Pak," kata Sekar, suaranya kecil di ruang seluas itu.
Instruktur Bayu tidak berhenti mengelap. "Duduk," katanya, menunjuk sebuah kursi lipat di dekat kotak peralatan. "Aku dengerin sambil kerja. Biar kamu nggak ngerasa lagi diinterogasi."
Sekar duduk. Ia memandang lantai beton selama beberapa saat, mengumpulkan keberanian yang lebih sulit dikumpulkan daripada saat menghadapi mesin tersendat di tiga ribu kaki.
"Tiga tahun lalu," ia mulai, suaranya parau, "ada badai pas Bapak lagi narik jaring jauh dari pantai. Aku ikut bantu. Perahunya kebalik kena ombak gede." Ia menelan ludah. "Aku jatuh ke laut. Malam. Gelap banget, Pak. Aku... aku nggak tahu mana atas mana bawah. Aku berenang, tapi nggak tahu aku berenang ke permukaan apa ke dalam. Air masuk ke mulut. Paru-paruku kayak kebakar."
Instruktur Bayu berhenti mengelap. Tapi ia tidak menoleh, membiarkan Sekar bicara tanpa ditatap.
"Beberapa detik aku ngerasa udah mati. Beneran, Pak. Aku ngerasa, oh, gini rasanya. Trus tiba-tiba ada tangan narik kerah bajuku ke atas. Bapak. Bapak nyelam nyari aku." Air mata mengalir lagi, tapi suaranya tetap. "Sejak itu aku takut air. Bukan takut kayak orang biasa. Takut yang bikin aku beku. Yang bikin aku balik ke gelap itu tiap lihat air dalam."
Hening sejenak. Hanya derit halus lap di kaca.
"Lalu kenapa," kata Instruktur Bayu akhirnya, suaranya pelan, "anak yang takut air malah masuk dunia yang separuh rutenya di atas laut? Bukannya itu konyol?"
Sekar mengangkat wajahnya. Mata yang basah itu tiba-tiba keras.
"Karena aku capek lari, Pak. Seumur hidup aku tinggal di tepi laut yang aku takutin. Aku nggak bisa pindah. Jadi aku pilih—daripada lari, aku naik di atasnya. Aku pengen lihat laut itu dari atas. Dari tempat di mana dia nggak bisa narik aku lagi." Suaranya bergetar. "Aku masuk sini bukan buat kabur dari takutku. Aku masuk buat ngalahin dia."
Untuk pertama kalinya sore itu, Instruktur Bayu menoleh penuh. Dan di wajah keras penerbang veteran itu, ada sesuatu yang melunak—pengakuan, mungkin, bahkan hormat.
"Tahu nggak," katanya, melempar lap ke kotak peralatan, "banyak instruktur yang bakal nyoret kamu detik ini juga. Fobia air di pilot yang terbang di negara kepulauan? Risiko. Mereka bakal bilang kamu bahaya buat diri sendiri dan penumpang." Ia menarik kursi lain, duduk berhadapan dengan Sekar. "Tapi aku udah terbang tiga puluh tahun, Wulandari. Dan aku tahu satu hal yang nggak ada di buku mana pun: yang bahaya bukan penerbang yang punya takut. Yang bahaya itu penerbang yang nggak tahu apa yang dia takutin, terus kaget pas takut itu datang di waktu yang salah."
Ia mencondongkan badan.
"Kamu tahu persis takutmu. Kamu nyebutin namanya. Itu setengah dari pertarungan. Sekarang kita kerjain setengahnya lagi—pelan-pelan."
Sekar mengerjap. "Pak nggak nyoret saya?"
"Aku nyusun program buat kamu." Instruktur Bayu berdiri, mengambil papan tulis kecil dari dinding. "Bertahap. Pertama, terbang di atas laut deket pantai, daratan selalu keliatan. Pernapasan—paru-paru juara kamu itu, kita pakai buat ngerem panik. Trus nanti, makin jauh. Makin lama. Sampai laut di bawah sayap nggak bikin kamu beku lagi, tapi cuma jadi pemandangan." Ia menatap Sekar. "Aku nggak bisa janji kamu sembuh total. Mungkin takut itu nemenin kamu seumur hidup. Tapi aku bisa ajarin kamu terbang sambil bawa dia, bukan dikalahin dia. Mau?"
Sekar berdiri. Untuk pertama kalinya sejak rute pesisir itu, ia merasa tanah di bawah kakinya kokoh.
"Mau, Pak."
Di luar hanggar, senja jatuh ke laut di kejauhan. Dan untuk pertama kalinya, Sekar menatapnya tanpa berpaling.