“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Kata Timur
“Kenapa kamu melempar kaleng minuman itu lengkung seperti itu?” Kata Tebing mengomentari gerakan yang dilakukan Timur dalam membuang bekas kaleng minuman yang telah di belinya di perjalanan sepanjang taman dengan seakan bagaikan seorang quarterback yang sedang mewujudkan lemparan hail mary passing plays.
“Kemana kita akan berjalan setelah ini.”
“Kita kayaknya sudah harus mulai memperbarui julukan-julukan yang disematkan untuk negara kita ini, yang mungkin dengan itu Kita dapat merencanakan sesuatu dengan realitas yang lebih up to date” Kata Tebing mengambil inisiatif pembukaan pembicaraan atas suatu pembicaraan yang sudah di lontarkan sebelumnya, mengenai suatu obrolan yang baru seperti
“seperti apa? Kamu belum menjawab pertanyaanku?”
“Negeri setengah warung kopi mungkin atau kalau lebih ingin tampak keren bagi generasimu dan aku, Negeri kedai Kopi mungkin. Tentang apa?” kata Tebing.
“Daripada Kamu sibuk dengan yang sungguh masih sangat jauh, sepertinya kita lebih harus memperbarui mengenai perbendaharaan kata yang kamu miliki deh, ayolah Tebing warung kopi, kedai kopi come on.” Kata Timur.
“Aku sungguh-sungguh kali ini”
“Pikirmu Aku tadi bercanda apa, Kemana kita akan pergi Tebing?”
“Kita akan menyusuri setiap jalan yang terasa menggoda sepasang mata bola pingpong.”
“Sejak kapan kamu menggunakan kata-kata yang sama sekali tak memiliki makna dan akan sampai kapan kamu mempertahankan selera musikmu yang sudah sangat ketinggalan zaman itu”
“Sejak beberapa langkah yang barusan kita lewati setelah kamu mengabaikan keinginanku, dan untuk pertanyaanmu yang terakhir, justru kamu yang harus menjawab apakah kamu siap menemui seseorang yang lain dari yang sekarang ini sedang bersampingan berjalan denganmu.”
“apa”
“Kamu sudah mengabaikan keinginanku mendengarkan imajinasimu Timur mengenai pertanyaanku kenapa kamu melempar kaleng minuman seperti demikian tadi Timur? Seseorang akan berubah dengan begitu cepat Timur saat mereka merubah selera ataupun mereka telah lama tak menikmati kesukaan yang membentuk diri mereka.”
“Oh Berarti kamu masih tak berubah Tebing, kamu masih selalu tertarik dengan imajinasi atau tepatnya kamu selalu membuatku berpikir untuk menyiapkan imajinasi yang kuciptakan untuk kamu nikmati, tapi aku tak bisa mengeluh ya bagaimana lagi. kita sama-sama tau bahwa kamu adalah manusia tanpa imajinasi dan juga ambisi.”
“Bisakah kamu langsung saja menjawab pertanyaanku, tanpa harus membuatku tersipu MARAH”
“Nah kan sungguh manusia tanpa daya kreasi sedikitpun, tak bisakah alih-alih menungguku menyiapkan imajinasiku untukmu kamu coba untuk menciptakan imajinasimu sendiri.”
“Hehehe Timur sudahlah terserah dirimu”
“Kamu harus sabar terlebih dahulu Tebing, Aku harus melepaskan kekesalanku dahulu.”
“Soal selenic dan lunar?”
“Come on Tebing, Kamu adalah manusia yang tak akan melewatkan omongan, terlebih seseorang yang sedang berduaan denganmu di jalan ini Tebing, dan kita sama-sama tahu bahwa kamu hanya tak mau membalas perasaanku saat kubilang bahwa aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Kata Timur.
“Aku sudah membalasnya dalam hatiku, Aku hanya tak ingin tuhan secara langsung mendengarnya, kita berdua tahu bahwa tuhan yang bapakmu biasa sebut dengan ‘si bos’ sangat sewenang-wenang terhadap orang yang tanpa ambisi sepertiku, dan kamu tahu betul dengan fakta itu, ah dasar manusia tanpa satupun kemenangan, bahkan tak juga ada kemenangan yang sekecil-kecilnya, mengapa malam menjadi begitu menyebalkan Timur?”
“Aku melempar kaleng dengan demikian agar kaleng itu terlihat jatuh dengan penuh keindahkan dan juga dapat menarik setiap pandang yang dimiliki siapa saja manusia yang ada di sekelilingnya Tebing.” Kata Timur.
“Kurang Timur, sangat kurang, kreatifitasmu untuk yang satu ini sungguh sangat disayangkan sama sekali, hahaha dan itu terjadi karena kamu terlalu memaksakan unsur untuk menghibur perasaanku”
“Hahahaha.” Tebing Timur.
“Terlebih lagi dengan caramu melempar dengan demikian justru orang-orang akan lebih memperhatikanmu Timur, dan kaleng pun menjadi akan tiada lagi.” kata Tebing.
“Kata siapa itu, justru karena ada kaleng lah orang-orang memperhatikan, walaupun juga Aku tak akan mengelak bahwa wajah cantik serta putih kulit dan merah pipiku yang mampu membuat orang-orang menetapkan pandangannya menjadi lebih lama.”
“pipimu tak merah sama sekali.”
“Namun? Lanjutkan kalimatmu, jangan samapai kalimat ini terputus sampai ini sahaja hanya karena kamu terlalu takut untuk menemu kemungkinan akan suatu kata yang sebenarnya sudah kamu temukan kalimatnya, ayolah tak ada salahnya membuka sebuah kemungkinan yang sebelumnya sudah ada.” Kata Timur
Tebing mengeluarkan napas singkat namun dengan penekanan diringi dengan tawa tipis dan bergetar, ketika menyadari bahwa wanita ini sedang bermain-main dengan apa yang Tebing sejak tadi sudah dia coba berulang kali coba ingkari. Namun wanita ini sungguh sangat mengetahui mengenai apa yang disebut dengan gerak-gerik manusia serba mudah tertebak.
“Kalau soal wajah dan putih serta kesemampaian tubuhmu dibalut dengan segala macam pakaian yang dikenakannya yang bahkan aku tak sanggup menyanggahnya, tapi bukankah kehadiranmu justru hanya menambah kesedihkan untuknya”
“Kenapa Kamu mengatakannya tanpa ada satupun kalimat metaphor yang mengikutinya, kamu hanya mengatakan yang benar-benar ada dan dengan apa adanya, bukankah sudah kukatakan bahwa semua harus diolah terlebih dahulu sebelum dapat dibiarkan lepas.” kata Timur seakan mengatakan hal yang sudah jelas akan sesuatu dalam diri orang yang sedang berada dan berjalan disampingnya, tapi kekecewaannya, atau mungkin keseakan-akanan kecewa itu hanya tak lebih dari beberapa langkah jejak kaki dan suasana pun kembali berlanjut.
“ Dan ‘dikenakannya’ yang kamu kenakan mungkin itu maksutmu, bapak sungguh tidak mampu mengajarimu sama sekali tentang tata kelola bahasa, hehehe dan tentang mengenai bahwa kehadiranku justru menambah kesedihan untuknya, siapa juga yang bilang kita dapat terhindar sama sekali dari sesuatu yang kita sebut dengan kesedihan. walaupun kita berdua beserta sekaleng minuman ini merupakan makhluk yang benar-benar menyedihkan, namun setidaknya kita bukan seseorang ataupun sekaleng minuman yang harus sampai meminjam bahu orang lain untuk dapat menutupi tangisan kita Tebing.” Lanjutnya.
“Tapi kaleng minuman itu telah meminjam kedua tanganmu Timur untuk melenyapkan tangisannya” Kata Tebing.
“Bukan itu maksudku, maksudku adalah bahwa kita tak musti harus sampai melampiaskan kesedihan kita kepada sesuatu hal atau pun seseorang yang sama sekali kita tak ketahui, kaleng itu dengan tanganku dan kamu dengan ku. Mau kemana kita Tebing?”
“Aku setuju dengan kalimatmu di sebelum kata yang kamu gunakan untuk menutupinya, kaleng itu dengan tanganmu dan kamu denganmu, aku masih menganggap hal itu sebagai pengharapan, dan sejak kapan kamu sekarang mencoba menjelaskan maksud dari perkataanmu?”
“apakah sekarang kita akan menutupi apa yankg sebenar ingin kita ucapkan dengan sebuah pertanyaan yang tidak adapun semerstinya tak apa?”
“Aku senang kamu ada di sini Timur bersamaku, itu yang ingin aku katakan. Kamu mungkin harapan yang terakhir ada untuk membawaku kembali ke apalah ini kita berada.”