Ruang Garuda dipenuhi deretan meja kayu. Kipas angin berputar di langit-langit, tapi udara tetap terasa berat oleh napas ratusan peserta yang gugup. Sekar duduk di meja bernomor dua-tujuh-empat, meletakkan pulpen dan pensil yang ia bawa, lalu menunggu.
Seorang pengawas berseragam membagikan lembar soal yang masih tertutup. "Jangan dibuka sebelum aba-aba. Waktu kalian sembilan puluh menit. Empat puluh soal. Materi: matematika dasar, fisika, logika, dan pengetahuan kedirgantaraan. Curang, langsung diskualifikasi. Mengerti?"
"Mengerti," jawab ruangan serempak.
"Mulai."
Suara ratusan lembar dibuka berderak seperti ombak. Sekar membuka lembarnya dengan tangan yang stabil. Ia sudah menenangkan dirinya. Garam dan keringat sudah mengajarinya satu hal: panik tidak pernah menyelesaikan apa pun.
Soal pertama: konversi knot ke kilometer per jam. Sekar tersenyum tipis. Ia hafal. Buku Pak Wirawan punya satu halaman penuh tentang ini.
Soal kedua: hukum Bernoulli dan kaitannya dengan gaya angkat sayap. Ia tahu.
Soal-soal mengalir. Sebagian sulit, membuat Sekar harus berhenti dan berpikir keras. Ada soal trigonometri yang membuat keningnya berkerut. Ada soal logika tentang jadwal penerbangan yang harus ia gambar diagramnya di kertas buram. Tapi ia tidak panik. Ia mengerjakan yang mudah dulu, melingkari yang sulit, lalu kembali lagi.
Di sekitarnya, ia mendengar suara-suara tertahan. Helaan napas frustrasi. Pulpen yang diketuk-ketuk gugup. Di seberang ruangan, anak laki-laki yang tadi mengejeknya—Sekar mengintip sekilas—wajahnya pucat, keringat di dahinya, lembar jawabannya masih banyak yang kosong.
Sekar kembali fokus.
Sampai ia tiba di soal nomor tiga puluh tujuh.
"Sebuah pesawat terbang pada ketinggian jelajah 35.000 kaki dengan kecepatan 480 knot. Jika angin sakal bertiup 40 knot, dan jarak ke bandara tujuan 960 mil laut, hitung waktu tempuh yang dibutuhkan."
Sekar berhenti. Otaknya bekerja cepat. Angin sakal—headwind—berarti kecepatan terhadap tanah berkurang. 480 dikurangi 40, jadi 440 knot. Jarak 960 mil laut dibagi 440 knot. Ia menghitung di kertas buram, tangannya bergerak cepat. Sekitar 2,18 jam. Dua jam sebelas menit.
Ia melingkari jawabannya, dadanya hangat oleh kepuasan kecil. Buku lecek itu, buku yang diremehkan Bapak, ternyata sudah menyiapkannya untuk momen ini.
Lima menit terakhir, pengawas mengumumkan waktu. Sekar memeriksa ulang jawabannya dengan cepat, mengisi dua soal yang sempat ia lewati, lalu meletakkan pulpennya.
"Waktu habis. Letakkan alat tulis. Lembar jawaban tetap di meja."
Sekar bersandar di kursinya, napasnya panjang. Entah ia lolos atau tidak, ia sudah memberikan segalanya.
Di luar ruangan, Dian menghampirinya. "Gimana?"
"Susah," kata Sekar jujur. "Tapi aku ngerjain semua."
"Aku juga." Dian tersenyum. "Soal nomor tiga puluh tujuh itu jebakan, lho. Banyak yang lupa ngurangin angin sakal."
"Aku ngurangin," kata Sekar.
Dian menatapnya, lalu tertawa. "Kamu beneran hafal buku itu, ya."
Mereka berjalan keluar bersama. Pengumuman hasil tes tertulis akan ditempel sore ini, pukul empat. Yang lolos berhak ikut tes fisik dan kesehatan keesokan harinya. Sekar memutuskan menunggu di taman kota dekat gedung, menghemat uang dengan tidak makan di restoran, hanya membeli sebungkus nasi dari warung pinggir jalan.
Sore datang lambat. Pukul empat kurang, kerumunan sudah memadati papan pengumuman. Sekar berdiri di belakang, jantungnya berdebar lebih keras daripada saat tes.
Petugas menempelkan beberapa lembar kertas. Daftar nomor peserta yang lolos.
Kerumunan berebut maju. Ada yang berteriak senang, ada yang menunduk diam, ada yang langsung menelepon orang tuanya sambil menangis—entah karena bahagia atau kecewa.
Sekar tidak bisa melihat. Terlalu banyak orang. Ia berjinjit, mencoba membaca nomor-nomor di kertas itu.
Dua ratus tujuh puluh empat. Di mana?
Tangannya dingin. Matanya menyusuri kolom demi kolom.