Setelah kejadian di pantai, Siti tidak bisa menghilangkan wajah Arga dari benaknya. Meski masih merasa kesal dengan apa yang dilakukan pria itu, dia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang membuatnya penasaran – apakah benar dia tidak tahu kawasan itu terlindungi, atau hanya mencari alasan untuk mengambil koral?
Siang itu, suara mobil yang keras mengganggu ketenangan Desa Pangandaran Lor. Sebuah mobil putih mewah berhenti di depan balai desa, dan dari dalamnya keluar beberapa orang berpakaian resmi, termasuk Arga yang dikenalnya pagi tadi. Siti yang baru saja pulang dari pantai dengan hasil tangkapan ikan bersama neneknya, langsung berhenti di tengah jalan sambil menatap mereka dengan tatapan tajam.
“Mbak Siti, itu orang yang tadi di pantai kan?” bisik Joni yang lagi bermain dengan teman-temannya di depan rumah.
Siti mengangguk perlahan, lalu berjalan menuju balai desa dengan langkah yang mantap. Di depan pintu balai, beberapa orang tua desa sudah berkumpul, termasuk Pak Sukardi – kepala desa yang sedang menerima kunjungan dari perusahaan tersebut.
“Selamat siang, Pak Sukardi,” ucap Arga dengan sopan saat melihat kepala desa datang keluar. “Kita ingin membahas detail lebih lanjut tentang proyek pembangunan wisata yang sudah kami usulkan sebelumnya.”
Pak Sukardi mengangguk, namun wajahnya terlihat ragu. “Kita sudah mendengar penjelasan Anda, Mas Arga. Tapi banyak masyarakat yang masih khawatir tentang dampaknya pada laut kita.”
Saat itu, Siti mendekat dan berdiri di depan kelompok mereka. “Dampaknya bukan hanya khawatir, Pak Sukardi. Kalau proyek ini diteruskan, nelayan tidak akan bisa menangkap ikan lagi, terumbu karang akan hancur, dan laut yang kita cintai akan hilang selamanya!”
Arga menoleh ke arahnya, ekspresinya menjadi lebih serius. “Saya mengerti kekhawatiran Anda, Nona… Siti, kan? Tapi proyek ini akan memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa. Banyak anak muda yang tidak perlu lagi pergi ke kota mencari kerja.”
“Lapangan kerja yang dibutuhkan bukan yang membuat kita merusak rumah sendiri!” jawab Siti dengan nada tinggi. “Anda tidak mengerti betapa pentingnya laut ini bagi kita!”
Pak Sukardi mengangkat tangan untuk menenangkan keduanya. “Baiklah, baiklah. Mari kita bicarakan ini dengan tenang di dalam balai desa saja. Semua orang boleh ikut serta agar kita bisa menemukan solusi yang terbaik untuk semua pihak.”
Arga melihat Siti sebentar sebelum masuk ke dalam balai, dan kali ini dia melihat bukan hanya kesal di mata wanita itu – tapi juga kebenaran yang membuat hatinya sedikit terguncang. Saat mereka memasuki balai desa bersama-sama, Arga mulai bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar memahami apa yang akan hilang jika proyeknya berjalan.