Surat penerimaan itu datang dalam amplop putih dengan logo maskapai nasional. Sekar membukanya dengan tangan yang sengaja ia tahan agar tidak terlalu cepat, seakan dengan memperlambat ia bisa menahan momen ini lebih lama.
"Dengan ini kami menyatakan Saudari Sekar Wulandari diterima sebagai First Officer..."
Ia membaca kata itu tiga kali. First Officer. Kopilot. Bukan magang, bukan cadet. Pilot sungguhan, di kursi kanan kokpit pesawat penumpang sungguhan.
"Kopilot termuda dalam sejarah rekrutmen mereka," kata Dian, mengintip dari balik bahunya. Dian juga menerima surat yang sama, di hari yang sama. Mereka berdua, dari sekian banyak lulusan, masuk ke maskapai yang sama. "Anak nelayan jadi kopilot maskapai nasional. Kalau ini film, orang bakal bilang terlalu mengada-ada."
"Kalau ini film," kata Sekar pelan, "mereka nggak tahu berapa banyak malam aku belajar fraseologi radio sampai jam tiga pagi."
Hari pertamanya melapor di kantor operasi penerbangan, Sekar mengenakan seragam pilot lengkap untuk pertama kali. Kemeja putih dengan dua garis di bahu — bukan empat seperti kapten, tapi dua, tanda seorang first officer. Topi dengan lambang sayap. Ia berdiri di depan cermin loker dan nyaris tak mengenali bayangannya sendiri.
Dua garis. Ia mengusapnya dengan ujung jari. Bukan empat. Belum. Tapi dua garis ini saja sudah lebih jauh dari yang berani diimpikan siapa pun di Pantai Cemara.
Briefing perdananya dipimpin seorang manajer operasi yang menjelaskan rute, jadwal, dan ekspektasi. "Kalian masih hijau," katanya tanpa basa-basi. "Dua ribu jam terbang seorang kapten nggak bisa kalian beli dengan nilai bagus. Di kokpit, kalian dengar, kalian belajar, kalian jangan sok tahu. Tapi—" ia menatap deretan first officer baru, "—kalau kalian lihat sesuatu yang salah, kalian wajib bicara. Hierarki kokpit bukan untuk menutup mulut. Itu untuk menjaga keselamatan. Ngerti?"
"Ngerti, Pak," jawab mereka serempak.
Sekar memikirkan kata-kata itu sepanjang hari. Kalau kalian lihat sesuatu yang salah, kalian wajib bicara. Ia tahu betul harga dari kalimat itu. Ia sudah membayarnya, di ruang arsip hanggar, di ruang rapat berdinding kaca.
Malam itu, di asrama transit pilot, ia menelepon kampung lewat warung Bu Lurah, seperti dulu. Suara di seberang berderak-derak.
"Bu," kata Sekar. "Aku diterima. Jadi pilot beneran. Bawa pesawat penumpang."
Hening sebentar. Lalu suara Ibu, lirih dan basah. "Bapakmu di sini. Aku pegangin teleponnya ke kupingnya."
Ada gesekan, suara napas berat. Sekar menahan napasnya sendiri.
"Sekar." Suara Bapak. Lemah, serak, tapi itu suara Bapak. "Kamu... beneran bawa burung besi itu?"
"Iya, Pak. Beneran. Dua minggu lagi penerbangan pertamaku bawa penumpang."
Diam panjang di seberang. Sekar mengira sambungan terputus. Lalu Bapak berkata, suaranya hampir tak terdengar, "Bapak dulu bilang langit bukan buat kita." Ia berhenti, batuk pelan. "Bapak salah, Nak. Langit buat siapa aja yang berani."
Sekar menutup matanya, menyandarkan dahi ke dinding warnet—bukan, ke dinding asrama. Ia bingung sendiri di mana ia berada, hanya tahu bahwa hatinya ada di rumah panggung kayu di tepi pantai.
"Pak," katanya, suaranya pecah. "Pak, cepet sembuh ya. Nanti kalau Bapak udah kuat, aku bawa Bapak naik pesawat. Bapak lihat sendiri laut dari atas. Indah banget, Pak."
Bapak tertawa kecil, tawa yang berubah jadi batuk. "Laut dari atas," gumamnya. "Bapak cuma kenal laut dari bawah, dari perahu." Lalu, lebih pelan, "Bapak bangga, Sekar. Bapak bangga."
Sambungan ditutup. Sekar berdiri lama dalam gelap, menggenggam ponsel yang masih hangat.
Dua garis di bahunya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan beban yang menindih. Beban yang ia pilih dengan sukarela, beban yang artinya ia akhirnya pantas menyandang nama yang dulu cuma ada di buku lecek karya Pak Wirawan: penerbang.