Pantai Cemara tidak banyak berubah. Rumah-rumah panggung kayu masih berbaris menghadap laut, jaring-jaring masih dijemur di pasir, dan bau garam serta ikan asin masih menyambut siapa pun yang datang. Tapi hari ini ada yang berbeda di kampung itu—sebuah bangunan baru berdiri di dekat dermaga, sederhana, beratap seng, dengan papan nama yang dicat tangan: *Rumah Belajar Langit Pertama.*
Sekar berdiri di depan bangunan itu bersama Ibu. Ibu sudah jauh lebih tua, rambutnya memutih, tapi senyumnya masih lembut seperti dulu, saat ia diam-diam menyelipkan gulungan uang arisan ke tangan anaknya dan berbisik, *buktikan sama dirimu sendiri dulu.*
"Bapakmu pasti nggak nyangka," kata Ibu, menatap bangunan itu. "Anak yang dia larang terbang, sekarang malah bikin sekolah biar anak-anak lain bisa terbang."
Sekar tersenyum. Ide ini sudah lama ia simpan. Sejak ia menjadi kapten, sejak namanya dipulihkan dan gajinya cukup, ia tahu apa yang ingin ia lakukan dengan keberuntungannya. Bukan untuk dirinya sendiri. Untuk kampung ini. Untuk anak-anak yang, seperti dirinya dulu, menatap garis putih pesawat di langit dan bertanya-tanya apakah burung besi itu juga bisa milik mereka.
Rumah Belajar Langit Pertama bukan akademi penerbangan—Pantai Cemara terlalu kecil dan terpencil untuk itu. Tapi ia menyediakan apa yang dulu nyaris tak dimiliki Sekar: buku-buku, listrik untuk belajar malam, komputer dengan internet, dan—yang terpenting—beasiswa. Setiap tahun, program kecil itu akan membiayai satu atau dua anak Pantai Cemara yang berprestasi untuk melanjutkan sekolah ke kota, ikut tes apa pun yang mereka impikan: pilot, dokter, insinyur, guru.
"Yang penting bukan jadi pilot," kata Sekar pada Ibu. "Yang penting mereka tahu bahwa mereka boleh bermimpi. Dulu aku hampir nggak berani. Aku nggak mau anak-anak di sini ragu seperti aku."
Ibu menggenggam tangan anaknya, tangan yang dulu kasar oleh jaring dan kini kasar oleh tuas kemudi pesawat. "Bu Lurah sudah tua sekali sekarang," kata Ibu pelan. "Tapi dia bilang, dia ingat kamu kecil dulu—anak yang selalu menengadah ke langit sambil mengupas ikan. Dia bilang kampung ini butuh lebih banyak anak yang berani menengadah."
Sekar tersenyum mendengar nama Bu Lurah, perempuan yang dulu warungnya menjadi satu-satunya jembatan suaranya ke dunia luar. Begitu banyak orang yang, tanpa ia sadari, telah menopang langkahnya. Rumah Belajar ini, pikirnya, adalah caranya membalas mereka semua sekaligus.
Hari peresmian, anak-anak kampung berkumpul. Sebagian datang dengan sandal jepit, kaki berpasir, mata penuh tanya. Sekar menatap mereka dan melihat dirinya sendiri—gadis tujuh belas tahun yang menyimpan buku lecek *Mengenal Dunia Penerbangan* di bawah bantalnya, yang hampir hafal setiap halaman.
Ia membawa buku itu hari ini. Buku tua yang sama, kini lebih lecek lagi, halamannya menguning, tapi masih utuh. Karya Pak Wirawan—mentor jarak jauh yang dulu membalas suratnya, yang kini sudah sangat renta tapi masih sempat mengirim pesan untuk peresmian ini: *Buku itu kutulis berharap satu anak saja akan terbang karenanya. Ternyata anak itu kamu, Sekar. Dan sekarang kamu menulis bab berikutnya untuk anak-anak yang lain.*
Sekar berdiri di depan anak-anak itu, memegang buku lecek di tangannya.
"Buku ini," katanya, "tiga belas tahun lalu, aku temukan di kotak sumbangan perpustakaan keliling. Buku ini yang mengajariku bahwa langit itu nyata, dan bahwa siapa pun bisa ke sana." Ia meletakkan buku itu di rak pertama Rumah Belajar. "Sekarang buku ini punya kalian semua. Dan kalau ada di antara kalian yang suatu hari terbang, ingat satu hal."
Anak-anak itu menatapnya, hening.
"Langit tidak menanyakan dari mana kamu datang," kata Sekar, suara slogan yang dulu ia baca di brosur seribu rupiah di Warnet Pak Hasan. "Langit hanya menanyakan: beranikah kamu terbang?"
Seorang anak perempuan kecil di barisan depan, mungkin sepuluh tahun, dengan rambut diikat asal dan sandal jepit berdebu, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Aku berani, Kak Sekar!" serunya. "Aku mau terbang!"
Sekar tertawa, matanya basah. Ia berlutut di depan anak itu, sejajar dengan matanya. "Kalau begitu," katanya, "mulai sekarang, kamu nggak boleh berhenti bermimpi. Janji?"
"Janji!"
Ibu menyaksikan dari belakang, air matanya mengalir tanpa suara. Di kejauhan, laut berdebur tenang, dan sebuah pesawat melintas tinggi di langit, meninggalkan garis putih panjang—seperti yang dulu selalu ditatap Sekar dari atap rumahnya.
Kali ini, sepuluh anak menatapnya bersama-sama.