Bandara di bawah sudah bersiap. Sekar bisa mendengarnya di radio—mobil pemadam digerakkan ke sisi landasan, ambulans dikerahkan, landasan dikosongkan dari semua lalu lintas lain. Seluruh bandara menahan napas untuk satu pesawat yang turun dengan satu mesin dan separuh sistemnya mati.
"Konfigurasi pendaratan," kata Sekar, membaca checklist. "Dengan hidraulik B hilang, flap kita terbatas. Kecepatan pendekatan harus lebih tinggi dari biasa. Roda pendaratan—" ia menelan ludah, "—kita pakai sistem pelepasan darurat. Gravitasi."
Kapten Halim mengangguk, fokusnya total ke depan. "Sebut kecepatannya. Aku terbangkan, kamu jaga aku tetap di jalur."
Mereka turun melalui lapisan awan tipis, dan landasan muncul—garis abu-abu panjang di tengah hijaunya daratan, dengan lampu-lampu kendaraan darurat berkedip di kedua sisi. Sekar menarik tuas pelepasan roda pendaratan. Satu jeda mengerikan—lalu hentakan dan bunyi mengunci. Tiga lampu hijau. Roda terkunci di tempatnya.
"Gear down and locked," kata Sekar, dan lega menjalar lewat suaranya meski ia menahannya.
Angin menyamping menggoyang pesawat. Tanpa hidraulik penuh, kemudi terasa seperti melawan arus laut. Halim berjuang menahannya di garis tengah, otot-otot lengannya menegang. Sekar membaca instrumen tanpa henti, suaranya menjadi metronom: "Lima ratus kaki... empat ratus... kecepatan stabil... sedikit ke kiri, Kapten, koreksi... tiga ratus..."
Bumi naik mendekat. Lampu landasan melebar di kaca depan.
"Dua ratus... seratus... lima puluh..."
Sentuhan.
Roda utama menyentuh aspal dengan jeritan karet dan asap. Pesawat berguncang, melonjak sekejap, lalu turun kembali dan mengunci di bumi. Halim menarik tuas pengereman, menginjak pedal, dan tanpa pembalik daya dari mesin yang mati, mereka mengandalkan rem dan setiap meter landasan yang tersisa. Pesawat mendecit, melambat, melambat—dan akhirnya berhenti, masih di landasan, hidung lurus, sayap rata.
Diam.
Untuk sesaat, tak ada yang bergerak di kokpit. Hanya napas dua manusia, terengah, dan suara mesin yang masih hidup berdengung pelan.
Lalu, dari kabin belakang, terdengar sesuatu yang Sekar tak akan pernah lupa. Tepuk tangan. Mula-mula satu, lalu dua, lalu seratus delapan puluh orang bertepuk tangan dan menangis dan tertawa sekaligus, suara kelegaan yang menggetarkan seluruh badan pesawat. Suara orang-orang yang mengira mereka tak akan melihat matahari esok hari, dan kini tahu mereka akan melihatnya.
Kapten Halim menutup matanya, menyandarkan kepala ke kursi. Lalu ia menoleh ke Sekar, dan matanya basah. "Empat detik," katanya serak. "Aku beku selama empat detik tadi, Sekar. Kamu yang nggak beku." Ia meraih tangan first officer-nya dan menjabatnya erat. "Kamu yang bawa kita pulang."
Mobil pemadam mengelilingi pesawat, ambulans merapat, tangga darurat dipasang. Saat Sekar akhirnya menuruni tangga ke aspal, kakinya nyaris tak menyentuh tanah. Penumpang demi penumpang turun, dan banyak dari mereka berhenti di depan kokpit, menatap dua pilot yang berdiri di sana. Seorang ibu menggendong bayinya menghampiri Sekar, air mata membasahi wajahnya, dan tanpa kata-kata ia memeluk Sekar erat. Lansia yang berpegangan tangan tadi mengangguk padanya, bibir bergetar mengucap terima kasih. Anak kecil yang tadi menempel di jendela menatapnya dengan mata lebar penuh kekaguman—mata yang sama seperti Sekar dulu di Pantai Cemara.
Berita itu menyebar sebelum malam tiba. Penyelidikan resmi kemudian memuji penanganan kru sebagai "teladan"—kegagalan ganda yang amat langka, ditangani tanpa satu pun korban. Nama Sekar Wulandari muncul di mana-mana. Wartawan datang. Tapi Sekar menolak menjadikannya tentang dirinya.
"Saya cuma jalanin yang diajarkan ke saya," katanya kepada seorang wartawan, di depan kamera. "Instruktur saya pernah bilang: penerbang terbaik bukan yang nggak punya takut. Tapi yang tahu persis apa yang ditakutkan, dan tetap berkepala dingin." Ia berhenti sejenak. "Saya takut tadi. Saya cuma nggak biarin takut itu yang mengemudi."
Malam itu, sendirian di kamar, Sekar duduk dan menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu mengangkat ikan kembung di subuh buta, tangan kasar anak nelayan. Tangan yang baru saja, beberapa jam lalu, membantu membawa seratus delapan puluh nyawa kembali ke bumi.
Ia ingin menelepon Bapak. Ingin mendengar suara serak itu berkata "Bapak bangga." Ia meraih ponselnya.
Tapi sebelum ia sempat menekan nomor warung Bu Lurah, ponselnya berdering lebih dulu. Layar menyala: panggilan dari kampung.
Sesuatu di dalam dadanya menegang. Terlalu malam untuk telepon biasa.