Lampu asrama sudah dimatikan dua jam lalu, tapi mata Sekar tetap terbuka di kegelapan. Dari kasur tingkat bawah, ia mendengar napas teratur teman-teman sekamar. Nadira mendengkur halus. Di luar jendela, langit kota bersih, bertabur bintang yang sama dengan bintang di atas Pantai Cemara.
Besok pagi, untuk pertama kalinya, ia akan terbang sendiri.
Solo flight. Dua kata yang sejak masuk akademi terus dibisikkan instruktur seperti garis akhir yang menentukan. Tanpa instruktur di kursi kanan. Tanpa tangan lain yang siap merebut kontrol kalau ia salah. Hanya Sekar, mesin, dan langit.
Ia menyibak selimut tipis, turun perlahan agar besi ranjang tak berderit, lalu duduk di tepi jendela. Tangan kirinya secara refleks meraba lengan kanan—kebiasaan lama. Lengan kiri itu, yang dulu patah di antara karang saat badai, malam ini terasa dingin dan sedikit ngilu. Ia memijatnya pelan.
"Nggak bisa tidur juga?"
Sekar menoleh. Dian sudah duduk di kasurnya, kacamatanya berkilat samar memantulkan cahaya bintang.
"Besok kamu duluan," kata Dian. "Aku lusa."
"Aku takut, Di," bisik Sekar. Pengakuan itu keluar begitu saja, seperti air yang menemukan retakan.
Dian turun, duduk di sampingnya. "Aku juga. Tapi kamu udah lulus ujian manuver kemarin. Kapten Wibisana sendiri yang bilang kamu siap."
Sekar menatap garis-garis lampu landasan yang berkedip jauh di seberang lapangan akademi. Tempat itu, besok, akan menjadi miliknya sendirian untuk beberapa menit.
"Bukan takut nggak bisa," kata Sekar pelan. "Aku takut karena... ini satu-satunya jalanku. Kamu masih punya rumah di kota, punya ayah dosen, punya rencana lain. Aku nggak punya rencana cadangan. Kalau aku jatuh besok, aku jatuh untuk semuanya. Buat Ibu yang ngasih uang arisan. Buat Bapak yang sampai sekarang belum ngomong sama aku."
Dian diam sebentar. Ia tahu Sekar tidak butuh dihibur dengan kata-kata kosong. "Inget malam pertama kita di rumah saudaraku? Pas tes kesehatan?" tanyanya. "Kamu bilang, kamu pernah hampir mati di laut. Gelap, nggak tahu atas-bawah. Tapi kamu naik lagi."
Sekar mengangguk.
"Besok kamu cuma sendiri di langit yang terang," kata Dian. "Bukan di air yang gelap. Kamu udah pernah di tempat yang lebih buruk."
Sekar menelan ludah. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa mengendurkan simpul di dadanya. Ia teringat atap rumah panggung di Pantai Cemara, malam ketika ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari, aku yang di atas sana.
Sekarang ia tinggal selangkah.
"Pak Wirawan nulis di bukunya," kata Sekar, "bab tentang penerbangan pertama. Katanya, saat roda lepas dari bumi untuk pertama kali sendirian, kamu akan ngerti kenapa orang rela menyerahkan seluruh hidupnya buat langit." Ia tersenyum tipis. "Dulu aku baca itu di bilik warnet Pak Hasan, sambil berdoa supaya punya kesempatan ngerasain sendiri."
"Sekarang kamu yang bakal ngerasain," kata Dian.
Mereka duduk diam beberapa lama, dua gadis dari dua dunia yang berbeda, disatukan oleh langit yang sama. Di kejauhan, sebuah pesawat latih yang sudah diparkir di apron memantulkan cahaya bulan, diam menunggu fajar.
Sekar mengeluarkan buku lecek dari laci—buku "Mengenal Dunia Penerbangan" edisi 2009 yang sudah hampir lepas jilidnya. Ia membuka halaman yang sudutnya terlipat, halaman tentang prosedur lepas landas. Ia tidak perlu membacanya lagi; ia hampir hafal tiap kalimat. Tapi malam ini ia ingin menyentuhnya, seperti menyentuh jangkar.
"Eh, Sekar." Dian menunjuk halaman terakhir buku itu, tempat ada tulisan tangan kecil. "Itu apa?"
Sekar menutup buku itu cepat. "Bukan apa-apa. Cuma janji."
Tulisan itu, yang ia coret tiga tahun lalu dengan pulpen yang hampir kering, berbunyi: Aku yang di atas sana.
"Tidurlah," kata Dian akhirnya, menepuk bahu Sekar. "Pilot yang besok terbang sendiri harus segar."
Sekar mengangguk dan kembali ke kasurnya. Tapi sebelum memejamkan mata, ia menengadah ke langit-langit kamar yang gelap, membayangkannya sebagai langit luas yang besok pagi akan ia belah sendirian. Lengan kirinya masih ngilu. Hatinya masih berdebar. Tapi untuk pertama kalinya sejak masuk akademi, rasa takut itu tidak terasa seperti dinding.
Ia terasa seperti landasan pacu.
Di luar, fajar mulai menggariskan tepi langit dengan warna kelabu yang perlahan menghangat. Beberapa jam lagi, alarm akan berbunyi, dan Sekar Wulandari, anak nelayan dari Pantai Cemara, akan naik sendirian ke dalam kokpit.