Buku "Mengenal Dunia Penerbangan" edisi 2009 itu kini sudah benar-benar lepas dari jilidnya. Halaman-halamannya yang kuning diikat Sekar dengan karet gelang, dibawa dari Pantai Cemara, melewati semua ujian, dan tersimpan di laci kasur tingkatnya seperti jimat. Suatu malam, setelah lulus instrument rating, Sekar membukanya kembali dan menatap nama penulisnya yang tercetak di sampul dalam: *Wirawan.*
Selama tujuh tahun, nama itu hanya deretan huruf. Tapi sekarang, setelah merasakan sendiri badai, kabut, dan kepercayaan buta, Sekar menyadari bahwa setiap kalimat di buku itu ditulis oleh seseorang yang pernah berada di sana—seseorang yang tahu rasanya. Dan tiba-tiba ia ingin sekali berterima kasih.
Ia mencari di perpustakaan akademi, bertanya pada instruktur, sampai akhirnya seorang pustakawan tua mengingat. "Wirawan? Penerbang lama. Dulu instruktur juga, sebelum zaman kalian. Sudah pensiun lama, sakit-sakitan kudengar. Tinggal di kota kecil di pegunungan." Ia menemukan alamat lama di arsip yang berdebu.
Malam itu, Sekar menulis surat. Bukan surat yang muluk. Ia menulis tentang seorang anak nelayan di Pantai Cemara yang menemukan buku lecek di kotak sumbangan perpustakaan keliling, yang membacanya di bawah lampu teplok saat listrik mati, yang menghafal setiap halamannya sampai jilidnya lepas. Ia menulis tentang slogan yang ia baca di sebuah brosur—*Langit tidak menanyakan dari mana kamu datang*—dan bagaimana buku Pak Wirawan-lah yang pertama kali membuatnya percaya itu mungkin benar. Ia menulis tentang badai, tentang kabut, tentang cara ia belajar mempercayai instrumen ketika inderanya menipu, dan ia menutup surat itu dengan satu kalimat: *Bapak menulis buku ini bertahun-tahun sebelum saya lahir, tapi rasanya Bapak menulisnya untuk saya. Terima kasih sudah jadi suara pertama yang bilang langit itu juga milik anak nelayan.*
Ia mengirimkannya, lalu hampir melupakannya, karena tak yakin alamat tua itu masih benar, atau orangnya masih ada.
Tiga minggu kemudian, sebuah amplop tiba di asrama, ditujukan kepada *Sdri. Sekar Wulandari, Cadet ADN.* Tulisannya gemetar, miring, tulisan tangan orang tua. Sekar membukanya dengan jari yang bergetar.
*Sekar yang baik,*
*Maafkan tulisan tangan saya yang sudah tak sebagus dulu—usia dan penyakit telah mengambil banyak hal, termasuk kestabilan tangan yang dulu memegang kontrol pesawat selama tiga puluh tahun.*
*Suratmu sampai pada hari yang berat. Saya sudah lama merasa buku itu sia-sia—dicetak dalam jumlah kecil, tak banyak yang membaca, dan saya kira sudah lama dilupakan seperti saya sendiri. Lalu datanglah suratmu, dan saya menangis seperti anak kecil, Nak. Ternyata buku itu menemukan jalannya ke kotak sumbangan, lalu ke tangan seorang anak yang paling membutuhkannya. Tidak ada penerbang tua yang bisa meminta hadiah lebih indah daripada itu.*
*Kau bertanya bagaimana aku tahu rasanya badai dan kabut. Aku tahu karena aku pernah hampir mati di dalamnya, sama sepertimu. Dan kau benar tentang instrumen: indera kita adalah pengkhianat yang manis. Mereka berbohong dengan suara yang kita cintai. Tugas seorang penerbang adalah belajar mencintai kebenaran yang dingin lebih dari kenyamanan yang hangat. Kau sudah memahami itu lebih muda dari aku dulu. Itu membuatku tenang tentang langit yang akan kau warisi.*
*Aku tak bisa lagi terbang. Aku bahkan jarang bisa keluar rumah. Tapi jika kau mengizinkan seorang tua yang renta ini, aku ingin terbang lagi—lewatmu. Tulislah padaku tentang penerbanganmu. Ceritakan setiap manuver, setiap ketakutan, setiap kemenangan kecil. Aku akan membalas dengan apa pun yang masih tersimpan di kepala tua ini. Anggap saja ini kelas terbang terakhirku, dengan satu-satunya murid yang paling kuinginkan.*
*Langit menunggumu, Nak. Jangan buat ia menunggu terlalu lama.*
*Salam dari bumi yang merindukan udara,*
*Wirawan*
Sekar membaca surat itu tiga kali, lalu menekapnya ke dada. Di luar jendela, langit malam terbentang luas dengan bintang-bintang yang sama dengan yang ia tatap dari atap rumah panggung dulu. Ia sudah punya sahabat di akademi, instruktur yang menempanya, rival yang berubah jadi cermin. Tapi malam ini ia mendapatkan sesuatu yang berbeda: seorang mentor yang melihat ke langit yang sama dengannya bertahun-tahun sebelumnya, dan kini mempercayakannya pada Sekar untuk diteruskan.
Ia mengambil pena dan mulai membalas. Surat pertama dari banyak surat. Sebuah jembatan antara seorang penerbang tua yang tak bisa lagi terbang dan seorang anak nelayan yang baru saja menemukan sayapnya.