Aku pernah mengambil keputusan yang buruk.
Delapan puluh tahun yang lalu, aku berangkat dari Tekoa, untuk sebuah misi yang akan selamanya kusesali.
Hari itu, hujan mengguyur Adon begitu deras. Sebuah peristiwa langka yang biasanya terjadi sebagai pembuka sebuah tragedi.
Tidak ada Briaron di sisiku, karena kami berdua sudah sama-sama diberi tanggung jawab untuk memimpin sebuah pasukan elf. Tuan Daeron hanya memintaku pergi ke Sonadhor, untuk mengambil sesuatu di lantai terbawah istana Raja.
Di masa itu, Sonadhor bukanlah kota yang suram dan gelap. Sebaliknya, Sonadhor adalah pusat ilmu pengetahuan dan perdagangan kayu terbaik di seluruh pulau Adon.
Sebuah perpustakaan yang menyimpan banyak salinan dari surat-surat penting, ada di sebuah bangunan besar di sudut kota. Perpustakaan itu bernama Sonbliote, yang berarti pusat pikiran Sonadhor.
Selain perpustakaan besar, Sonadhor juga memiliki banyak rumah pemotongan kayu di setiap sudut kotanya. Beberapa rumah tukang kayu, bahkan memiliki tiga sampai empat lantai. Sebuah bukti bahwa bisnis kayu membuat kota itu sangat makmur.
Banyak kabar yang beredar juga mengatakan bahwa Sonadhor hampir setara dengan istana besar Donadhor. Sebuah cerita menyedihkan untuk dua kerajaan yang pecah, dan memilih untuk saling bermusuhan.
Kota megah yang menjadi tempat berkumpulnya banyak ras, juga warga kerajaan lain, adalah tempatku harus melakukan misi. Kota itu juga begitu mengubahku menjadi pribadi yang takut menentukan pilihan, bahkan sampai saat ini.
Tuan Daeron tidak memberiku petunjuk, kiat, atau saran apa pun. Beliau hanya memerintahkanku untuk mengambil benda, yang wujudnya pun tidak dia deskripsikan.
"Kau akan tahu, begitu kau melihatnya," ujar Tuan Daeron kepadaku, tepat sebelum aku berangkat ke Sonadhor.
Hanya dengan pesan seperti itu, Tuan Daeron melepaskanku ke Sonadhor. Sebuah pesan yang jauh dari kata jelas, dan detail. Jika aku tidak mengenal Tuan Daeron secara pribadi, maka aku pasti tidak akan mau berangkat ke Sonadhor.
Sesampainya di Sonadhor, aku hanya bisa menunggu matahari terbenam. Aku tidak mungkin masuk ke istana Raja, di saat para prajurit masih berjaga dengan ketat.
Di dalam kota batu Sonadhor, semua pilihan sulit mulai terbentang di depanku. Hari itu, adalah sebuah hari yang sangat sulit untuk kulupakan.
Pilihan buruk pertamaku, adalah saat aku memilih untuk mengendap ke dalam istana Raja, alih-alih meminta secara terang-terangan. Semua itu disebabkan karena aku terlalu cemas dan khawatir, jika para prajurit malah akan menangkapku.
Dengan menunggu hingga datangnya malam, aku malah tampak seperti seorang pencuri, alih-alih elf klan Daeron yang sedang menjalankan misi. Padahal Tekoa memiliki hubungan baik dengan Sonadhor, sehingga aku tidak perlu mengendap masuk ke dalamnya.
Pilihan buruk yang dimulai dari kekhawatiranku, adalah awal mula dari semua hal buruk yang terjadi hari itu.
Dimulai dari para prajurit Sonadhor memaksa masuk ke penginapanku, dengan masuk ke kamarku membawa berbagai macam senjata. Mereka memaksaku untuk menyerah, dan memintaku untuk ikut ke istana Raja bersama mereka.
Aku seharusnya membiarkan mereka membawaku ke istana Raja, dan menghindari pertarungan yang tidak perlu dilakukan. Namun yang kulakukan hari itu, malah sebaliknya.
Pedang-panahku yang seharusnya kering, malah harus basah karena darah para prajurit. Malam itu, aku membunuh delapan prajurit Sonadhor yang masuk ke rumahku dengan paksa. Bahkan setelahnya, aku malah menyembunyikan mayat mereka di dalam kamar penginapan.
Beragam pilihan buruk terus menerus diambil oleh setiap bagian tubuhku, setelah aku membunuh para prajurit itu.
Aku keluar dari kamar penginapan, melalui jendela yang mengarah ke jalan sempit yang langsung mengarah ke istana Raja. Di perjalanan ke istana, aku bahkan membuat sepuluh prajurit tak sadarkan diri. Beberapa karena pukulanku yang mengarah ke kepala mereka, dan sisanya karena kepala mereka kugetok dengan gagang pedang.
Malam itu, puluhan prajurit Sonadhor yang tak bersalah, tergeletak di tanah dingin kota itu. Semua itu hanya karena aku memilih pilihan yang buruk sejak awal. Sebuah pilihan yang seharusnya kupikirkan baik-baik, terutama tentang semua dampaknya.
Misiku memang selesai. Aku berhasil membawa pulang sebuah tongkat kayu yang nantinya akan menjadi sumber sihir utama bagi Tekoa. Namun bukan hasil itu yang penting, melainkan setiap proses yang harus kujalani untuk mendapatkannya.
Tuan Daeron memuji keberhasilanku. Warga Tekoa memperlakukanku bak seorang pahlawan, karena tongkat itu berhasil membuat api yang terus menyala di tengah desaku. Briaron malah menyerahkan dua pasukan klan Daeron di bawah pimpinanku, dan dia berjanji tidak akan ikut campur terhadap dua pasukan itu. Semua berjalan baik. Namun itulah awal dari tragedi besar, yang sebenarnya disebabkan olehku.
Banyaknya prajurit yang tak sadarkan diri, bahkan tewas pada malam aku melakukan misi di Sonadhor, berdampak pada keamanan kota itu.
Beberapa minggu berselang, aku mendengar kabar bahwa perpustakaan Sonbliote di Sonadhor terbakar habis. Kabarnya, tidak ada yang tersisa dari tempat itu, bahkan semua catatan penting yang hanya memiliki satu salinan. Termasuk sebuah buku yang berisi ramalan seorang Anx dari Baal, Xenia pelindung pengetahuan.
Setelah Sonbliote terbakar, semua hal semakin bertambah buruk untuk Donater Utara. Mereka dituduh membuat konspirasi yang berujung kepada hilangnya semua catatan berharga. Padahal, semua kerajaan di Adon telah mempercayakan buku dan catatan rahasia mereka, kepada Sonadhor.
Halingga menjadi kerajaan pertama, yang menolak masuknya warga Donater Utara. Ratu Sima yang menjabat di masa itu, bahkan menutup sungai Simadhor dari para warga, prajurit, bahkan utusan Donater Utara.
Tindakan Halingga diikuti oleh banyak desa-desa kecil, yang ada di bawah kekuasaan Donater Selatan. Ujungnya, Donadhor juga memutuskan hubungan secara sepihak kepada Sonadhor. Sebuah tamparan telak bagi Sonadhor, karena bisnis pemotongan kayu yang menjadi andalan mereka, pelan-pelan mulai berhenti.
Tidak sampai setahun setelah aku melakukan misi di Sonadhor, kota itu akhirnya ditaklukkan oleh Orc Barat. Sang Raja Donater Utara diasingkan ke desa terpencil di selatan Adon, sedangkan seluruh warga Sonadhor dipaksa keluar dari kota, dan mengungsi ke desa-desa kecil di sekitar Sonadhor.
Yang paling buruk adalah saat aku mendengar bahwa semua desa kecil di Sonadhor, sudah tidak memiliki penduduk sama sekali. Selama puluhan tahun, aku menganggap bahwa mereka meninggalkan Donater Utara demi kehidupan yang lebih baik. Ternyata aku salah besar.
Peperangan di Adijaya membuatku sadar, bahwa seluruh pengungsi dari Sonadhor malah diubah menjadi Ogrotso oleh si penyihir agung yang gila, Tequr Lolazar. Satu pilihan buruk dariku, telah berdampak buruk bagi sebuah kerajaan besar.
Karena itu, aku tidak lagi mau untuk memimpin pasukan atau kelompok kecil sekali pun. Aku taku pilihan dan keputusan yang aku buat, malah membawa kehancuran.
Sekarang, seorang Xenia pelindung cinta, nafsu, dan harapan, sedang menawarkan sesuatu yang sangat besar. Menjadi wakilnya di Ueter, hingga mewarisi kekuatan dan kemampuan terbaiknya. Kali ini, bisakah aku mengambil keputusan yang berdampak baik untuk masa depan?
"Sudah selesai berpikir?" tanya Eion. Sang Xenia menaikkan alisnya, sembari menggoyangkan mata panah dengan rumbai merah yang berada di telapak tangannya. "Benda ini menunggumu untuk mengambilnya dari tanganku."
Aku masih belum bisa mengambil keputusan. Anx bukanlah peran yang bisa diambil tanpa strategi dan rencana yang matang. Menjadi Anx, akan membuatku memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
Bukan hanya menjadi wakil dari Eion, aku juga harus memastikan bahwa semua perintahnya berhasil kulakukan. Hidupku akan berubah sepenuhnya, saat aku menyetujui permintaan Eion.
Pikiranku melayang ke banyak hal yang harus kukendalikan dan berada di bawah kuasaku, saat aku mengambil peran sebagai Anx. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku sanggup membuat keputusan yang baik, dan menjadi penyelamat bagi banyak orang?
"Kau tidak perlu menyelamatkan semua orang," ucap Eion geli. Dia memutar mata anak panah di tangannya, untuk mengarahkan bagian belakangnya ke depan telapak tanganku. "Kau hanya perlu melakukan semua hal yang dikatakan oleh hatimu."
Aku memandang Eion dengan cukup terkejut. "Maksud Anda?" tanyaku.
Wanita itu mengangkat bahunya pelan. "Aku adalah Xenia pelindung cinta, nafsu, dan harapan, sehingga aku tidak akan terlalu banyak memberimu perintah," terangnya. "Tiga hal itu, hanya ada di dalam pikiran setiap pribadi."
"Sebagai Anx dari seorang Xenia, kau memang harus menjadi wakilku. Namun tugasmu bukanlah sesuatu yang sulit." Eion menjentikkan jarinya, dan segala hal di sekitarku kembali berubah.
Kali ini, dia membawaku ke sebuah jalan utama, yang dekat dengan sebuah kota yang sangat megah di kejauhan. Aku sangat yakin bahwa kota itu bukanlah kota yang pernah kulihat.
"Itu adalah Una Vujic, kota para Raja," terang Eion lirih. "Sarang bagi semua orang paling serakah, kotor, bernafsu tinggi, dan pusat bagi semua kebencian. Singkatnya, kota itu adalah target utama yang ingin kuhancurkan."
Aku menoleh kepada Eion. Wanita itu bersungguh-sungguh akan semua ucapannya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat membenci Una Vujic, namun dia tidak bisa berbuat apa pun.
Semua tawa geli, dan tingkahnya yang terkesan seperti anak kecil yang bermain-main, langsung hilang seketika. Kebahagiaan Eion menghilang karena melihat Una Vujic.
"Tequr membawa sahabat baruku ke kota ini," ucapku pelan, hingga hampir terdengar seperti sebuah bisikan. Aku tidak mau merusak perasaan Eion lebih lagi, terutama karena dia sedang dikuasai oleh amarah.
"Aku tahu," ujarnya sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Begitu pun Amicia Ekkehard, sang penentu perang Adijaya. Kedua orang itu ada di dalam Una Vujic."
"Amicia?" pekikku secara otomatis. "Mengapa gadis itu juga berada di sana?"
Eion menunduk muram. "Ada banyak hal yang perlu dihindari oleh seorang Xenia," katanya. "Salah satunya, adalah menghindari ikut campur akan urusan para makhluk di Ueter."
"Menjawab pertanyaanmu, akan membuatku melanggar kodratku sebagai seorang Xenia. Namun percayalah padaku, bahwa bibirku begitu gatal untuk menceritakan semua yang kuketahui sebagai Xenia," sambungnya dengan suara yang semakin pelan.
"Semua yang akan terjadi di Ueter, sudah merupakan takdir dari Dia yang Berkuasa. Para Xenia tidak diizinkan untuk ikut campur dalam perang, perebutan kekuasaan, atau pengkhianatan yang terjadi di sepenjuru Ueter. Kami hanya boleh melihat semuanya dari jarak sejauh ini."
"Kami, para Xenia, seringkali dianggap tidak memiliki kepedulian dan cinta. Padahal, dua hal itu adalah alasan sebagian besar dari kami masih bertahan menjadi seorang Xenia. Kami mengasihi semua kehidupan yang ada di Ueter, terutama kalian. Elf, kurcaci, dan manusia."
"Lalu, apa yang Anda mau dariku, jika aku setuju menjadi Anx bagi Anda?" tanyaku.
"Sederhana," jawabnya cepat. "Jadilah hakim yang adil, untuk segala hal yang terjadi di depanmu. Hukumlah pribadi yang menggunakan cinta, nafsu, dan harapan mereka, untuk menyakiti pihak lain."
"Buatlah semua pribadi yang merendahkan cinta, memuja nafsu, dan memberi harapan kosong kepada orang lain, menjadi pribadi yang sangat menderita selama sisa hidupnya. Itulah tugas yang kuberikan kepadamu, sebagai Anx pertamaku," tegasnya.
"Bagaimana caraku menghukum mereka?" balasku tajam. "Apakah dengan membunuh mereka? Anda mau seorang elf yang enggan untuk mengambil nyawa orang lain, malah menjadi pembunuh bagi puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang? Jika itu keinginan Anda, maka saya harus menolak tawaran ini."
Di antara semua hal yang diucapkan oleh Eion, aku paling tidak bisa menerima tentang menjadi hakim bagi ras lain. Aku tidak pernah menginginkan untuk duduk di kursi tinggi, dan mengadili banyak pribadi.
Aku memang mencintai kedamaian, namun aku bukanlah seorang maniak. Aku akan melakukan sesuatu yang kuanggap benar, tanpa perlu melanggar prinsip yang aku buat sendiri. Itulah caraku hidup sampai sekarang.
Penolakanku yang terlalu keras, ternyata malah membuat Eion tertawa kecil. "Mendengar jawabanmu, membuatku semakin yakin bahwa kau adalah Anx terbaik bagiku," katanya bangga. "Daeron telah mendidikmu dengan begitu baik, hingga kau tumbuh menjadi seorang elf yang hampir setara dengan Silinde."
Sebelum aku membalasnya, Eion sudah langsung melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak memintamu untuk membunuh, atau melakukan kekerasan," katanya geli. "Aku adalah pelindung cinta, dan cinta tidak pernah menyakiti. Yang kuminta, lebih buruk dari sekedar pembunuhan."
Lebih buruk dari pembunuhan? Apakah ada sesuatu yang lebih buruk daripada mengambil nyawa orang lain?
"Tidak merasakan aku," ucapnya dengan senyum lebar, yang entah kenapa, terasa begitu hangat.
"Aku memiliki kekuatan untuk membuat seseorang gagal merasakan cinta, nafsu, dan harapan. Aku juga bisa mengambil itu dari mereka, dan membuat hidup mereka menjadi hampa." Eion menunjuk ke arah langit. "Dia yang Berkuasa, menentangku melakukannya. Menurut-Nya, perbuatanku terlalu jahat."
"Selama ribuan, bahkan puluhan ribu tahun, aku tidak mengerti alasan Dia yang Berkuasa, melarangku melakukannya. Padahal jika aku diberi izin, maka tidak akan pernah terjadi perang di seluruh pulau yang ada di Ueter."
"Kau bisa bayangkan, jika Tequr tidak memiliki nafsu? Atau kau bisa bayangkan, jika Ratu Sima tidak memiliki harapan untuk menyatukan Adon di bawah bendera Halingga?" sambungnya tajam.
Aku terdiam, karena semua yang dikatakan Eion memang benar. Kuasanya sebagai Xenia, ternyata adalah salah satu yang sangat besar. "Tidak ada perang di Adijaya, dan Sonadhor akan tetap berdiri teguh," jawabku pelan.
Eion mengangguk tegas. "Itulah maksudku," katanya. "Aku akan memberimu kuasa, untuk mengambil salah satu dari tiga hal itu, dalam diri seseorang yang kau inginkan. Hanya tanggung jawab sederhana, namun sangat kuat."
"Semua orang?"
"Tidak," sela Eion. "Kau hanya bisa melakukannya, dengan syarat yang sama beratnya."
"Apa?"
Sang Xenia mengangkat mata anak panah di tangannya, dan mendekatkan benda itu ke depan mataku. Jumbai dari kain berwarna merah yang ada di ekor mata anak panah itu, dicabut oleh Eion hingga hanya tersisa tiga jumbai.
"Satu jumbai merah yang kau cabut, adalah satu aspek di antara cinta, nafsu, dan harapan, yang ingin kau hilangkan dari dalam dirimu," paparnya.
"Untuk menghentikan perang, atau mengalahkan musuh yang terlalu kuat, kau perlu mengorbankan sesuatu yang sepadan. Satu nama, akan ditukar dengan satu aspek penting dalam hidupmu. Benda ini akan langsung menghilangkannya dalam dirimu"
"Kau bisa menghilangkan nafsu Tequr untuk menguasai Adon, namun kau juga harus kehilangan nafsu terbesarmu. Yaitu menjadi elf yang memicu kedamaian di mana pun kau berada." Eion mengangguk, tepat di saat aku menelan ludah. "Benar, kau bisa berubah menjadi elf haus darah, karena kau tidak lagi memiliki nafsu untuk menjaga kedamaian."
Aku tidak bisa membalas perkataan Eion. Namun, aku tahu apa yang harus kulakukan. Setelah menarik napas panjang, aku mengambil anak panah dengan tiga jumbai itu dari tangan Eion.
Pertukaran yang mungkin akan kulakukan, memang terdengar begitu berat. Tetapi aku bisa menjaga kedamaian, jika aku memiliki benda ini di dalam sakuku. Mungkin aku tidak perlu menggunakannya sama sekali, jika aku berhasil mengalahkan Tequr.
Intinya, aku akan mengambil lambangku sebagai Anx bagi Eion, karena aku ingin memastikan semua kemenangan akan jatuh kepada pihak yang baik.
"Kau mengambil tanggung jawab ini?" tanya Eion dengan nada datar, namun wanita ini tidak bisa menyembunyikan binar di sorot matanya.
"Aku tidak perlu menarik jumbai ini, jika aku bisa menyelesaikan semua masalah, bukan?" balasku.
Eion tersenyum sinis. "Kau pasti akan menggunakannya," katanya yakin. "Kekuatan sebesar ini, tidak mungkin akan kau abaikan begitu saja."
Mungkin Eion benar, namun mungkin dia juga salah. Ada kalanya, kekuatan besar hanya digunakan untuk menakuti dan memberi tekanan kepada pihak lain. Bukan untuk digunakan.
Apa pun yang terjadi nanti, aku akan menyerahkannya kepada hatiku sendiri. Aku bisa saja berharap untuk tidak menggunakannya, namun keadaan tidak selalu semulus itu. Hal-hal buruk bisa saja terjadi, jika aku melewatkannya sebentar saja.
Mulai saat ini, aku sudah memiliki peran baru, sekaligus tanggung jawab baru. Semoga aku bisa mengemban tanggung jawab ini dengan baik.