Kamis datang.
Kamis malam. Malam Jumat, begitu sebagian orang menyebutnya. Malam yang dianggap sakral bagi sebagian orang. Apalagi jika kebetulan malam tersebut bertepatan dengan Jumat Kliwon. Bagi sebagian lainnya, menganggap jika malam Jumat adalah waktunya untuk melaksanakan sunnah rasul.
Leevi yakin, malam ini bukanlah malam Jumat Kliwon. Tapi kenapa di sekitarnya seperti ada aura tidak mengenakkan yang menyelubungi atmosfer di sekitar mereka?
“Mas, ini malam Jumat loh. Nggak ada kepikiran buat maljuman sama orang rumah, gitu?”
Leevi mendelik ganas. Sementara yang dipelototi malah bersikap tak peduli. Azka dengan sikap kekanakannya benar-benar menyebalkan. Danish hanya tersenyum kikuk, menatap bergantian antara Leevi dan Azka. Sesekali pada satu wanita lainnya, mereka berdua asing baginya.
Menatap Leevi dengan sorot meminta penjelasan. Leevi tersenyum kikuk, berusaha mencairkan kebekuan yang terlanjur tercipta akibat celetukan tak tahu tempatnya Azka tadi.
“Dia ... temen aku. Maksa ikut, katanya belum pernah sekali pun pergi ke Pasar Malam,” jelas Leevi pasrah.
Danish membuka mulutnya sedikit dengan ekspresi paham. Tatapan Danish kemudian mengarah ke arah wanita yang datang bersama Azka. Melirik Leevi lagi, meminta penjelasan.
“Kalau dia ... aku juga gak tau dia siapa,” ujar Leevi menyahuti tatapan penuh tanya barusan. Ikut menatap ke arah wanita itu.
Sebelumnya ia tak terlalu peduli dengan wanita asing yang datang bersama Azka. Bahkan sebuah pemikiran terlintas di benaknya, berharap jika nantinya Azka dan wanita itu akan memisahkan diri dari rombongan mereka.
Jadi dia masih bisa melanjutkan kencannya bersama Danish, membangun kembali mood yang keburu hancur diganggu oleh kedatangan Azka.
Tapi sekarang, setelah diperhatikan baik-baik, Leevi akhirnya ingat. Ah, bukankah ini wanita yang dulu pernah menyambangi rumahnya setiap hari? Menatap ke bagian dalam rumah, berdiri di luar, di seberang jalan tanpa melakukan apa-apa.
Wanita yang mengejar-ngejar Azka. Wanita yang sama yang juga pernah ia pergoki tengah berduaan dengan Azka di mal. Wanita yang pernah menjadi alasannya untuk marah-marah ala istri yang tersakiti di stasiun TV sebelah.
Siapa sebenarnya wanita ini? Menilik dari pakaiannya, setelan kemeja berpotongan longgar warna peach, tas bermerek berwarna merah dipadu celana panjang longgar warna hitam. Dilengkapi sepatu hak tinggi yang Leevi tak tahu namanya, berwarna merah terang mengkilap tertimpa sinar lampu.
Dandanan wanita ini natural namun elegan. Rambut panjangnya diikat pony tail, sedikit menutupi kening. Cantik. Bahkan sanggup membuat Leevi dilanda minder hanya dengan berdiri bersisian saja.
“Teman,” ujar Azka demi menangkap raut penuh tanya dari Leevi dan Danish. Wanita itu mendelik sebal pada Azka sebelum mengangguk dan tersenyum ramah pada Leevi dan Danish.
“Halo, aku Jesse. Teman sekantornya Azka. Nggak apa-apa kan kalo aku ikut gabung bareng kalian?” ujar wanita itu memperkenalkan diri. Sopan. Berbanding terbalik sekali dengan perkenalan dari Azka sebelumnya.
Azka bersikap acuh tak acuh, menganggap wanita menawan itu antara ada dan tiada. Tidak mempengaruhinya sama sekali.
Padahal kalau diperhatikan, Azka lebih serasi bersama Jesse. Memang, hal itu hanya berdasarkan dari penilaian sekilas. Meski begitu, penilaian berdasarkan pandangan sekilas bukannya dapat menjadi awal dari segalanya?
Leevi sungguh tak mengerti pemikiran Azka. Menilik dari keakraban yang meskipun timpang—Jesse yang lebih banyak aksi sementara Azka ogah-ogahan—dapat disimpulkan jika mereka cukup akrab.
Seharusnya Azka bersama orang ini, bukannya malah bersamanya. Perbedaan antara Leevi dan Jesse saja sudah seperti langit dan bumi.
“Gak apa-apa kan? Leevi?” lamunan Leevi buyar kala merasakan guncangan pada bahunya. Menatap ke sekitar, yang barusan mengguncang bahu dan menegurnya adalah Danish.
Danish. Memegang bahunya.
Pipi Leevi merona seketika. Untungnya ia masih ingat untuk menjawab pertanyaan barusan dengan anggukan singkat. Melirik malu-malu salah tingkah pada wajah Danish yang terasa begitu dekat. Sebelum tiba-tiba sebuah tarikan di tangannya menjauhkan kedekatan tersebut.
Azka tiba-tiba menatap tajam pada kedua orang itu. Tatapannya tajam, membekukan, sebelum tiba-tiba tersenyum dingin. Melepaskan tangan Leevi setelah jarak antara Leevi dan Danish tercipta.
“Ayo, mau mulai dari mana dulu, nih?” ujar Azka seakan barusan tak terjadi apa-apa. Menatap sekelilingnya dengan raut gembira seakan-akan dia benar-benar baru kali itu pergi ke Pasar Malam. Tak memedulikan tatapan heran Danish, lirikan kesal Leevi atau tatapan lemah penuh pemujaan Jesse.
Dan, fix. Harapan Leevi agar mereka misah tidak pernah terwujud. Mulai dari permainan, stan makanan, sampai antre naik bianglala. Semua hal yang berbau pasangan, Azka tak pernah mau terpisah dari Leevi.
Jika kedapatan Leevi sudah mulai berdiri rapat bersisian dengan Danish, Azka dengan tebal mukanya akan berubah menjadi bola boling, menabrak tepat di tengah-tengah. Nyempil.
Danish tak mengatakan apa-apa meski jelas merasa terganggu oleh sikap Azka yang kekanakan. Hanya menutupi kekesalannya dengan senyum maklum.
Meski tetap, sesekali Danish melayangkan tatapan menusuk. Sementara Azka yang ditatap malah bersikap santai. Polos, pura-pura tak tahu apa-apa.
Yang paling sabar dalam rombongan mereka, tentu saja Jesse. Bahkan tidak sekali pun, wanita itu tak pernah mengeluh meski berkali-kali hampir ketinggalan rombongan. Atau mengeluhkan dirinya yang diperlakukan transparan seperti hantu oleh Azka.
Leevi kesal. Sejujurnya ia kasihan dengan Jesse. Jelas-jelas wanita itu berusaha keras untuk tetap berada di lingkungan di mana ia tak diharapkan berada di sana.
Berbeda sekali dengan Azka yang tak tahu malu. Jelas-jelas ini kencan milik Leevi dan Danish, tapi laki-laki itu nyempil-nyempil dengan begitu ‘sopannya.’ Sama-sama tak diharapkan hadir seperti halnya Jesse. Bedanya, Jesse lebih tahu diri.
Mungkin alasan inilah yang membuat Leevi memutuskan untuk naik bianglala hanya berdua dengan Jesse. Bukan dengan Danish, apalagi Azka. Leevi benar-benar merasa tak enak hati pada Jesse. Wanita itu ... Leevi tak tahu. Saat ini, dia hanya bertindak berdasarkan dorongan hati.
Jesse tak mengatakan apa-apa. Hanya diam, mata besarnya yang cantik terus memandangi Leevi penuh sorot bertanya. Bianglala bergerak naik, sangat pelan.
Kecanggungan menguar melingkupi atmosfer dalam ruang bianglala yang mereka tempati. Hingga seperempat bagian bianglala naik menuju puncak, Leevi menjadi orang pertama yang memecah kesunyian.
“Mengenai Azka ... tolong maafkan dia. Sikapnya benar-benar kekanakan.”
Jesse tak segera menyahut. Wanita itu masih terus memandangi Leevi, membuat gadis itu tak nyaman. Padahal jenis tatapan yang dilayangkan oleh Jesse bukanlah jenis tatapan merendahkan atau sesuatu yang menimbulkan rasa jengkel.
Poinnya adalah, tidak semua orang nyaman ditatapi sebegitu rupa tanpa alasan. Leevi adalah salah satunya. Diam-diam, gadis itu mulai menyesali keputusannya.
Seharusnya ia terus bersikap tidak peduli saja, kan? Bersikap seperti orang asing, toh bukan dia yang mengajak Jesse ikut dalam kencannya. Bukan salahnya juga bila kemudian wanita itu diperlakukan seperti tak ada oleh Azka.
“Seharusnya kamu nggak seperti ini,” kecanggungan akhirnya terpecah oleh kalimat yang dilontarkan oleh Jesse. Alis Leevi bertaut tanda heran, menatap Jesse tidak paham.
“Aku tahu Azka sudah menikah. Dengan kamu,” tambah Jesse dengan ekspresi tenang.
Bilik bianglala yang mereka tumpangi telah mencapai puncak. Pemandangan kota di malam hari terlihat luas dari ketinggian ini. Meski hanya berbentuk seperti kumpulan titik-titik bintang. Bedanya, bintang-bintang tersebut berada di atas permukaan bumi.
Jesse memalingkan tatapannya pada pemandangan tersebut, mengagumi apa yang tersaji lewat netranya. Sebuah senyum lembut menghiasi wajah seakan-akan menunjukkan betapa panorama yang tengah tersuguh benar-benar menghibur hatinya.
“Dan kamu justru jalan sama laki-laki lain,” masih tak melepaskan tatapannya dari pemandangan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, Jesse melanjutkan ucapannya.
Tidak memedulikan sorot mata Leevi yang menatapnya tajam. Kentara rasa tidak suka itu tergambar jelas dari raut wajah Leevi.
“Apa bedanya kamu yang malah terang-terangan mengejar laki-laki yang berstatus sebagai suami orang?” balas Leevi tajam. Wanita di depannya ini tak mengerti apa yang sudah dikorbankannya hingga titik ini. Leevi tak butuh simpati, tapi ia juga tak suka dinilai seenaknya.
Jesse masih bertahan dengan sikap tenang terkendali, tertawa hambar, menarik napas panjang di ujung tawa kering.
“Kamu benar. Setidaknya, laki-laki yang kukejar tidak pernah mengajak perempuan lain untuk kencan di luar. Setidaknya, aku tahu Azka nggak seperti laki-laki yang kamu kejar,” Jesse balas menatap lamat-lamat tepat pada bola mata Leevi.
Leevi mendidih. Apa-apaan sih, wanita ini? Dia pikir dia siapa sampai berani-beraninya bicara seperti itu?
“Hahaha, calm down. It’s okay. Aku nggak bermaksud menghakimi. Emang udah sifatku dari sononya suka ngomong blak-blakan. Azka juga bilang sifatku yang satu ini tuh menyebalkan. But I can’t help, can’t stop it tho.
Aku gak bisa pura-pura, aku cuma mau jujur sama diriku sendiri. Aku nggak nyalahin kamu karena apa yang aku lakuin juga bukanlah hal yang pantas dibenarkan,” jeda sesaat, Jesse mengambil napas.
“Aku cuma berharap, kamu bisa perlakukan Azka dengan baik. Coba lihat dia bukan dari sisi yang kamu selama ini pikirin tentang dia. Azka is a good guy.”
Bilik bianglala yang mereka tempati telah sampai di bawah. Leevi terlalu terpaku pada kekesalannya hingga tak menyadari hal itu. Pikirannya penuh.
“Leevi? Kamu gapapa?” teguran Azka yang buru-buru mengecek ke dalam bilik, raut khawatir kentara menghiasi wajahnya. Leevi tersadar. Gadis itu menggelengkan kepala, buru-buru keluar tanpa memedulikan tangan Azka yang terentang menunggu.
Di luar, Danish ikut menatapnya khawatir. Jesse berdiri tak jauh dari mereka, satu-satunya yang tak peduli dan malah asyik dengan ponselnya.
Ekspresinya santai seperti tak terjadi apa-apa. Leevi menatap wanita itu dengan pikiran rumit. Apa sih, maunya si Jesse ini sebenarnya?
Bukannya Jesse ini menyukai Azka? Jenis rasa suka yang sama seperti Leevi rasakan terhadap Danish. Rasa suka yang sampai pada taraf ingin memiliki—meskipun mustahil.
Lantas kenapa di akhir percakapan mereka, Jesse malah menyuruhnya untuk memperlakukan Azka dengan baik? Tidakkah wanita itu takut kalau nantinya angin berubah arah, Leevi tiba-tiba luluh oleh segala macam usaha Azka, kemudian batal bercerai ....
Apa yang Jesse akan dapatkan? Atau apakah wanita itu, secara tidak langsung mengatakan bahwa ia sudah menyerah terhadap Azka?
Jesse benar-benar tipe wanita yang sukar ditebak apa maunya. Leevi tidak berani mengambil kesimpulan apa-apa karena Jesse benar-benar merupakan seorang yang baru dikenalnya. Belum ia ketahui sifat, kebiasaan serta karakternya.
Leevi tak dapat menarik kesimpulan apa pun tanpa data pendukung. Apalagi jika menilik barusan, kesan pertama Jesse sebagai seorang wanita sopan langsung berubah menjadi wanita kompleks kala Jesse mulai berbicara.
Sejujurnya, ada beberapa tipe orang yang Leevi tandai berdasarkan sifat sopan mereka. Ada yang murni bersikap sopan karena sudah dari sananya. Ada yang bersikap sopan di luar tapi busuk di dalam. Dan tipe seperti Jesse yang sopan sekaligus blak-blakan di satu waktu.
Azka menyadari arah tatapan Leevi yang tak putus-putusnya menatap Jesse semenjak mereka keluar dari bilik bianglala. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres sejak Leevi dan Jesse berada di dalam bilik.
Tatapannya seketika melayang pada Jesse, menatap penuh curiga. Jenis tatapan khas seorang b***k cinta yang buru-buru menyalahkan orang lain di tempat pertama.
Alih-alih mencari kebenaran lebih dahulu, rata-rata para b***k cinta akan lebih dahulu mendukung kekasih hatinya membabi-buta.
Sayang, objek yang sedang ditatap justru tidak menyadarinya.
“Guys, aku kayaknya balik duluan deh. Udah ada yang jemput di depan. Makasih udah mau terima aku gabung bareng kalian ya, see you next time. Bye~”
Dan seperti itulah, Jesse sukses menghindar, menghilang sebelum salah satu dari mereka bertiga sempat mengucapkan barang sepatah kata pun untuk membalas salam pamitnya.
Melenggang meninggalkan mereka dan segera menghilang di balik kerumunan orang. Dari jarak ini, Leevi dapat melihat sosok Jesse benar-benar kembali ke gerbang depan Pasar Malam.
Meninggalkan tiga orang lainnya dalam kecanggungan. Tidak. Sepertinya yang canggung hanya Leevi seorang. Azka tidak pernah melepaskan sikap kasual tak tahu malunya.
Sementara Danish, sejak awal memang sudah santai. Dan gesturnya semakin rileks kala Jesse sudah tak bersama mereka lagi.
Diam-diam, meski masih kesal, Leevi menyimpan rasa kasihan juga pada Jesse. Jika Leevi jadi Jesse, sejak awal ia takkan pernah mau ikut pergi. Bukankah sudah jelas kalau dia takkan dianggap oleh siapa pun, kenapa masih nekat ikut?
Leevi salut. Jesse sama tak tahu malunya seperti Azka.
“Halah, palingan juga yang jemput dia tuh, ojol,” celetuk Azka memecah kebisuan di antara mereka.
Leevi mengalihkan tatapannya sekilas pada Azka demi menangkap celetukan tiba-tiba tersebut. Azka yang menyadari lirikan Leevi peka jika gadis itu sedang mengkhawatirkan Jesse.
Yaj, siapa pun pasti akan berpikiran sama, kata-kata Jesse sebelum menghilang barusan hanyalah gimmick demi menghindar dari berada di kelompok yang jelas-jelas tak menginginkan kehadiranmu bahkan meski hanya satu menit lebih lama lagi.
Diam-diam, Azka makin jatuh cinta pada gadis di sampingnya ini. Padahal tadi jelas-jelas Leevi menyimpan kekesalan pada Jesse. Azka yakin, ada sesuatu yang telah menyinggung hati Leevi. Entah ucapan macam apa yang dilontarkan Jesse di dalam sana. Jesse itu menyebalkan, Azka akui.
Tapi di balik itu semua, Leevi masih bisa bersimpati pada jenis orang seperti itu. Bukankah itu luar biasa? Azka semakin bangga, ia tak salah memilih istri. Ahem.
“Iya. Dia punya jam malam. Efek udah tua tapi masih tinggal bareng ortu. Dan ojol yang aku maksud itu, ya literally ojol,” tambah Azka menjelaskan dengan suka rela.
“Temen dia yang sekarang jadi driver ojol yang nungguin dia di depan,” tambahnya lagi.
Danish yang sedari tadi menyimak percakapan mereka, mulai tertarik.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Kalau driver ojol itu adalah temennya dia?” tanya Danish menyuarakan isi hati.
Azka menatap ogah-ogahan pada Danish. Kentara sekali di wajahnya tertulis bahwa ia enggan menanggapi pertanyaan tersebut. Tapi mau tak mau harus mengesampingkan semua keengganan kala netranya menangkap tatapan ingin tahu yang sama dari Leevi.
“Yaah, soalnya teman ojol itu, teman aku juga,” sahutnya ogah-ogahan, sesekali melirik pada Leevi yang lebih pendek darinya.
“Kalian bertiga berteman?” Leevi tak mampu membendung rasa ingin tahu. Azka mengangguk antusias.
“Teman ojolnya Jesse itu, kebetulan teman satu kantornya kita juga. Mereka tadi siang udah janjian, si ojol mau jemput Jesse di sini jam segini.
Emang udah langganan, sejak dia belum jadi driver ojol sampe sekarang udah jadi driver ojol, dia selalu kebagian tugas anter-jemput Jesse,” jelas Azka panjang lebar. Tatapan matanya berbinar-binar, di matanya hanya ada Leevi.
Semua itu tertangkap jelas oleh Danish. Instingnya mulai bekerja seiring otaknya mengolah data, lantas menganalisis. Ingatannya tiba-tiba melayang pada sebuah pesan singkat yang tak sengaja pernah ia baca di ponsel Leevi.
Sebuah pesan yang isinya cukup mesra kalau mau dibilang hanya dikirim oleh seorang room mate. Apakah ... jangan bilang kalau laki-laki tak tahu malu inilah room mate yang Leevi maksud?
Atau jangan-jangan malah pacar, dan malah sudah tinggal bersama.
Danish bergegas menghalau pikiran-pikirannya yang semakin meliar. Bukankah waktu itu, Leevi bilang bahwa pesan itu hanya dari room mate? Jika memang laki-laki ini punya hubungan lebih, Leevi sudah pasti takkan mau pergi bersamanya.
Semua kecurigaan ini hanya bisa ia simpan dahulu untuk saat ini. Ia harus mencari waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Leevi, bukannya berandai-andai seperti ini.