Sekar memilih waktu yang salah. Atau mungkin tidak ada waktu yang benar untuk hal seperti ini.
Pagi itu mesin perahu mati di tengah laut, dan Bapak harus mendayung pulang sejauh dua kilometer. Wajahnya keras seperti karang ketika menambatkan perahu. Tangkapan sedikit. Solar mahal. Dan sekarang mesin minta diperbaiki lagi.
Tapi Sekar sudah menunggu tiga hari. Pendaftaran tinggal dua minggu. Ia tidak bisa menunggu lagi.
"Pak," katanya, saat Bapak duduk di amben sambil minum kopi. "Sekar mau ngomong."
Bapak hanya mengangkat alis, matanya masih ke arah laut.
Sekar mengeluarkan kertas brosur itu. Tangannya gemetar saat menyerahkannya. "Ada beasiswa, Pak. Sekolah pilot. Gratis. Semuanya gratis. Asrama, makan, sampai latihan terbang. Sekar cuma perlu lolos tes."
Bapak menerima kertas itu. Ia menatapnya lama, tapi Sekar tahu Bapak tidak benar-benar membaca. Bapak hanya berhenti di gambar sayap emas itu.
"Berapa biayanya?" tanya Bapak akhirnya.
"Gratis, Pak. Beasiswa penuh."
"Tesnya di mana?"
"Kota provinsi. Empat jam naik bus."
Bapak meletakkan kertas itu di atas amben, pelan, seolah benda itu bisa pecah. Lalu ia menatap Sekar untuk pertama kalinya pagi itu. Mata yang lelah, mata yang sudah terlalu sering kecewa.
"Sekar," kata Bapak, suaranya rendah. "Kamu tahu berapa banyak anak yang daftar beasiswa kayak gitu?"
"Sekar nggak tahu, Pak. Tapi—"
"Ribuan. Mungkin puluhan ribu. Dan yang diterima cuma sepuluh." Bapak menggeleng. "Anak-anak orang kaya, anak-anak kota, yang sekolahnya bagus, yang les sana-sini. Kamu mau bersaing sama mereka? Anak nelayan, sekolahnya nunggak SPP?"
Setiap kata Bapak adalah paku yang ditancapkan pelan-pelan ke dada Sekar. Dan yang paling menyakitkan, Sekar tahu Bapak tidak sedang jahat. Bapak sedang takut. Takut anaknya patah hati.
"Sekar cuma mau coba, Pak," bisik Sekar. "Cuma coba."
"Coba itu pakai uang. Bus pulang-pergi. Makan di kota. Penginapan kalau tesnya beberapa hari." Bapak mengusap wajahnya. "Uang itu bisa buat benerin mesin. Bisa buat bayar utang."
Sekar menunduk. Air mata mulai panas di pelupuk matanya, tapi ia menahannya. Ia tidak mau menangis. Tidak di depan Bapak.
"Lupakan, Sekar," kata Bapak, lebih lembut sekarang, dan justru itu yang lebih menyakitkan. "Hidup kita di sini. Di laut. Bukan di langit."
Bapak bangkit, meninggalkan kertas brosur tergeletak di amben, dan turun ke bawah untuk memeriksa mesin perahunya.
Sekar duduk sendiri. Ia mengambil kembali kertas itu, melipatnya, dan untuk sesaat ia hampir merobeknya. Hampir.
Tapi tangannya berhenti.
Ia teringat garis putih di langit pagi. Ia teringat lampu merah-hijau di malam hari. Ia teringat kalimat di brosur itu: "Langit hanya menanyakan: beranikah kamu terbang?"
Malam harinya, saat semua sudah tidur, Ibu mendekatinya di amben. Tanpa kata, Ibu menyelipkan sesuatu ke tangan Sekar. Gulungan uang. Tidak banyak, tapi cukup untuk ongkos bus dan makan beberapa hari.
"Bu—" Sekar terkejut.
"Sssh." Ibu menempelkan telunjuk ke bibir. "Ini tabungan arisan Ibu. Bapakmu nggak usah tahu."
"Bu, ini—"
"Ibu nggak janji kamu bakal lolos, Nak." Mata Ibu berkaca-kaca di kegelapan. "Tapi Ibu nggak mau, suatu hari, kamu nyesel karena nggak pernah coba. Itu lebih sakit daripada gagal."
Sekar memeluk Ibunya erat-erat, dan kali ini ia membiarkan air matanya jatuh.
"Buktikan, Sekar," bisik Ibu di telinganya. "Buktikan sama dirimu sendiri dulu. Yang lain belakangan."