Tari tahu harga sebuah keberuntungan, dan menurut perhitungannya, keberuntungan hari itu berharga lima puluh ribu rupiah.
Konter ponsel bekas di lantai dua Pasar Genteng itu sempit, pengap oleh bau lem dan keringat. Etalasenya berisi puluhan ponsel tua yang ditata seperti ikan asin di nampan; ada yang baterainya menggembung, ada yang tombolnya hilang, ada yang layarnya berembun dari dalam. Tari mengurut isi dompetnya dengan ibu jari, dan tahu persis berapa yang tersisa sampai gajian berikutnya. Tidak banyak. Tidak cukup untuk ponsel layak.
"Yang ini berapa, Mas?" Ia menunjuk sebuah ponsel hitam di pojok, terselip di antara yang lebih mengkilap.
Penjaga konter, lelaki muda dengan rokok terselip di telinga, mengambilnya dan mengusapnya ke kaus. "Oh, yang ini murah, Mbak. Layarnya retak soalnya." Ia menyodorkannya.
Layarnya memang retak. Sebuah garis tajam membelah kaca dari sudut kanan atas ke tengah, lalu pecah menjadi jaring-jaring halus seperti sarang laba-laba. Tapi bodinya mulus, dan ketika penjaga menekan tombol daya, layar menyala. Retakannya membelah cahaya menjadi serpihan-serpihan kecil, tapi semua masih terbaca.
"Lima puluh ribu," kata penjaga. "Mesin sehat, Mbak. Cuma kaca. Saya kasih murah karena tampangnya jelek."
Tari menimbang ponsel itu di telapak tangannya. Dingin. Lebih dingin dari yang ia kira untuk benda yang baru saja menyala. Ia membalik-baliknya, mencari cacat lain, dan tidak menemukan. Di bagian belakang ada bekas stiker yang sudah dikelupas, meninggalkan bayangan lem berbentuk persegi.
"Punya siapa sebelumnya?" tanya Tari, entah kenapa.
Penjaga mengangkat bahu. "Banyak yang masuk ke sini, Mbak. Saya nggak hapal satu-satu. Yang ini... " Ia berhenti sebentar, seakan mencoba mengingat, lalu menggeleng. "Lupa. Pokoknya udah di-reset, bersih. Mau ambil, nggak?"
Tari memandang retakan itu sekali lagi. Di kos sempitnya di Gang Mawar, ponsel lamanya sudah sekarat; layarnya mati separuh dan bertahan hanya dengan colokan. Ia butuh ini. Lima puluh ribu adalah angka yang masuk akal untuk seorang penjaga toko swalayan yang menabung receh demi sebuah jurusan yang mungkin tak pernah ia selesaikan.
"Ambil," kata Tari.
Penjaga tersenyum, memasukkan ponsel ke kantong plastik bening. Saat ia menyerahkannya, untuk sepersekian detik, jarinya menyentuh jari Tari, dan lelaki itu menarik tangannya cepat-cepat, seakan tersengat. Ia tertawa kecil, canggung. "Hati-hati di jalan ya, Mbak."
Tari mengangguk, menyelipkan plastik ke dalam tasnya, dan turun menyusuri tangga pasar yang licin. Di luar, langit Surabaya berwarna timah, dan klakson saling bersahutan seperti percekcokan yang tak pernah selesai. Ia menunggu di halte, dan dalam keramaian itu, ia mengeluarkan ponsel barunya.
Layar menyala saat disentuh. Pukul 16.42. Sinyal penuh, walau kartunya belum diganti. Aneh, pikir Tari sekilas, lalu mengabaikannya. Ia membuka menu, menjelajah, menyukai betapa cepat mesinnya merespons untuk barang semurah ini. Penjaga tadi tidak bohong soal itu.
Di daftar kontak, kosong. Bersih, seperti katanya.
Hanya saja, saat Tari menggulir ke bawah sampai ujung, ada satu nama yang tertinggal di sana, sendirian di dasar layar yang retak.
Namanya sendiri.
TARI.
Huruf kapital semua. Tanpa nomor yang tampak, hanya nama itu, terpampang seperti pantulan. Tari mengernyit. Mungkin penjaga lupa menghapusnya. Mungkin pemilik lama kebetulan juga bernama Tari. Surabaya besar; nama itu tak istimewa. Ia menekan kontak itu, dan layar memuat sebentar, lalu menampilkan ruang percakapan kosong.
Bus datang. Tari memasukkan ponsel ke saku jaketnya, naik, dan mencari tempat berdiri di antara para penumpang yang lelah. Ponsel itu bergetar di sakunya, sekali, pelan.
Ia tidak sempat mengeceknya sampai turun di Gang Mawar, dan ketika ia mengeceknya, di ruang percakapan dengan kontak bernama TARI, ada satu pesan yang belum dibaca.
Pesan itu berbunyi: *Selamat datang di rumah, Tari. Kita akan sering bicara.*
Ia berdiri di mulut gang, di bawah lampu yang baru menyala, membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia tertawa, satu tawa pendek yang tak ia percayai sendiri, dan berkata pada layar yang retak, "Iseng amat orang ini."
Di kejauhan, azan magrib mulai bersahutan. Tari mengantongi ponselnya dan berjalan pulang, tanpa tahu bahwa garis-garis retak di layar itu, jika diperhatikan baik-baik, sedikit demi sedikit, bertambah panjang.